Valentine's Day

Minggu, 07 Februari 2016
Posted by ROHIS - SMKN 1 CIBINONG
Valentine's Day
(Buletin El-Marjan [Edisi. 3/Th. II)
Oleh: Berry Hardisakha

“Cinta yang tumbuh karena IMAN, AMAL SHALIH dan AKHLAK yang MULIA, akan senantiasa bersemi, tak lekang karena sinar matahari dan tak luntur karena hujan dan tak akan putus meskipun ajal menjemput”

Berbicara tentang Valentine’s Day, siapa yang tidak mengetahui tentang hari Kasih Sayang -katanya- tersebut. Valentine’s Day atau biasa disebut hari kasih sayang yang jatuh pada tanggal 14 Februari. Hari tersebut sangat populer di negara-negara Eropa dan Amerika. Pada hari itu terutama kaum remaja merayakan dengan hura-hura. Mayoritas yang merayakannya adalah orang yang sedang jatuh cinta. Ini pun dianut saat ini dan semakin meluas dikalangan muda-mudi di negeri kita ini. Saat hari tersebut ada yang memberikan coklat kepada kekasihnya atau kado spesial lainnya.

Di Indonesia? Tampaknya tidak jauh berbeda dengan remaja-remaja diluar negeri sana. Mereka yang notabene-nya muslim-muslimah, menjiplak habis-habisan perilaku remaja orang barat. Hal ini, tentu saja sangat memprihatinkan karena kalau dilihat dari latar belakang sejarah perayaan Valentine bukan berasal dari ajaran Islam. Tapi bukan hanya itu masalahnya. Akan tetapi perayaan Valentine selalu dibarengi dengan kegiatan-kegiatan yang mubazir, berbau jahiliyah dan cenderung kepada kemaksiatan.

Secara etimologis Valentine berasal dari kata Valentinus yang artinya adalah suatu kartu ucapan selamat yang dikirimkan kepada orang-orang yang disayangi, baik yang benar-benar disayangi atau pura-pura disayangi. Berdasarkan yang dikutip dari Webster's New 20th Century Dictionary perayaan Valentine berasal dari perayaan Lupercali. Yaitu upacara ritual yang dilakukan oleh orang-orang Romawi kuno setiap tanggal 15 Februari sebagai penghormatan kepada Lupercus dewa padang rumput yang dideskripsikan mempunyai tanduk, kaki, dan telinga seperti kambing. Pada perayaan itu nama-nama wanita dimasukkan kedalam jambangan bunga. Setiap pria yang hadir mengambil secarik kertas. Wanita yang namanya tertera dalam kertas itu menjadi teman kencannya semalam suntuk.

Kemudian pada tahun 469 pihak gereja yakni Paus Celecius merubah menjadi tanggal 14 Februari untuk mengenang kematian seorang pendeta yang bernama Saint Valentine yang tewas sebagai martir pada abad III (martir adalah istilah yang dipakai untuk orang-orang yang mati mem pertahankan prinsip-prinsipnya) dan menetapkan menjadi Saint Valentine's Day. Pastor Valentine ditangkap dan dipenjara karena menentang kebijakan kaisar Romawi (Cladius II) yang melarang pemuda-pemudi untuk menikah. Sang kaisar menginginkan pemuda-pemuda yang lajang untuk menjadi tentara dan pergi berperang. Tetapi sang pastor malah dengan diam-diam menikahkan sepasang muda-mudi. Hal ini diketahui oleh sang kaisar. Bukan main marahnya sang kaisar, akibatnya sang pastor mengakhiri hidupnya dengan tanpa kepala (dipancung) pada tanggal 14 Februari 269.

Ketika pastor Valentine dipenjara, banyak surat-surat simpati dari para pemuda yang sedang kasmaran yang ditujukan kepadanya. Melalui surat itulah mereka mengungkapkan perasaan sayangnya kepada kekasihnya dan berharap mereka bila menikah.

Sebenarnya kalau kita menyadari apa yang sebenaranya terjadi dibalik perayaan Valentine tentulah kita tidak akan berpartisipasi. Allah Subhanahu wa Taala telah berfirman. "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." ( QS. Al-Baqaroh [2]: 120)

Jelas sudah bahwa mereka senantiasa benci kepada kita kecuali kita berpartisipasi pada acara ritual mereka, mode pakaian dan pola pikir yang mereka miliki. Dan perayaan Valentine adalah salah satu sarana mereka untuk memurtadkan kita tanpa kita sadari. Dan media massa seperti koran, tabloid, televisi, radio, majalah dan lain-lain, adalah sarana yang sangat efektif untuk mengkampanye program-program mereka. Jika terlibat didalamnya kita akan dijerumuskan kedalam kemaksiatan tanpa kita sadari.

Dari sini menunjukkan bahwa perayaan Valentine bukan perayaan kaum muslimin, namun termasuk perayaan barat. Perayaan ini pun dimaksudkan untuk mengenang tokoh orang kafir yaitu santo Valentinus. Sehingga kerusakannya yang terlihat jelas adalah tasyabuh (meniru-niru) orang kafir. Nabi 500px-mohamed_peace_be_upon_him-svg secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh). Beliau bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”(HR. Ahmad & Abu Daud).

Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal  perayaan, penampilan dan kebiasaan yang menjadi ciri khas mereka. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).

Perayaan ini adalah acara ritual agama lain. Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta, asalnya adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka. Sehingga dari sisi inilah pemberian hadiah valentine menjadi terlarang.

Dalam pemahaman Islam, kegiatan ritual yang bukan berdasarkan syari’at Islam dan tidak dicontohkan Rasulullah 500px-mohamed_peace_be_upon_him-svg  seperti halnya Natal, Tahun baru Masehi, Imlek dan sebagainya maka harus kita sikapi seperti sikap Rasulullah 500px-mohamed_peace_be_upon_him-svg mensikapi tawaran kaum Quraisy untuk sama-sama melaksanakan ibadah secara Islam dan ibadah jahiliyah secara bergantian. Tawaran tersebut dijawab oleh Allah Subhanahu wa Taala dengan firman-Nya: "Untukmu agamamu dan untukku agamaku". (QS. Al Kaafirun [109]: 6)

Dalam masalah aqidah dan ibadah, Islam mengajarkan kita untuk bersikap tegas. Dengan begitu kemuliaan Islam dan umatnya akan terjaga. Dinul Islam sarat dengan nilai kasih sayang. Bahkan tegaknya Dinul Islam atas dasar kasih sayang.

Coba simak firman Allah Subhanahu wa Taala berikut: "Muhammad itu adalah utusan Allah Subhanahu wa Taala dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah Subhanahu wa Taala dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah Subhanahu wa Taala hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah Subhanahu wa Taala menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Fath [48]:29)

Sejalan dengan itu Rasulullah 500px-mohamed_peace_be_upon_him-svg juga pernah menyampaikan: "Belum sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri"

Kasih sayang dalam Islam bersifat Universal. Ia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, ia juga tidak dibatasi oleh objek dan motif. Kasih sayang diwujudkan dalam bentuk yang nyata seperti silaturahmi, menjenguk yang sakit, meringankan beban tetangga yang sedang ditinpa musibah, mendamaikan orang yang berselisih, mengajak kepada kebenaran (amar ma'ruf) dan mencegah dari perbuatan munkar.
Sudah saatnya pemuda Islam sadar dari keterpurukan dan bangkit menyongsong masa depan yang sudah berada di tangan Islam. Kalau tidak sekarang kapan lagi?, kalau bukan kita?, lalu siapa lagi?.

Masih valentine juga? sebaiknya tidaaaaaaaaak!, say no to valentine.!!

Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com 
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
Pesta Tahun Baru, Pesta Jahiliyah
(Buletin El-Marjan [Edisi. 11/Th. II)
Oleh: O. Solihin [gaulislam.com]

Nuansa perayaan tahun baru sudah mulai terasa seminggu  bahkan dua minggu sebelum tahun baru kemarin. Tradisi tahunan ini selalu menjadi perhatian banyak kalangan, termasuk remaja. Sebenarnya pergantian waktu itu sudah biasa kita alami, tetapi manusia kadang suka menggunakan ukuran waktu tertentu untuk membuatnya menjadi spesial. Baik spesial harinya, maupun spesial dalam merayakannya. Momen pergantian tahun sama saja dengan momen pergantian waktu setiap hari. Adanya hari Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu (ini semua serapan dari kata bahasa Arab) adalah nama-nama hari yang selalu kita lewatkan sepanjang waktu. Jadi sebenarnya tak ada yang begitu spesial dalam urusan ini (dirayakan). Namun dalam pandangan Islam, waktu itu sangat spesial dilihat dari pemanfaatannya dan nilai ibadah. Orang yang tak pandai memanfaatkan waktu, bakalan rugi di kemudian hari karena jatah umurnya kian berkurang. Iya dong. Rugi banget jika selama hidup kita hanya diisi dengan maksiat sampai akhir hayat. Padahal, untuk bekal di akhirat kita membutuhkan amal shalih.

Sobat El Marjan rahimakumullah. Tema untuk mengkritisi tahun baru seperti ini sudah berulang kali dibahas. Insya Allah para pecinta dakwah nggak bakalan bosan ngingetin manusia yang nggak bosan berbuat maksiat. Selama hayat masih dikandung badan, dakwah akan terus digelorakan. Jika bukan karena ingin menggapai ridho Allah Ta’ala untuk menyelamatkan manusia lainnya dari keburukan dan kemungkaran, untuk apa capek-capek ngingetin manusia yang lupa diri dan bangga berbuat maksiat. Jadi, jika EL Marjan kini mengangkat tema ini dan saya yakin banyak kaum muslimin yang paham juga mengangkat tema sejenis akhir-akhir ini—maka itu bagian dari kepedulian dan cinta kepada kamu semua. Jangankan bagi kamu yang masih polos dan suka ikut-ikutan dalam berbuat, bagi mereka yang udah mulai suka ngaji pun kadang kepeleset juga dalam urusan ini. Itu sebabnya, tetap harus hati-hati bin waspada.

Mengapa tak boleh rayakan tahun baru?
Sebagai muslim, kita wajib menjadikan akidah dan syariat Islam sebagai ukuran dan rujukan dalam setiap pendapat dan perbuatan kita sehari-hari. Muslim yang beriman tentunya memiliki perhatian khusus terhadap Islam. Mungkin di antara kamu ada yang bilang, “Kan cuma merayakan biasa aja sama seperti acara lainnya, apanya yang salah?” Ya, alasan itu bisa dijawab begini: “Kan cuma pergantian waktu seperti pada umumnya, kenapa harus dirayakan—bahkan dengan hal-hal yang bernuansa maksiat. Jelas itu kesalahannya.”

Sobat El Marjan, perayaan tahun baru masehi bukanlah warisan ajaran Islam. Selama ini, kaum muslimin generasi terdahulu hingga sekarang yang paham tentang Islam hanya mengetahui dan meyakini bahwa hari raya dalam Islam hanya dua, yakni ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri. Anas bin Malik mengatakan, “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, “Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha” (HR an-Nasa’i No. 1556)

Nah, karena perayaan tahun baru bukanlah ajaran Islam, maka kaum muslimin yang merayakannya dianggap tasyabbuh (menyerupai atau meniru-niru orang kafir) dalam budaya mereka. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan (termasuk budaya dan pendapat-pendapat mereka tentang kehidupan). Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil al-Quran, as-Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).

Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR Muslim, No. 2669)

Nah, di sisi lain, perayaan tahun baru juga bermasalah. Coba aja lihat deh, mereka yang merayakan tahun baru itu rela begadang, menyia-nyiakan waktu, dan bahkan rawan perbuatan maksiat lainnya seperti perzinahan. Orang yang merayakan tahun baru tak sekadar yang turun ke jalan lalu meniup terompet dan menyulut kembang api, tetapi ada juga yang demi merayakan tahun baru malah berzina dengan pacarnya di tempat-tempat tertentu. Seolah, tahun baru menjadi momen spesial bagi mereka. Tetapi sayangnya, yang dianggap spesial itu justru dalam berbuat maksiat.

Manfaatkan waktumu
Ya, waktu ibarat pedang. Setiap detik ia memenggal kesempatan kita, tanpa kenal kompromi. Kejam, kita rasa memang demikian. Tapi alangkah lebih kejamnya lagi apabila kita tidak memanfaatkannya untuk kebaikan. Itu namanya kita menzalimi diri kita sendiri. Sebab, ini persoalan bagaimana kita mengatur waktu yang terbatas yang diberikan oleh Allah Swt. Jangan sampai kita gunakan untuk hal-hal yang nggak ada manfaatnya.

Terbatas? Memang demikian faktanya, kawan. Andai saja usia kita di dunia ini 60 tahun. Maka itulah batas hidup kita di dunia ini. Ukuran panjang dan pendek, adalah hitungan logika kita, tapi tetap pada hakikatnya itu terbatas. Jadi, jangan sia-siakan waktumu.

Sobat El Marjan. Sebagai manusia, kita emang terbatas dan nggak sempurna. Itu sebabnya, kita jangan sampe melupakan siapa kita dan misi keberadaan kita di dunia ini. Ini wajib kita pahami betul, sobat. Kalau nggak? Wah, bisa kacau-beliau tuh. Coba aja perhatiin orang yang nggak sadar siapa dirinya dan misi adanya dia dunia ini, hidupnya suka semau gue. Seakan hidup nggak kenal waktu. Bahkan bagi orang yang kehidupannya diberikan kebahagiaan berlebih oleh Allah, suka lupa dan merasa ia akan hidup selamanya di dunia ini. Apalagi bila kita menjalaninya dengan serba mudah dan indah. Nikmat memang. Namun, sebetulnya kita sedang digiring  ke arah tipu daya yang bakal menyesatkan kita bila kita tak segera menyadarinya. Rasulullah saw bersabda: “Ada dua nikmat, dimana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhari)

Dr Yusuf Qardhawi dalam kitabnya, al-Waktu fii Hayaatil Muslim berwejang, “bila orang melewati satu hari dalam hidupnya tanpa ada suatu hak yang ia tunaikan atau suatu fardhu yang ia lakukan, atau kemuliaan yang ia wariskan, atau pujian yang ia hasilkan, atau kebaikan yang ia tanamkan, atau ilmu yang ia dapatkan, maka sungguh-sungguh ia telah menganiaya dirinya sendiri.”

Belum lagi bahaya yang bakal kita terima saat kita menyia-nyiakan waktu. Paling nggak ada tiga akibat; kekosongan akal, kekosongan hati, dan kekosongan jiwa. Kalo begitu, kita nggak ada bedanya sama “teman-teman” di Ragunan. Ih, amit-amit ya? Jangan sampe deh.

Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.” (QS al-Anfâl [8]: 22)

Begitu pentingnya akal ini, hingga Umar bin Khattab radhiallaahu ‘anhu pernah mengatakan, “Pokok dasar seseorang adalah akalnya, keluhurannya adalah agamanya, dan harga dirinya adalah akhlaknya.” Tuh, catet ya!
Ali bin Abi Thalib ra juga pernah berwasiat kepada putranya, Hasan dan Husein, sesaat sebelum meninggal dunia: “Sesung­guhnya kekayaan yang paling tinggi nilainya adalah akal pikiran. Kemelaratan yang paling parah adalah kebodohan.”

Yang kedua tentang hati. Kata Imam al-Ghazaliy, “hati itu ibarat cermin. Kalo nggak pernah dibersihkan, maka akan berkarat oleh debu. Itu sebabnya, bila kita tidak memanfaatkan waktu untuk mengingat Allah, untuk hadir di majelis-majelis dzikir, hati kita akan kosong. Ujungnya, kita mudah resah, putus asa, frustrasi dan sejenisnya.”

Menyia-nyiakan waktu juga bisa berakibat kosongnya jiwa kita. Sayyid Qutb memberi gambaran: “Itulah jiwa yang kosong, yang tidak pernah mengenal makna serius. Ia bersikap santai meski menghadapi bahaya yang mengintai. Ia bercanda ria di saat membutuhkan keseriusan dan senantiasa meremehkan permasalahan yang suci dan sakral. Jiwa yang kosong dari sikap yang serius dan penuh kesucian, akan meremehkan setiap persoalan yang menyelimutinya, mengalami kegersangan jiwa dan dekadensi moral.”

Tuh, buktinya sekarang. Ketika banyak orang ngasih nasihat agar jangan merayakan tahun baru, ternyata banyak juga yang tak mempedulikannya. Tak lagi dianggap sebagai bentuk peringatan, malah dilecehkan.

Kalo kamu mulai menyia-nyiakan waktumu, maka itu artinya kamu sudah mengarahkan langkah kamu ke dalam jurang kehancuran. Kosong akal, kosong hati, dan kosong jiwa. Kalo udah begitu, alamat kehidupan ini terasa garing dan nggak bermakna. Padahal, kehidupan di dunia ini cuma sesaat dan amat semu. Jadi, mulai sekarang dewasalah Sobat. -Nggak usah ikut-ikutan merayakan tahun baru lagi, nggak ada manfaatnya. Sebaliknya hal itu justru membawa mafsadat (kerusakan) bagi akidah kita, juga kepribadian kita. Hindari dan jauhi pesta jahiliyah tersebut. Ok? Sip!

Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com 
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
mmmmm..... Liburan ^^
(Buletin El-Marjan [Edisi. 10/Th. II)
Oleh: Abid Ramadhan [RDM13]

Libur telah tiba.. horee.. Alhamdulillaah, liburan yang ditunggu tunggu tiba. Siapasih yang gak mau libur atau gak senang kalau musim libur tiba? Masa yang dinanti nanti oleh kita para pelajar dan tentunya oleh para pekerja juga. Bagi kita pelajar, dalam menjalani rutinitas belajar sehari hari disekolah, dari pagi sampai sore, senin sampai jum’at pasti lelaah badan dan pikiran, belum lagi ditambah les or bimbel diluar sekolah. Dan liburan, datang sebagai obat darinya. Haha. Wiih.. liburan sudah seperti sirup dingin penyegar dehh, dikala haus disaat cuaca panas menggiring menuju dehidrasi. Yap, ialah kebutuhan kita untuk menghibur diri atau merefresh diri setelah bergelut dengan rutinitas yang padat keseriusan.

Islam pun sangat menganjurkan kita untuk seimbang dalam hidup. Serius mencari pahala Allah, namun tetap memperhatikan kebutuhan diri. Menuntut ilmu wajib dari masa di gendongan sampai ke liang lahat, namun kita juga butuh refreshing, betul? Yapp, kita memang butuh hiburan atau refreshing tapi yang secukupnya aja, oke!?. Keseriusan yang terus menerus tidak menjadikan diri kita baik, apalagi hiburan atau refreshing yang terus menerus.

Mari kita simak sabda Rasulullah Description: Description: shallahu'alaihi was sallam copy yang memperingatkan kita agar bersikap seimbang dan tidak memberatkan diri: “Sesungguhnya agama ini mudah. Tiada orang yang memberatkan diri dalam urusan agama, kecuali ia akan dikalahkan. Maka mudahkanlah, mendekatlah, bergembiralah, dan gunakan sebaik mungkin waktu pagi, waktu sore dan sebagian waktu malam kalian -untuk memperbanyak kebaikan-.” (HR. Bukhari)

Imam An-Nawawi mengomentari hadits ini seraya berkata: “Orang yang memberatkan diri dalam masalah agama akan dikalahkan oleh agama itu sendiri, ia nantinya akan bosan melaksanakan amalan agama. Gunakan waktu giat kalian untuk taat kepada Allah dengan melaksanakan beragam amal kebaikan. Gunakan saat suasana hati kalian lagi fress untuk meraskan kenikmatan ibadah, sehingga kalian tidak akan merasa bosan, dan kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan.”

Take it easy, Sobat! Bila waktunya serius, maka seriuslah, dan bila tiba waktunya untuk refreshing (ketika mulai jenuh) segeralah refreshkan diri, jangan biarkan kejenuhan bertahan dalam diri kita.
Dengan kejenuhan yang bertahan dalam diri kita, ia dapat melempar kita jauh (menjadi bosan) dari rutinitas kita.

So, sobat yang doyan banget belajar atau kerja, pahami dirimu yaa. Tau kapan hati dan jiwa nya butuh penyegaran, jangan memaksakan diri dalam keseriusan. Keseriusan yang terus menerus tidak menjadikan diri kita baik.
Dan, sobat sobat yang doyan main atau menghibur diri terus, lebih gak baik lagi tuhh. Hiburan, memang kebutuhan kita, tapi bukan alasan untuk menghibur diri terus menerus. Ya masa iyaa sihh, kita jenuh tiap hari? tiap jam? Tiap menit? Kalau setiap hari okelah, namun dengan seimbang yaa, antara tingkat kejenuhannya dengan hiburannya. Dan perlu diingat, bila kita menghibur diri, kemudian belum merasa cukup dan belum belum merasa cukup, hati hati, bisa jadi itu udah terlalu pw dalam menghibur dirinya dan jadi males untuk kembali ke rutinitas. Bahaya tuh, Sobat. Awalnya kebutuhan, kemudian jadi melenakan atau melalaikan.

Ada tiga efek dari liburan atau refreshing. Yang pasti adalah diri kita ter refresh, ya pastilah mas!
Yang pertama, kebutuhan terpenuhi dan bernilai ibadah.
Yang kedua, kebutuhan terpenuhi aja.
Yang ketiga, kebutuhan terpenuhi dan membawa dosa.

Bagaimana bisa dari kebutuhan menjadi pahala? Bisa dong. Suatu kebaikan apabila diiringi dengan do’a dan pengikutan terhadap ajaran Rasulullah Description: Description: shallahu'alaihi was sallam copy akan bernilai ibadah dimata Allah. Yang bagaimana contohnya? Yang pastinya refreshingnya tidak melebihi kebutuhan. Kemudian yang tidak menyalahi syariat Islam.
Kalau kebutuhan terpenuhi saja, seperti kata Imam An-Nawawi : “Rehatkan jiwa kalian dari rutinitas ibadah, dengan melakukan hal yang dibolehkan, yang tidak ada dosa tapi juga tidak berpahala.”

Yang penting tidak membawa keburukan dibalik alasan kebutuhan. Sekedar mengerjakan yang mubah(boleh) saja untuk merefreshkan diri.

Dan kebutuhan terpenuhi dan membawa dosa ini yang buruk, yang harus diwaspadai dihindari!  Waktu liburan kita panjang kan? Satu tahun lho.. dari 2013 sampai 2014, yea ga? Itu berarti kita punya waktu luang banyaak. Bukankah waktu luang ini adalah nikmat dari Allah Description: Description: subhanahu wa ta'ala copy ? Nikmat yang Allah berikan janganlah kita sia-sia kan, apalagi malah menjadikannya pembawa dosa untuk diri kita sendiri.
Rasulullah Description: Description: shallahu'alaihi was sallam copy pernah bersabda berkaitan dengan nikmat yang satu ini : “Ada dua nikmat yang kebanyakan orang tertipu darinya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, no. 6412)

Ya, kebanyakan orang tertipu dan malah bukan makin membaik dengan adanya kesempatan pada waktu luang (liburan). Apalagi kita remaja. “Remaja + waktu luang = permulaan maksiat. Oleh karena itu rencanakan waktu luang anda denganaktifitas yang bermanfaat. Karena syaithan juga merencanakan sesuatu terhadap anda.” Ini saya kutip dari saudara kita sesama agen dakwah. Ya memang benar, karena remaja, sifat umum nya kebanyakan yang masih suka terbawa dan sangat rentan terhasut bisikan bisikan syaithan.
Banyak orangtua mengeluh, ketika liburan anaknya malah malas malasan dirumah. Ada yang sekolah libur, bantu orang tua libur juga. Ada yang hari libur, minta ongkosnya lebih banyak daripada hari sekolah.  Atau malah main gak jelas diluar rumah tanpa sepengetahuan orangtua dan pulang pulang membawa masalah. Dan berbagai macam kasusnya. Naudzubillaah...

Masa liburan, daripada menyusahkan orangtua, mending birrul walidain aja deh dapat pahala. Kita bantu bantu orang tua kita dirumah, atau ajak orangtua berlibur bersama. Karena di saat kita aktif sekolah kita sedikit waktu untuk bersama orangtua. Mumpung libur, waktu luangnya banyaak, mengapa tidak? Katanya I love mom and dad ?
“Seorang hamba pada hari kiamat tiada melangkahkan kedua kakinya sehingga ditanyakan kepadanya empat perkara, yaitu tentang umurnya dohabiskan untuk apa, tentang ilmunya diamalkan untuk apa, tentang hartanya dari manadiperolehnya dan untuk kepentingan apa dihabiskan, serta masa muda dihabiskan untuk apa.” (HR. At Tirmidzi)

Ingat sobat, semua yang kita kerjakan akan dimintai pertanggung jawabnya di depan Sang Pencipta. Dan tiada lagi daya upaya kita untuk berdalih/ngeless seperti saat didunia kepada penagih hutang. Bila amalan kita baik, InsyaAllah masuk syurgaNYA deh.. Aamiin.. Namun, bila amalan kita buruk.. gedebug~ jatuhlah kita ke neraka yang siksanya amat pedih. Hiii.... gak mau kan? Saya juga gak mau.
 “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Qs. Al ‘Ashr[103]:1-3)

Apakah kita termasuk golongan yang merugi? Atau golongan yang beruntung?
Pada masa liburan ini, alangkah baiknya kita menghindarkan diri dari kegiatan yang sia sia. Apalagi yang sudah kelas xii, mempersiapkan untuk UN dan perpindahan masa (masa sekolah menuju kuliah atau kerja). Dan yang kelas x dan xi mempersiapkan diri untuk prakerin dan meningkatkan nilai danatau prestasi untuk kelak mendaftar kuliah atau melamar kerja.

Penyesalan itu selalu datangnya terakhir, sobat! Kata pak Mario: “Ya Iyalah.., kalau lebih awal, namanya pendafatraan”

Sobat! Sebelum kita mendapati diri kita menyesal, sebelum nasi menjadi bubur, sebelum matahari terbit dari barat. Kerjakan yang bermanfaat sebelum itu itu semua, dan pikirkanlah dalam perencanaannya.

Dan dalam acara liburan, patut kita pikirkan supaya tiada penyesalan diakhirnya..
apakah sudah menyiapkan kegiatan kegiatan yang akan dilakukan?
Sudah kah menentukan kegiatan kegiatan yang bermanfaat?
Sudahkah merencanakan kegiatan kegiatan yang menghindarkan diri kita dari perbuatan sia-sia lagi membawa dosa?

Ingaat! Sobat! Refreshing boleh boleh saja, asalkan tidak melebihi kebutuhan, dan tidak membawa keburukan atau dosa, apalagi sampai menyalahi syariat Islam.
So? Ayo kita cek lagi kegiatan kegiatan liburan kita, termasuk yang manakah liburan kita? Yang membawa pahala? Yang biasa biasa saja? Atau malah menambah dosa?
Wallaahu a'lam bisshowab...

Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com 
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
Temanku Membawaku ke Syurga
(Buletin El-Marjan [Edisi. 09/Th. II)
Oleh: Abid Ramadhan [RDM13]

Alhamdulillaah.. Buletin El Marjan terbit lagi. Minggu kemarin buletin El Marjan membahas tentang ‘Move On’, bagaimana bangkit dari kegalauan yang mengoncang diri -wow- yang cara caranya disebutkan : Mengingat Allah Description: Description: subhanahu wa ta'ala copy , Mengikuti Majelis Ilmu , Ikut Organisasi , Membaca buku yang memotivasi dan menemukan hobby yang positif. Wihh dah hebat deh tuh cara cara nya, caranya yaa yang hebat. Hehe. Kita? Ya tinggal Take Action nya aja dari cara cara yang hebat ntu, ya masa cuma dibaca sihh. Kalau hanya dibaca mah yaa nempel di kepala paling juga gak lama ya gak? Tapi kalau dah Take Action, InshaAllah amalnya tercatat dalam catatan amal baik oleh Malaikat pencatat, yang catatannya permanen hingga hari Akhir. Semoga catatan Amal kebaikan Kita lebih banyak dari catatan keburukan kita ya sobat. Aamiin..

Judul buletin edisi 9 ini, “Teman membawaku ke syurga” . Yap, pembahasan dalam buletin El Marjan kali ini bertema “Teman”. Penulis ambil tema ini karena prihatin dengan kondisi pemuda pemudi sekarang yang makin lama makin bikin pemanasan global makin menjadi. Lho? Bagaimana bisa?. Ya, bisa, dengan keburukan keburukan yang dibagikan atau diajarkan merata ke generasi generasi penerus sudah seperti pembagian sembako, pada ngantri tuh generasi generasi baru karena ter iming imingi oleh kesenangan. Sobat pasti juga merasakan. Ya, karena ini terjadi tidak jauh dari kita, ini terjadi dekaat dengan kita, ini terjadi dilingkungan kita hidup dilingkungan kita melakukan aktivitas aktivitas sehari hari. Keburukan keburukan yang terjadi akibat hasutan teman ajakan teman terkontaminasi oleh teman ikut ikutan dengan teman dsb yang berawal dari teman dan menambah dosa yang sama saja menambah dunia jadi panas, yea gak?. Sobat, Baginda Rasulullah memberikan perumpamaan, “Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (shalih/shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau membeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap”. (Riwayat Bukhari, kitab Buyuu’, Fathul Bari 4/323 dan Muslim kitab Albir 4/2026)

Mari kita memilah & memilih dalam berteman (bukan pilih-pilih). Seperti apakah teman yang baik?
Sebelumnya, apasih yang sobat pikirkan mengenai teman? Apasih teman itu? Apasih perananya dikehidupan kita? Sekedar seorang yang bisa menghabiskan waktu bersamakah? Menghabiskan waktu bersama untuk bersenang senang? Ayoo Kita pikirkan lagi. Peranan teman sebenarnya lebih dari sekedar berbagai sudut pandang yang dangkal. Tahukah? Teman dapat membawa kita ke syurga? Ya, teman dapat membawa kita ke Syurga, apabila teman Kita bukanlah teman yang sekedar seorang yang menghabiskan waktu bersama, bukan sekedar yang dapat bermain bersama, tetapi teman yang dapat menjadikan Kita bersemangat dan atau membantu kita melakoni amalan amalan yang dapat memicu syurgaNYA.

“Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah teman dekatnya.” (HR. Ahmad)

Makna hadist di atas adalah seseorang akan berbicara dan berperilaku seperti kebiasaan temannya. Karena itu Rasulullah Description: shallahu'alaihi was sallam copy mengingatkan agar kita cermat dalam memilih teman. Kita harus kenali tabiatnya, akhlaknya. Bila ia Shalih, ya jadikanlah ia teman kita.
Nah dari situ, kira kira seperti apa ya kriteria teman yang baik itu? Ada tuh disitu jawabannya.. “Yang shalih!” Yapp betul.. Dengan berteman dengan orang yang shalih, kita akan kecripatan keshalihannya juga, InshaAllah. Bukalah pintu hati kita, supaya sifat 
sifat baik dapat kita terima dan menjadi sifat kita.

Orang yang shalih senantiasa senang mendapatkan teman. Orang shalih senang bila temannya bertambah karena merasa menambah pula orang yang akan mengingati nya apabila ia berbuat salah. Dan juga sebagai pengamalan Surat Al ‘Ashr yang berbunyi “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Qs. Al ‘Ashr[103]:1-3)

Orang yang shalih akan mencintaimu karena Allah, Ia tidak akan mengharapkan keuntungan dari mu. Karena, hanya ridho Allah lah yang ia inginkan. Ia senantiasa akan membawa mu ke Syurga karena-NYA. Dengan pancaran cahaya kebaikan kebaikan yang ia kerjakan yang akan menerangi kita hingga kita pun akan terbawa untuk ikut menjadi terang seperti dirinya. Laksana pembawa minyak wangi, ia mencipratkan minyak wanginya kepada kita, hingga wangi pula lah diri kita sepertinya. Dan tahukah? Orang yang saling mencintai karena Allah, akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-NYA.

Rasulullah Description: shallahu'alaihi was sallam copy bersabda :
 “Sesungguhnya pada hari kiamat Allah berseru, “Dimana orang-orang yang saling mencintai karena keagunganKU? Hari ini Aku berikan baginya naungan di hari tidak ada lagi naungan selain naungan-KU”” (HR. Muslim)

Orang shalih senantiasa akan menyebabkan hati kita nyaman, tenang, tentram apabila kita di dekatnya. Apakah ia menyebarkan kesejukan yang menghilangkan gerah seperti air conditioner? Ohh, bukan begitu. Tapi begini,. Ia senantiasa mengingatkan kita kepada Allah dengan ucapan ucapan baik yang keluar dari mulutnya atau dengan perilakunya atau bahkan hanya dengan bersamanya dengan melihat wajahnya yang seolah olah memancarkan cahaya ilahi dan merasuk kedalam qolbu kita dan mengingatkan kita kepada Allah selalu. Yang mana, hanya dengan mengingat Allah lah hati kita akan nyaman tenang tentram.
“Orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati akan menjadi tentram” (Qs.Al Ra’d[13]:28)

Syafa’at dari teman yang shalih. Diriwayatkan, bahwa Apabila penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan Sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di Dunia, mereka bertanya tentang Sahabat Mereka kepada Allah.
“Yaa Rabb.. Kami tidak melihat Sahabat-sahabat kami yang sewaktu di Dunia Shalat bersama kami, Puasa bersama kami dan berjuang bersama kami,”

Maka Allah Description: Description: subhanahu wa ta'ala copy berfirman: “Pergilah ke neraka, lalu keluarkan Sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar dzarrah.” (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab “Az-Zuhd”)
Imam besar Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Perbanyaklah Sahabat-sahabat Mu’min-mu, karena Mereka memiliki Syafa’at pada hari kiamat.”

Sobat, mari kita perbanyak teman kita. Namun, bukan teman sembarang teman. Bukan seberapa banyak teman kita yang penting. Yang paling penting dalam berteman ialah, seperti apa kualitas teman yang kita miliki? seberapa banyak teman kita yang shalih? apakah perubahan diri kita setelah memiliki teman.?
Ulangi sedikit. Bila ingin perubahan baik, maka bertemanlah dengan orang yang baik (shalih) yang membawa kita ke Syurga-NYA, dan janganlah berteman dengan teman yang buruk yang malah akan menjatuhkan kita ke Neraka.
Teman yang buruk, ialah teman yang bukan mendekatkan kita kepada Allah, tetapi malah menjauhkan kita dari Allah. Yang membutakan kita dari tujuan hidup kita sebenarnya dengan menghabiskan waktu dalam kesenangan yang sia sia. Yang seperti inilah yang akan menjatuhkan kita ke Neraka. Sobat, mari kita renungkan pertemanan kita.
“Teman seperti apakah yang buruk?” Imam Ali Description: radiallahu'anhu copy menjawab: “Orang yang menampilkan maksiat dengan penampilan yang indah.” Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqih, jil. 4, hal. 381.

Teman yang buruk akan melalaikanmu dengan kesenangan, membuat menghabiskan waktu untuk hal yang sia sia, menyepelekan hal hal kecil, menghasutmu untuk melakukan perbuatan perbuatan keji kecil bahkan yang besar dengan menjanjikan kesenangan kesenangan yang fana. Sungguh teman yang seperti itu hanya akan menjadikan diri kita merugi, dan lebih baik bila kita memiliki musuh namun menjadikan diri kita dekat kepada Allah.
“Jika ada musuh yang mendekatkanmu kepada Allah, maka hal itu lebih baik dari pada teman akrab yang menjauhkanmu dari Allah.”   (Abul Hasan as-Sadzili)

Sobat, Berhati-hati lah dalam memilih teman. Jangan sampai kita terhasut oleh teman kita sendiri untuk melakukan keburukan keburukan dan Allah menghukum kita dengan menjadikan diri kita lupa diri kita sendiri.
Seperti ucapan seorang Syaikh Al Qur’an terkenal asal Mesir :
“Hukuman paling berat atas seseorang adalah bila Allah Description: Description: subhanahu wa ta'ala copy menjadikan ia lupa pada dirinya sendiri. Sebab bila seseorang lupa pada dirinya sendiri, maka ia akan terjerumus pada kenistaan, tapi ia merasa telah melakukan kebaikan.” (Muhammad Ar Rawi)

Baarakallah.
Semoga Bermanfaat.

Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com 
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
Cakep itu Jujur!
(Buletin El-Marjan [Edisi. 08/Th. II)
Oleh: Abid Ramadhan [RDM13]

Nyontek adalah budaya, benarkah?
Nyontek! Nyontek yang akan dibahas di buletin ini, ialah mencontek dalam hal ujian pendidikan.
Sebenarnya menyontek adalah suatu hal yang mungkin bahkan bukan mungkin lagi, tapi sudah sangat sering atau setidaknya pasti pernah dilakukan oleh orang-orang yang sempat menginjak bangku sekolah. Dan sudah sangat tidak awam lagi di telinga kita kata ‘nyontek’ atau bahkan pada era globalisasi ini sering juga diperindah dengan kata ‘cheating’ walau sebenarnya adalah bahasa asing dari kata menyontek itu sendiri.
Mendengarnya mungkin orang bisa langsung berpikiran negatif mengenai kegiatan yang satu ini, tentu saja, menyontek merupakan kegiatan kecil yang dilakukan saat tidak dapat melakukan apa-apa lagi terhadap suatu masalah yang berujung dengan melihat atau bisa disebut pula mencuri ide/pikiran orang lain, bisa dibilang menyontek adalah contoh sederhana dari kejahatan besar seperti menjimplak karya orang yang berarti mencuri.
Yaa, mungkin tidak sekejam itu namun pada kenyataannya kegiatan yang sering dikaitkan dengan ujian atau pelajar ini memiliki arti yang sama dengan semacam penjimplakan. Biasanya para pelaku yang pernah menyontek saat ujian mengaku ia tidak bisa menjawab soal sehingga berakhir dengan melirik jawaban teman, baik diketahui bahkan yang tidak diketahui sama sekali.
Herannya, sering terjadi pengabaian terhadap larangan untuk mencontek disaat ujian yang pengawas selalu mengucapkan kalimat peringatan yang sudah seperti kalimat pembuka dalam setiap ujian, “Kerjakan Masing-masing”. Bahkan, hingga soal berpaket meluncur turun tangan menghadapi para pelajar ataupun persilangan antar angkatan dalam satu kelas atau paper less untuk memperkecil kesempatan peserta untuk berbuat curang atau mencontek. Namun masih saja, makin canggih sistem ujian, makin canggih pula pelajarnya dalam kegiatan mencontek. Mengapa makin diingatkan makin mengabaikan ? Mengapa makin diperbaharui sistem ujiannya makin beragam cara cara curangnya ? Seakan akan kegiatan ‘nyontek’ sudah seperti budaya yang terus hidup mengikuti perkembangan zaman dan selalu mengiringi pelaksanaan ujian pendidikan. Masih bertanya? Benarkah ‘nyontek’ sudah seperti budaya? coba tanyakan pada diri kita masing masing, “berapa kali terulang diri kita mencontek?”. Bila sudah berulang ulang, ya bisa jadi kita telah menjadi korban budaya ‘mencontek’.
Dan memanglah tidak dapat kita pungkiri lagi, kita dapat lihat kenyataannya di setiap ujian pasti ada aja pelaku kegiatan ‘nyontek’ atau setidaknya ada saja yang gelisah saja perilakunya dan berusaha melakukan perbuatan yang tidak jauh dari mencuri/menjiplak/menipu ini. Hmm... ya, memang sudah menjadi budaya yaah. Namun, sayangnya budaya kurang atau bahkan kita dapat sebut itu tidak yang baik.

Mengapa Nyontek?
Alasan utama mengapa mencontek kebanyakan adalah karena tidak siap mengikuti ulangan atau ujian. Pertanyaan menggelitik terus saya lontarkan. Mengapa tidak siap?
Jawabnya karena tidak belajar. Mengapa tidak belajar? Nahh, Ini nih yang harus diselidiki. Tanyakan pada diri Kita sendiri, “Mengapa saya tidak belajar? Bukankah ingin sukses dunia akhirat?”
Sebenarnya tidak ada alasan yang pantas untuk dijadikan alasan untuk mencontek. Why? Okee.. Lanjut baca dulu..

Boleh gak sihh?
Sudah sangat sering kita dengar “Kerjakan masing masing!”, “Jangan lirik kanan-kiri!”
Dan yang to the poin “Jangan Nyontek!”. Jangan jangan dan jangan. Pasti pahamlah apa arti kata “Jangan”. Jangan ialah kata yang digunakan untuk menyatakan dilarangnya suatu kegiatan. Dan “Jangan Nyontek” berarti perbuatan nyontek itu dilarang.
Dan bagaimana hukumnya dalam Islam?
Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang menipu kami maka ia bukan termasuk golongan kami; pembuat makar dan tipu daya akan masuk neraka” (HR Thabrani dengan sanad yang baik dan HR Ibnu Majah dalam shahih-nya).
Jelaskan? Semua bentuk penipuan dilarang keras oleh Rasulullah SAW, bahkan langsung diancam oleh neraka. Mencontek jelas menipu, maka akhirnya jelas neraka. Kecuali bagi yang bertaubat dan berhenti dari segala bentuknya.
Allah dalam QS Al-Baqarah 2:9 berfirman:
يخادعون الله والذين آمنوا وما يخدعون إلا أنفسهم وما يشعرون
Artinya: “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”
Jadi, ‘nyontek’ atau ‘mencontek’ hukumnya haram karena termasuk perilaku tipu daya, penipuan baik kepada orang lain maupun pada diri sendiri. Mencontek saat ujian adalah perilaku tipu daya yang tidak bertanggung jawab yang memiliki dampak besar di masa depan.
Nyontek adalah perilaku korup yang harus segera dihentikan dan diganti dengan kejujuran dan kerja keras, dan tak boleh dilupakan pula do’a serta tawakal kepada Allah.

Nyontek itu rugi loh!
Tahukah kamu? Bahwa mencontek itu membawa banyak penyakit dan membawa keburukan. Apa penyakitnya? Apa keburukannya?
Penyakit penyakit yang dibawa oleh kegiatan mencontek yaitu malas berfikir , rasa kurang percaya diri , keterbiasaan bergantung kepada oranglain , dll... Sebenarnya masih banyak namun tiga dulu aja.
Merasa enak dapat menjawab soal ujian tanpa berfikir, kemudian kita melakukannya terus menerus karena merasa enak dan akhirnya kita melupakan sesuatu. Apa yang Kita lupakan? Kita lupa bahwa kita memiliki otak yang berfungsi untuk berfikir. Ya, sebenarnya kita sudah sadar kita memiliki otak, namun tidak mempergunakannya dengan baik dan benar ialah bentuk perilaku yang mencerminkan kita tidak bersyukur dan melupakan bahwa kita memiliki sarana berfikir yang telah Allah berikan. Malas berfikir, jarang memakai otak dengan baik dan benar lama kelamaan akan berujung kepada kebodohan. Itulah penyakit malas berfikir yang dibawa oleh kegiatan ‘mencontek’ atau ‘nyontek’, yang sama dengan menggiring diri sendiri kepada kebodohan.
Dan mencontek dapat menjadikan Kita ragu terhadap setiap jawaban sendiri yang padahal hasil dari belajar kita sendiri tetapi kita lebih mempercayai jawaban oranglain, karena merasa jawaban orang lain lebih benar daripada jawaban kita. Saya ulangi lagi, Sikap ini, sikap lebih mempercayai jawaban orang lain daripada hasil belajar sendiri dapat menjadikan kita orang yang selalu memiliki keraguan dalam menghadapi soal soal ujian dan akhirnya melirik jawaban teman. Dan itu menjadikan kita bergantung kepada jawaban teman, karena merasa ragu dengan jawaban sendiri. Dan sudahlah, tertanam penyakit rasa kurang percaya diri dan keterbiasaan bergantung kepada oranglain pada diri kita bila membiasakan diri mencontek.
Tiada kepuasan dari nilai yang didapat, karena sejatinya jawaban jawaban dari hasil mencontek bukanlah milik kita, bukan hak kita, itu adalah hasil belajar temanmu. Maka, nilai bagus yang Kita dapat dari hasil mencontek pun sejatinya bukan nilai kita. Samalah dengan Kita tidak ikut serta dalam ujian bila kita bukan mengerjakan ujian kita sendiri, karena ujian itu wadah untuk mengukur sejauh mana pemahaman kita(diri sendiri, masing masing individu) atas apa yang telah dipelajari selama di masa sekolah. Kepalsuanlah yang kita dapat bila hasil yang didapat bukan murni jawaban apa yang telah kita pelajari.
Terjangkit penyakit malas berfikir , rasa kurang percaya diri , keterbiasaan bergantung kepada oranglain , Menggiring diri sendiri kepada kebodohan, tidak akan mendapatkan kepuasan atas nilai yang didapat, Itulah beberapa kerugian dari mencontek yang dijelaskan di atas.

Mari Kita bersihkan diri
Kawan, yang pernah mencontek walapun sedikit atau pernah senang mencontek atau bahkan masih senang dan masih dilakoni hingga kini. Mari, kita bersihkan diri kita dari kegiatan yang tak lain hanya membawa kemudharatan. Mari bersihkan diri kita, sucikan nilai kita, menjauhi segala laranganNYA.
Menghentikan diri dari kebiasaan mencontek
Untuk menghindar dan berhenti dari kebiasaan nyontek yang pertama dan utama adalah niat dan komitmen untuk berhenti nyontek apapun yang terjadi. Setelah itu ikuti langkah-langkah berikut:
  1. Menyadari bahwa hidup yang bermartabat, terhormat dan membahagiakan dalam jangka panjang itu adalah hidup yang penuh kejujuran. Betapapun beratnya kejujuran itu.
  2. Menyadari bahwa hasil dari mencontek adalah kepalsuan. Bagaimanapun tingginya prestasi yang dicapai darinya.
  3. Menyadari bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kerja keras dan saat memetik hasil dari jerih payah sendiri. Betapapun hasil yang dicapai di bawah harapan kita.
Berteman dengan orang-orang jujur dan pekerja keras dan menjauh dari lingkungan teman-teman yang suka menyontek.
Wal akhiru kalam.
Semoga Kita dapat menjadi pribadi yang jujur dan amanah.
Semoga bermanfaat.

Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com 
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
Welcome to RDM's Blog

sahabat rdm

@RohisDM_cbn

COPYRIGHT © 2014 ROHIS - DAARUL MU'ALLIMIN

DESIGNED BY : DEPARTEMEN HUMAS