Persiapan termasuk satu hal penting diantara hal lainnya dalam upaya meraih keberhasilan, apalagi waktu menuju UN tidaklah jauh lagi. Kesuksesan selalu diawali dengan kerja keras (cerdas) dan persiapan yang matang. Dalam sebuah kitab karya Ali Bin Naif as-Syahudi dikatakan:
فَمَنْ كَانَ لَدَيْهِ الْقُدْرَةِ وَالْاِسْتِعْدَادِ لِلْعَمَلِ سَوْفَ يَنْجَحْ
“Barangsiapa yang mempunyai kemampuan dan persiapan matang untuk melakukan sesuatu, maka dia akan berhasil.”
---
“Siapa yang paling berjasa dalam hidup Anda?”
Apa hubungannya pertanyaan tersebut dengan tips menghadapi UN. Jawabannya adalah sangat dekat. Hal ini disebabkan, jawaban yang muncul dari pertanyaan tersebut akan menentukan langkah apa yang harus dilakukan demi sukses UN tersebut.
Tanpa bermaksud menafikan peran dan jasa pihak yang lain dalam kesuksesan, yang paling berjasa dan berperan dalam kehidupan setiap peserta didik adalah Allah, orang tua, dan guru.
Allah adalah Dzat tempat berharap, Dzat tempat memohon, Dzat yang mengatur kehidupan manusia, Dzat yang memberi keberhasilan dan kegagalan, dan Dzat yang mampu merubah nasib manusia. Adapun orang tua merupakan orang yang berjasa besar dalam proses kehidupan kita, sejak dalam kandungan hingga dewasa. Keberadaan mereka sangat tinggi dan mulia dalam pandangan Allah. Karena mempunyai kedudukan yang tinggi tersebut, Allah memerintahkan setiap anak untuk berterima kasih kepada mereka pada urutan kedua setelah Allah. Dan juga keridho-an ataupun kemurkaan Allah kepada setiap anak manusia sangat ditentukan oleh keridho-an dan kemurkaan kedua orang tua.
Sedangkan guru adalah orang yang dengan sabar, telaten, gemati, dan penuh tanggung jawab mendidik dan mentransfer ilmunya kepada kita dalam proses pendidikan yang kita lakukan. Mereka, para guru, mendedikasikan segalanya demi keberhasilan pendidikan dan juga keberhasilan para siswa yang dibimbingnya.
---
Tips Islami Menghadapi Ujian Nasional
Setelah mengetahui pihak yang paling berjasa dan berperan dalam sukses kita, sekarang marilah kita berbicara tentang tips islami dalam meraih keberhasilan UN. Agar setiap peserta didik sukses dalam UN-nya, maka satu hal yang harus dilakukan adalah: perlakukan mereka yang berperan dan berjasa dalam kehidupan dengan semestinya! Tips islami yang saya maksud dalam menghadapi UN adalah bagaimana kita memperlakukan pihak-pihak yang berjasa dan berperan dalam kehidupan kita sebagaimana seharusnya.
Kepada Allah kita harus:
1⃣ Menghamba kepada-Nya dengan beribadah secara sungguh-sungguh. (memperbanyak shalat sunnah, puasa sunnah, dsb)
2⃣ Memuji-Nya dengan ikhlas.
3⃣ Memohon kepada-Nya dengan khusyu’ dan penuh harap.
4⃣ Mencari ridho Allah dengan banyak berbuat kebaikan di dunia, termasuk banyak bershadaqah.
5⃣ Bertawakkal kepada-Nya setelah berusaha dengan sungguh-sungguh.
Dalam berdoa pergunakan waktu-waktu yang baik, misalnya adalah saat selesai shalat dan pada sepertiga malam yang terakhir sehabis menjalankan shalat tahajud. Sepertiga malam yang terakhir adalah waktu yang paling baik untuk berdoa.
Kepada orang tua kita harus:
1⃣ Mencari ridho mereka. Artinya, kita tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan orang tua marah, murka dan mengata-ngatai (mengutuk) kita dengan kata-kata yang buruk. Ingat kata-kata yang terucap dari mulut kedua orang tua kita (terlebih ibu) kepada kita dianggap oleh Allah sebagai sebuah permintaan dan sangat mudah untuk dikabulkan oleh Allah. Maka kita harus selalu melakukan hal-hal positif yang dapat menyebabkan orang tua bangga, bahagia dan ridho kepada kita.
Ridho orang tua dapat diperoleh dengan:
🔹 Berbuat baik kepada keduanya.
🔹 Menghindari kedurhakaan kepada keduanya.
🔹 Segera mohon maaf atas kesalahan kita serta mohon dido’akan.
Kata-kata orang tua (khususnya ibu) untuk anak-anaknya dianggap oleh Allah sebagai doa dan sangat makbul (mudah dikabulkan oleh Allah).
“Ridho Allah tergantung kepada ridho kedua orang tua dan murka Allah juga tergantung kepada murka kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi)
Kepada guru kita harus:
1⃣ Menghormati dan menghargainya.
2⃣ Mengerjakan tugas yang diberikan.
3⃣ Menjadikannya sebagai guru, di dalam maupun di luar sekolah.
4⃣ Segera meminta maaf atas kesalahan yang kita perbuat.
---
Peran diri sendiri
Siswa juga memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan UN. Hal-hal yang dirasa perlu untuk dikerjakan demi sukses dalam ujian nasional (UN) adalah antara lain:
🔹 Kerja keras.
🔹 Sungguh-sungguh.
🔹 Pantang menyerah.
🔹 Menentukan target.
🔹 Tidak mudah mengeluh.
🔹 Menghindari kemalasan.
🔹 Senantiasa berdo’a.
Dalam sebuah pepatah Arab dikatakan :
مَنْ جَدَّ وَجَدَ
“Siapa yang giat, sungguh-sungguh (kerja keras dan cerdas) dia yang dapat.”
Demikian tips Islami bagaimana sukses UN tahun ini, semoga bemanfaat bagi semuanya :)
Sumber: misbahulmunirsetiawan.blogspot.com
Mari sebarkan pesan bermanfaat ini 😊
---
📚 Departemen Tarbiyah Dakwah dan Humas Rohis Daarul Mu'allimin 📚
📷 IG: @rohisdm_cbn
🌎 Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.co.id/
#RDM17 #SahabatBermanfaat #AyoMentoring #AyoIkutRohis
فَمَنْ كَانَ لَدَيْهِ الْقُدْرَةِ وَالْاِسْتِعْدَادِ لِلْعَمَلِ سَوْفَ يَنْجَحْ
“Barangsiapa yang mempunyai kemampuan dan persiapan matang untuk melakukan sesuatu, maka dia akan berhasil.”
---
“Siapa yang paling berjasa dalam hidup Anda?”
Apa hubungannya pertanyaan tersebut dengan tips menghadapi UN. Jawabannya adalah sangat dekat. Hal ini disebabkan, jawaban yang muncul dari pertanyaan tersebut akan menentukan langkah apa yang harus dilakukan demi sukses UN tersebut.
Tanpa bermaksud menafikan peran dan jasa pihak yang lain dalam kesuksesan, yang paling berjasa dan berperan dalam kehidupan setiap peserta didik adalah Allah, orang tua, dan guru.
Allah adalah Dzat tempat berharap, Dzat tempat memohon, Dzat yang mengatur kehidupan manusia, Dzat yang memberi keberhasilan dan kegagalan, dan Dzat yang mampu merubah nasib manusia. Adapun orang tua merupakan orang yang berjasa besar dalam proses kehidupan kita, sejak dalam kandungan hingga dewasa. Keberadaan mereka sangat tinggi dan mulia dalam pandangan Allah. Karena mempunyai kedudukan yang tinggi tersebut, Allah memerintahkan setiap anak untuk berterima kasih kepada mereka pada urutan kedua setelah Allah. Dan juga keridho-an ataupun kemurkaan Allah kepada setiap anak manusia sangat ditentukan oleh keridho-an dan kemurkaan kedua orang tua.
Sedangkan guru adalah orang yang dengan sabar, telaten, gemati, dan penuh tanggung jawab mendidik dan mentransfer ilmunya kepada kita dalam proses pendidikan yang kita lakukan. Mereka, para guru, mendedikasikan segalanya demi keberhasilan pendidikan dan juga keberhasilan para siswa yang dibimbingnya.
---
Tips Islami Menghadapi Ujian Nasional
Setelah mengetahui pihak yang paling berjasa dan berperan dalam sukses kita, sekarang marilah kita berbicara tentang tips islami dalam meraih keberhasilan UN. Agar setiap peserta didik sukses dalam UN-nya, maka satu hal yang harus dilakukan adalah: perlakukan mereka yang berperan dan berjasa dalam kehidupan dengan semestinya! Tips islami yang saya maksud dalam menghadapi UN adalah bagaimana kita memperlakukan pihak-pihak yang berjasa dan berperan dalam kehidupan kita sebagaimana seharusnya.
Kepada Allah kita harus:
1⃣ Menghamba kepada-Nya dengan beribadah secara sungguh-sungguh. (memperbanyak shalat sunnah, puasa sunnah, dsb)
2⃣ Memuji-Nya dengan ikhlas.
3⃣ Memohon kepada-Nya dengan khusyu’ dan penuh harap.
4⃣ Mencari ridho Allah dengan banyak berbuat kebaikan di dunia, termasuk banyak bershadaqah.
5⃣ Bertawakkal kepada-Nya setelah berusaha dengan sungguh-sungguh.
Dalam berdoa pergunakan waktu-waktu yang baik, misalnya adalah saat selesai shalat dan pada sepertiga malam yang terakhir sehabis menjalankan shalat tahajud. Sepertiga malam yang terakhir adalah waktu yang paling baik untuk berdoa.
Kepada orang tua kita harus:
1⃣ Mencari ridho mereka. Artinya, kita tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan orang tua marah, murka dan mengata-ngatai (mengutuk) kita dengan kata-kata yang buruk. Ingat kata-kata yang terucap dari mulut kedua orang tua kita (terlebih ibu) kepada kita dianggap oleh Allah sebagai sebuah permintaan dan sangat mudah untuk dikabulkan oleh Allah. Maka kita harus selalu melakukan hal-hal positif yang dapat menyebabkan orang tua bangga, bahagia dan ridho kepada kita.
Ridho orang tua dapat diperoleh dengan:
🔹 Berbuat baik kepada keduanya.
🔹 Menghindari kedurhakaan kepada keduanya.
🔹 Segera mohon maaf atas kesalahan kita serta mohon dido’akan.
Kata-kata orang tua (khususnya ibu) untuk anak-anaknya dianggap oleh Allah sebagai doa dan sangat makbul (mudah dikabulkan oleh Allah).
“Ridho Allah tergantung kepada ridho kedua orang tua dan murka Allah juga tergantung kepada murka kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi)
Kepada guru kita harus:
1⃣ Menghormati dan menghargainya.
2⃣ Mengerjakan tugas yang diberikan.
3⃣ Menjadikannya sebagai guru, di dalam maupun di luar sekolah.
4⃣ Segera meminta maaf atas kesalahan yang kita perbuat.
---
Peran diri sendiri
Siswa juga memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan UN. Hal-hal yang dirasa perlu untuk dikerjakan demi sukses dalam ujian nasional (UN) adalah antara lain:
🔹 Kerja keras.
🔹 Sungguh-sungguh.
🔹 Pantang menyerah.
🔹 Menentukan target.
🔹 Tidak mudah mengeluh.
🔹 Menghindari kemalasan.
🔹 Senantiasa berdo’a.
Dalam sebuah pepatah Arab dikatakan :
مَنْ جَدَّ وَجَدَ
“Siapa yang giat, sungguh-sungguh (kerja keras dan cerdas) dia yang dapat.”
Demikian tips Islami bagaimana sukses UN tahun ini, semoga bemanfaat bagi semuanya :)
Sumber: misbahulmunirsetiawan.blogspot.com
Mari sebarkan pesan bermanfaat ini 😊
---
📚 Departemen Tarbiyah Dakwah dan Humas Rohis Daarul Mu'allimin 📚
📷 IG: @rohisdm_cbn
🌎 Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.co.id/
#RDM17 #SahabatBermanfaat #AyoMentoring #AyoIkutRohis
Pesta Tahun Baru, Pesta Jahiliyah
Minggu, 07 Februari 2016
Posted by ROHIS - SMKN 1 CIBINONG
Tag :
Artikel,
baru,
Buletin,
Dept. Humas,
Dept. Tarbiyah Dakwah,
El-Marjan,
jahiliyah,
pesta,
tahun
Pesta Tahun Baru, Pesta Jahiliyah
(Buletin El-Marjan [Edisi. 11/Th. II)
Oleh: O. Solihin [gaulislam.com]
Nuansa
perayaan tahun baru sudah mulai terasa seminggu
bahkan dua minggu sebelum tahun baru kemarin. Tradisi tahunan ini selalu
menjadi perhatian banyak kalangan, termasuk remaja. Sebenarnya pergantian waktu
itu sudah biasa kita alami, tetapi manusia kadang suka menggunakan ukuran waktu
tertentu untuk membuatnya menjadi spesial. Baik spesial harinya, maupun spesial
dalam merayakannya. Momen pergantian tahun sama saja dengan momen pergantian
waktu setiap hari. Adanya hari Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan
Sabtu (ini semua serapan dari kata bahasa Arab) adalah nama-nama hari yang
selalu kita lewatkan sepanjang waktu. Jadi sebenarnya tak ada yang begitu
spesial dalam urusan ini (dirayakan). Namun dalam pandangan Islam, waktu itu
sangat spesial dilihat dari pemanfaatannya dan nilai ibadah. Orang yang tak
pandai memanfaatkan waktu, bakalan rugi di kemudian hari karena jatah umurnya
kian berkurang. Iya dong. Rugi banget jika selama hidup kita hanya diisi dengan
maksiat sampai akhir hayat. Padahal, untuk bekal di akhirat kita membutuhkan
amal shalih.
Sobat
El Marjan rahimakumullah. Tema untuk mengkritisi tahun baru seperti ini sudah
berulang kali dibahas. Insya Allah para pecinta dakwah nggak bakalan bosan ngingetin
manusia yang nggak bosan berbuat maksiat. Selama hayat masih dikandung badan,
dakwah akan terus digelorakan. Jika bukan karena ingin menggapai ridho Allah
Ta’ala untuk menyelamatkan manusia lainnya dari keburukan dan kemungkaran,
untuk apa capek-capek ngingetin manusia yang lupa diri dan bangga berbuat
maksiat. Jadi, jika EL Marjan kini mengangkat tema ini dan saya yakin banyak
kaum muslimin yang paham juga mengangkat tema sejenis akhir-akhir ini—maka itu
bagian dari kepedulian dan cinta kepada kamu semua. Jangankan bagi kamu yang
masih polos dan suka ikut-ikutan dalam berbuat, bagi mereka yang udah mulai
suka ngaji pun kadang kepeleset juga dalam urusan ini. Itu sebabnya, tetap
harus hati-hati bin waspada.
Mengapa
tak boleh rayakan tahun baru?
Sebagai muslim, kita
wajib menjadikan akidah dan syariat Islam sebagai ukuran dan rujukan dalam
setiap pendapat dan perbuatan kita sehari-hari. Muslim yang beriman tentunya
memiliki perhatian khusus terhadap Islam. Mungkin di antara kamu ada yang
bilang, “Kan cuma merayakan biasa aja sama seperti acara lainnya, apanya yang
salah?” Ya, alasan itu bisa dijawab begini: “Kan cuma pergantian waktu seperti
pada umumnya, kenapa harus dirayakan—bahkan dengan hal-hal yang bernuansa
maksiat. Jelas itu kesalahannya.”
Sobat El Marjan,
perayaan tahun baru masehi bukanlah warisan ajaran Islam. Selama ini, kaum
muslimin generasi terdahulu hingga sekarang yang paham tentang Islam hanya
mengetahui dan meyakini bahwa hari raya dalam Islam hanya dua, yakni ‘Idul Adha
dan ‘Idul Fithri. Anas bin Malik mengatakan, “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari
(hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika
itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau
mengatakan, “Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya.
Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu
hari Idul Fithri dan Idul Adha” (HR an-Nasa’i No. 1556)
Nah, karena perayaan
tahun baru bukanlah ajaran Islam, maka kaum muslimin yang merayakannya dianggap
tasyabbuh (menyerupai atau meniru-niru orang kafir) dalam budaya mereka.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia
termasuk bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)
Menyerupai orang
kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan
(termasuk budaya dan pendapat-pendapat mereka tentang kehidupan). Tasyabbuh di
sini diharamkan berdasarkan dalil al-Quran, as-Sunnah dan kesepakatan para
ulama (ijma’).
Dari
Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,“Sungguh
kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal
dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke
lubang dhob, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para
sahabat) berkata, “Wahai
Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?”
Beliau menjawab, “Lantas
siapa lagi?” (HR Muslim, No. 2669)
Nah,
di sisi lain, perayaan tahun baru juga bermasalah. Coba aja lihat deh, mereka
yang merayakan tahun baru itu rela begadang, menyia-nyiakan waktu, dan bahkan
rawan perbuatan maksiat lainnya seperti perzinahan. Orang yang merayakan tahun
baru tak sekadar yang turun ke jalan lalu meniup terompet dan menyulut kembang
api, tetapi ada juga yang demi merayakan tahun baru malah berzina dengan
pacarnya di tempat-tempat tertentu. Seolah, tahun baru menjadi momen spesial
bagi mereka. Tetapi sayangnya, yang dianggap spesial itu justru dalam berbuat
maksiat.
Manfaatkan
waktumu
Ya,
waktu ibarat pedang. Setiap detik ia memenggal kesempatan kita, tanpa kenal
kompromi. Kejam, kita rasa memang
demikian. Tapi alangkah lebih kejamnya lagi apabila kita tidak memanfaatkannya
untuk kebaikan. Itu namanya kita menzalimi diri kita sendiri. Sebab, ini
persoalan bagaimana kita mengatur waktu yang terbatas yang diberikan oleh Allah
Swt. Jangan sampai kita gunakan untuk hal-hal yang nggak ada manfaatnya.
Terbatas? Memang
demikian faktanya, kawan. Andai saja usia kita di dunia ini 60 tahun. Maka
itulah batas hidup kita di dunia ini. Ukuran panjang dan pendek, adalah
hitungan logika kita, tapi tetap pada hakikatnya itu terbatas. Jadi, jangan
sia-siakan waktumu.
Sobat El Marjan.
Sebagai manusia, kita emang terbatas dan nggak sempurna. Itu sebabnya, kita
jangan sampe melupakan siapa kita dan misi keberadaan kita di dunia ini. Ini
wajib kita pahami betul, sobat. Kalau nggak? Wah, bisa kacau-beliau tuh. Coba
aja perhatiin orang yang nggak sadar siapa dirinya dan misi adanya dia dunia
ini, hidupnya suka semau gue. Seakan hidup nggak kenal waktu. Bahkan bagi orang
yang kehidupannya diberikan kebahagiaan berlebih oleh Allah, suka lupa dan
merasa ia akan hidup selamanya di dunia ini. Apalagi bila kita menjalaninya
dengan serba mudah dan indah. Nikmat memang. Namun, sebetulnya kita sedang
digiring ke arah tipu daya yang bakal menyesatkan kita bila kita tak
segera menyadarinya. Rasulullah saw bersabda: “Ada dua nikmat, dimana
manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” (HR
Bukhari)
Dr Yusuf Qardhawi
dalam kitabnya, al-Waktu fii Hayaatil Muslim berwejang, “bila orang melewati satu hari dalam hidupnya
tanpa ada suatu hak yang ia tunaikan atau suatu fardhu yang ia lakukan, atau
kemuliaan yang ia wariskan, atau pujian yang ia hasilkan, atau kebaikan yang ia
tanamkan, atau ilmu yang ia dapatkan, maka sungguh-sungguh ia telah menganiaya
dirinya sendiri.”
Belum lagi bahaya
yang bakal kita terima saat kita menyia-nyiakan waktu. Paling nggak ada tiga
akibat; kekosongan akal, kekosongan hati, dan kekosongan jiwa. Kalo begitu,
kita nggak ada bedanya sama “teman-teman” di Ragunan. Ih, amit-amit ya? Jangan
sampe deh.
Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya
binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang
pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.” (QS al-Anfâl [8]: 22)
Begitu pentingnya
akal ini, hingga Umar bin Khattab radhiallaahu ‘anhu pernah mengatakan, “Pokok dasar seseorang adalah akalnya,
keluhurannya adalah agamanya, dan harga dirinya adalah akhlaknya.” Tuh,
catet ya!
Ali bin Abi Thalib ra
juga pernah berwasiat kepada putranya, Hasan dan Husein, sesaat sebelum
meninggal dunia: “Sesungguhnya kekayaan
yang paling tinggi nilainya adalah akal pikiran. Kemelaratan yang paling parah
adalah kebodohan.”
Yang kedua tentang
hati. Kata Imam al-Ghazaliy, “hati itu
ibarat cermin. Kalo nggak pernah dibersihkan, maka akan berkarat oleh debu. Itu
sebabnya, bila kita tidak memanfaatkan waktu untuk mengingat Allah, untuk hadir
di majelis-majelis dzikir, hati kita akan kosong. Ujungnya, kita mudah resah,
putus asa, frustrasi dan sejenisnya.”
Menyia-nyiakan waktu
juga bisa berakibat kosongnya jiwa kita. Sayyid Qutb memberi gambaran: “Itulah jiwa yang kosong, yang tidak pernah
mengenal makna serius. Ia bersikap santai meski menghadapi bahaya yang
mengintai. Ia bercanda ria di saat membutuhkan keseriusan dan senantiasa
meremehkan permasalahan yang suci dan sakral. Jiwa yang kosong dari sikap yang
serius dan penuh kesucian, akan meremehkan setiap persoalan yang menyelimutinya,
mengalami kegersangan jiwa dan dekadensi moral.”
Tuh, buktinya
sekarang. Ketika banyak orang ngasih nasihat agar jangan merayakan tahun baru,
ternyata banyak juga yang tak mempedulikannya. Tak lagi dianggap sebagai bentuk
peringatan, malah dilecehkan.
Kalo kamu mulai menyia-nyiakan waktumu, maka itu artinya kamu sudah mengarahkan langkah kamu ke dalam jurang kehancuran. Kosong akal, kosong hati, dan kosong jiwa. Kalo udah begitu, alamat kehidupan ini terasa garing dan nggak bermakna. Padahal, kehidupan di dunia ini cuma sesaat dan amat semu. Jadi, mulai sekarang dewasalah Sobat. -Nggak usah ikut-ikutan merayakan tahun baru lagi, nggak ada manfaatnya. Sebaliknya hal itu justru membawa mafsadat (kerusakan) bagi akidah kita, juga kepribadian kita. Hindari dan jauhi pesta jahiliyah tersebut. Ok? Sip!
Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
Temanku Membawaku ke Syurga
(Buletin El-Marjan [Edisi. 09/Th. II)
Oleh: Abid Ramadhan [RDM13]
Alhamdulillaah.. Buletin El Marjan terbit lagi.
Minggu kemarin buletin El Marjan membahas tentang ‘Move On’, bagaimana bangkit
dari kegalauan yang mengoncang diri -wow- yang cara caranya disebutkan :
Mengingat Allah
, Mengikuti Majelis Ilmu , Ikut Organisasi ,
Membaca buku yang memotivasi dan menemukan hobby yang positif. Wihh dah hebat
deh tuh cara cara nya, caranya yaa yang hebat. Hehe. Kita? Ya tinggal Take
Action nya aja dari cara cara yang hebat ntu, ya masa cuma dibaca sihh. Kalau
hanya dibaca mah yaa nempel di kepala paling juga gak lama ya gak? Tapi kalau
dah Take Action, InshaAllah amalnya tercatat dalam catatan amal baik oleh
Malaikat pencatat, yang catatannya permanen hingga hari Akhir. Semoga catatan
Amal kebaikan Kita lebih banyak dari catatan keburukan kita ya sobat. Aamiin..
Judul buletin edisi 9 ini, “Teman membawaku ke syurga” . Yap, pembahasan dalam buletin El
Marjan kali ini bertema “Teman”. Penulis ambil tema ini karena prihatin dengan
kondisi pemuda pemudi sekarang yang makin lama makin bikin pemanasan global
makin menjadi. Lho? Bagaimana bisa?. Ya, bisa, dengan keburukan keburukan yang
dibagikan atau diajarkan merata ke generasi generasi penerus sudah seperti
pembagian sembako, pada ngantri tuh generasi generasi baru karena ter iming
imingi oleh kesenangan. Sobat pasti juga merasakan. Ya, karena ini terjadi
tidak jauh dari kita, ini terjadi dekaat dengan kita, ini terjadi dilingkungan
kita hidup dilingkungan kita melakukan aktivitas aktivitas sehari hari.
Keburukan keburukan yang terjadi akibat hasutan teman ajakan teman
terkontaminasi oleh teman ikut ikutan dengan teman dsb yang berawal dari teman
dan menambah dosa yang sama saja menambah dunia jadi panas, yea gak?. Sobat,
Baginda Rasulullah memberikan perumpamaan, “Sesungguhnya perumpamaan teman
yang baik (shalih/shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak
wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan
mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau membeli darinya atau engkau hanya
akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan
membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap”. (Riwayat
Bukhari, kitab Buyuu’, Fathul Bari 4/323 dan Muslim kitab Albir 4/2026)
Mari
kita memilah & memilih dalam berteman (bukan pilih-pilih). Seperti apakah
teman yang baik?
Sebelumnya,
apasih yang sobat pikirkan mengenai teman? Apasih teman itu? Apasih perananya
dikehidupan kita? Sekedar seorang yang bisa menghabiskan waktu bersamakah?
Menghabiskan waktu bersama untuk bersenang senang? Ayoo Kita pikirkan lagi.
Peranan teman sebenarnya lebih dari sekedar berbagai sudut pandang yang
dangkal. Tahukah? Teman dapat membawa kita ke syurga? Ya, teman dapat membawa
kita ke Syurga, apabila teman Kita bukanlah teman yang sekedar seorang yang
menghabiskan waktu bersama, bukan sekedar yang dapat bermain bersama, tetapi
teman yang dapat menjadikan Kita bersemangat dan atau membantu kita melakoni
amalan amalan yang dapat memicu syurgaNYA.
“Seseorang
tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah
teman dekatnya.”
(HR. Ahmad)
Makna
hadist di atas adalah seseorang akan berbicara dan berperilaku seperti
kebiasaan temannya. Karena itu Rasulullah
mengingatkan agar kita cermat dalam memilih
teman. Kita harus kenali tabiatnya, akhlaknya. Bila ia Shalih, ya jadikanlah ia
teman kita.
Nah
dari situ, kira kira seperti apa ya kriteria teman yang baik itu? Ada tuh
disitu jawabannya.. “Yang shalih!” Yapp betul.. Dengan berteman dengan orang
yang shalih, kita akan kecripatan keshalihannya juga, InshaAllah. Bukalah pintu
hati kita, supaya sifat
sifat baik dapat kita terima dan menjadi sifat kita.
Orang
yang shalih senantiasa senang mendapatkan teman. Orang shalih senang bila temannya
bertambah karena merasa menambah pula orang yang akan mengingati nya apabila ia
berbuat salah. Dan juga sebagai pengamalan Surat Al ‘Ashr yang berbunyi “Demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saling menasihati untuk
kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Qs. Al ‘Ashr[103]:1-3)
Orang yang shalih akan mencintaimu
karena Allah, Ia tidak akan mengharapkan keuntungan dari mu. Karena, hanya
ridho Allah lah yang ia inginkan. Ia senantiasa akan membawa mu ke Syurga
karena-NYA. Dengan pancaran cahaya kebaikan kebaikan yang ia kerjakan yang akan
menerangi kita hingga kita pun akan terbawa untuk ikut menjadi terang seperti
dirinya. Laksana pembawa minyak wangi, ia mencipratkan minyak wanginya kepada
kita, hingga wangi pula lah diri kita sepertinya. Dan tahukah? Orang yang
saling mencintai karena Allah, akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari
dimana tidak ada naungan kecuali naungan-NYA.
Rasulullah
bersabda :
“Sesungguhnya pada hari kiamat Allah berseru,
“Dimana orang-orang yang saling mencintai karena keagunganKU? Hari ini Aku
berikan baginya naungan di hari tidak ada lagi naungan selain naungan-KU”” (HR. Muslim)
Orang
shalih senantiasa akan menyebabkan hati kita nyaman, tenang, tentram apabila
kita di dekatnya. Apakah ia menyebarkan kesejukan yang menghilangkan gerah
seperti air conditioner? Ohh, bukan begitu. Tapi begini,. Ia senantiasa
mengingatkan kita kepada Allah dengan ucapan ucapan baik yang keluar dari
mulutnya atau dengan perilakunya atau bahkan hanya dengan bersamanya dengan
melihat wajahnya yang seolah olah memancarkan cahaya ilahi dan merasuk kedalam
qolbu kita dan mengingatkan kita kepada Allah selalu. Yang mana, hanya dengan
mengingat Allah lah hati kita akan nyaman tenang tentram.
“Orang-orang
beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya
dengan mengingat Allah-lah hati akan menjadi tentram” (Qs.Al Ra’d[13]:28)
Syafa’at dari teman yang shalih. Diriwayatkan, bahwa
Apabila penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan
Sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di Dunia, mereka
bertanya tentang Sahabat Mereka kepada Allah.
“Yaa
Rabb.. Kami tidak melihat Sahabat-sahabat kami yang sewaktu di Dunia Shalat
bersama kami, Puasa bersama kami dan berjuang bersama kami,”
Maka Allah
berfirman: “Pergilah ke neraka, lalu
keluarkan Sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar dzarrah.” (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab “Az-Zuhd”)
Imam besar Al-Hasan
Al-Bashri berkata, “Perbanyaklah Sahabat-sahabat
Mu’min-mu, karena Mereka memiliki Syafa’at pada hari kiamat.”
Sobat,
mari kita perbanyak teman kita. Namun, bukan teman sembarang teman. Bukan
seberapa banyak teman kita yang penting. Yang paling penting dalam berteman
ialah, seperti apa kualitas teman yang kita
miliki? seberapa banyak teman kita yang shalih? apakah perubahan diri kita
setelah memiliki teman.?
Ulangi
sedikit. Bila ingin perubahan baik, maka bertemanlah dengan orang yang baik (shalih)
yang membawa kita ke Syurga-NYA, dan janganlah berteman dengan teman yang buruk
yang malah akan menjatuhkan kita ke Neraka.
Teman yang buruk, ialah teman yang bukan
mendekatkan kita kepada Allah, tetapi malah menjauhkan kita dari Allah. Yang
membutakan kita dari tujuan hidup kita sebenarnya dengan menghabiskan waktu
dalam kesenangan yang sia sia. Yang seperti inilah yang akan menjatuhkan kita
ke Neraka. Sobat, mari kita renungkan pertemanan kita.
“Teman seperti
apakah yang buruk?”
Imam Ali
menjawab:
“Orang yang menampilkan maksiat dengan penampilan yang indah.” Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqih, jil. 4, hal.
381.
Teman yang buruk akan melalaikanmu dengan kesenangan,
membuat menghabiskan waktu untuk hal yang sia sia, menyepelekan hal hal kecil,
menghasutmu untuk melakukan perbuatan perbuatan keji kecil bahkan yang besar
dengan menjanjikan kesenangan kesenangan yang fana. Sungguh teman yang seperti
itu hanya akan menjadikan diri kita merugi, dan lebih baik bila kita memiliki
musuh namun menjadikan diri kita dekat kepada Allah.
“Jika ada musuh yang mendekatkanmu kepada Allah, maka hal itu lebih baik
dari pada teman akrab yang menjauhkanmu dari Allah.” (Abul
Hasan as-Sadzili)
Sobat, Berhati-hati lah dalam memilih teman. Jangan
sampai kita terhasut oleh teman kita sendiri untuk melakukan keburukan
keburukan dan Allah menghukum kita dengan menjadikan diri kita lupa diri kita
sendiri.
Seperti ucapan
seorang Syaikh Al Qur’an terkenal asal Mesir :
“Hukuman paling berat atas
seseorang adalah bila Allah
menjadikan ia lupa pada dirinya sendiri. Sebab
bila seseorang lupa pada dirinya sendiri, maka ia akan terjerumus pada
kenistaan, tapi ia merasa telah melakukan kebaikan.” (Muhammad Ar Rawi)
Baarakallah.
Semoga
Bermanfaat.Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
Cakep itu Jujur!
(Buletin El-Marjan [Edisi. 08/Th. II)
Oleh: Abid Ramadhan [RDM13]
Nyontek
adalah budaya, benarkah?
Nyontek!
Nyontek yang akan dibahas di buletin ini, ialah mencontek dalam hal ujian
pendidikan.
Sebenarnya
menyontek adalah suatu hal yang mungkin bahkan bukan mungkin lagi, tapi sudah
sangat sering atau setidaknya pasti pernah dilakukan oleh orang-orang yang
sempat menginjak bangku sekolah. Dan sudah sangat tidak awam lagi di telinga
kita kata ‘nyontek’ atau bahkan pada
era globalisasi ini sering juga diperindah dengan kata ‘cheating’ walau sebenarnya adalah bahasa asing dari kata menyontek
itu sendiri.
Mendengarnya
mungkin orang bisa langsung berpikiran negatif mengenai kegiatan yang satu ini,
tentu saja, menyontek merupakan kegiatan kecil yang dilakukan saat tidak dapat
melakukan apa-apa lagi terhadap suatu masalah yang berujung dengan melihat atau
bisa disebut pula mencuri ide/pikiran orang lain, bisa dibilang menyontek
adalah contoh sederhana dari kejahatan besar seperti menjimplak karya orang
yang berarti mencuri.
Yaa,
mungkin tidak sekejam itu namun pada kenyataannya kegiatan yang sering
dikaitkan dengan ujian atau pelajar ini memiliki arti yang sama dengan semacam
penjimplakan. Biasanya para pelaku yang pernah menyontek saat ujian mengaku ia
tidak bisa menjawab soal sehingga berakhir dengan melirik jawaban teman, baik
diketahui bahkan yang tidak diketahui sama sekali.
Herannya,
sering terjadi pengabaian terhadap larangan untuk mencontek disaat ujian yang
pengawas selalu mengucapkan kalimat peringatan yang sudah seperti kalimat
pembuka dalam setiap ujian, “Kerjakan Masing-masing”. Bahkan, hingga soal
berpaket meluncur turun tangan menghadapi para pelajar ataupun persilangan
antar angkatan dalam satu kelas atau paper
less untuk memperkecil kesempatan peserta untuk berbuat curang atau
mencontek. Namun masih saja, makin canggih sistem ujian, makin canggih pula
pelajarnya dalam kegiatan mencontek. Mengapa makin diingatkan makin mengabaikan
? Mengapa makin diperbaharui sistem ujiannya makin beragam cara cara curangnya
? Seakan akan kegiatan ‘nyontek’
sudah seperti budaya yang terus hidup mengikuti perkembangan zaman dan selalu mengiringi
pelaksanaan ujian pendidikan. Masih bertanya? Benarkah ‘nyontek’ sudah seperti budaya? coba tanyakan pada diri kita masing
masing, “berapa kali terulang diri kita
mencontek?”. Bila sudah berulang ulang, ya bisa jadi kita telah menjadi
korban budaya ‘mencontek’.
Dan
memanglah tidak dapat kita pungkiri lagi, kita dapat lihat kenyataannya di
setiap ujian pasti ada aja pelaku kegiatan ‘nyontek’
atau setidaknya ada saja yang gelisah saja perilakunya dan berusaha melakukan
perbuatan yang tidak jauh dari mencuri/menjiplak/menipu ini. Hmm... ya, memang
sudah menjadi budaya yaah. Namun, sayangnya budaya kurang atau bahkan kita
dapat sebut itu tidak yang baik.
Mengapa Nyontek?
Alasan
utama mengapa mencontek kebanyakan adalah karena tidak siap mengikuti ulangan
atau ujian. Pertanyaan menggelitik terus saya lontarkan. Mengapa tidak siap?
Jawabnya
karena tidak belajar. Mengapa tidak
belajar? Nahh, Ini nih yang harus diselidiki. Tanyakan pada diri Kita
sendiri, “Mengapa saya tidak belajar?
Bukankah ingin sukses dunia akhirat?”
Sebenarnya
tidak ada alasan yang pantas untuk dijadikan alasan untuk mencontek. Why?
Okee.. Lanjut baca dulu..
Boleh gak sihh?
Sudah
sangat sering kita dengar “Kerjakan masing masing!”, “Jangan lirik kanan-kiri!”
Dan
yang to the poin “Jangan Nyontek!”. Jangan jangan dan jangan. Pasti pahamlah
apa arti kata “Jangan”. Jangan ialah kata yang digunakan untuk menyatakan
dilarangnya suatu kegiatan. Dan “Jangan
Nyontek” berarti perbuatan nyontek itu dilarang.
Dan
bagaimana hukumnya dalam Islam?
Rasulullah Saw
bersabda, “Siapa yang menipu kami maka ia bukan termasuk golongan kami; pembuat
makar dan tipu daya akan masuk neraka” (HR Thabrani
dengan sanad yang baik dan HR Ibnu Majah dalam shahih-nya).
Jelaskan?
Semua bentuk penipuan dilarang keras oleh Rasulullah SAW, bahkan langsung
diancam oleh neraka. Mencontek jelas menipu, maka akhirnya jelas neraka.
Kecuali bagi yang bertaubat dan berhenti dari segala bentuknya.
Allah
dalam QS Al-Baqarah 2:9 berfirman:
يخادعون الله والذين آمنوا وما يخدعون إلا
أنفسهم وما يشعرون
Artinya: “Mereka
hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu
dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”
Jadi,
‘nyontek’ atau ‘mencontek’ hukumnya haram karena termasuk perilaku tipu daya,
penipuan baik kepada orang lain maupun pada diri sendiri. Mencontek saat ujian
adalah perilaku tipu daya yang tidak bertanggung jawab yang memiliki dampak
besar di masa depan.
Nyontek
adalah perilaku korup yang harus segera dihentikan dan diganti dengan kejujuran
dan kerja keras, dan tak boleh dilupakan pula do’a serta tawakal kepada Allah.
Nyontek itu rugi
loh!
Tahukah
kamu? Bahwa mencontek itu membawa banyak penyakit dan membawa keburukan. Apa
penyakitnya? Apa keburukannya?
Penyakit
penyakit yang dibawa oleh kegiatan mencontek yaitu malas berfikir , rasa kurang
percaya diri , keterbiasaan
bergantung kepada oranglain , dll... Sebenarnya masih banyak namun tiga
dulu aja.
Merasa
enak dapat menjawab soal ujian tanpa berfikir, kemudian kita melakukannya terus
menerus karena merasa enak dan akhirnya kita melupakan sesuatu. Apa yang Kita
lupakan? Kita lupa bahwa kita memiliki otak yang berfungsi untuk berfikir. Ya,
sebenarnya kita sudah sadar kita memiliki otak, namun tidak mempergunakannya
dengan baik dan benar ialah bentuk perilaku yang mencerminkan kita tidak
bersyukur dan melupakan bahwa kita memiliki sarana berfikir yang telah Allah
berikan. Malas berfikir, jarang memakai otak dengan baik dan benar lama
kelamaan akan berujung kepada kebodohan. Itulah penyakit malas berfikir yang
dibawa oleh kegiatan ‘mencontek’ atau ‘nyontek’, yang sama dengan menggiring
diri sendiri kepada kebodohan.
Dan
mencontek dapat menjadikan Kita ragu terhadap setiap jawaban sendiri yang padahal
hasil dari belajar kita sendiri tetapi kita lebih mempercayai jawaban
oranglain, karena merasa jawaban orang lain lebih benar daripada jawaban kita.
Saya ulangi lagi, Sikap ini, sikap lebih mempercayai jawaban orang lain
daripada hasil belajar sendiri dapat menjadikan kita orang yang selalu memiliki
keraguan dalam menghadapi soal soal ujian dan akhirnya melirik jawaban teman.
Dan itu menjadikan kita bergantung kepada jawaban teman, karena merasa ragu
dengan jawaban sendiri. Dan sudahlah, tertanam penyakit rasa kurang percaya
diri dan keterbiasaan bergantung kepada oranglain pada diri kita bila
membiasakan diri mencontek.
Tiada
kepuasan dari nilai yang didapat, karena sejatinya jawaban jawaban dari hasil
mencontek bukanlah milik kita, bukan hak kita, itu adalah hasil belajar
temanmu. Maka, nilai bagus yang Kita dapat dari hasil mencontek pun sejatinya
bukan nilai kita. Samalah dengan Kita tidak ikut serta dalam ujian bila kita
bukan mengerjakan ujian kita sendiri, karena ujian itu wadah untuk mengukur
sejauh mana pemahaman kita(diri sendiri, masing masing individu) atas apa yang
telah dipelajari selama di masa sekolah. Kepalsuanlah yang kita dapat bila
hasil yang didapat bukan murni jawaban apa yang telah kita pelajari.
Terjangkit
penyakit malas berfikir , rasa kurang percaya diri , keterbiasaan bergantung
kepada oranglain , Menggiring diri sendiri kepada kebodohan, tidak akan
mendapatkan kepuasan atas nilai yang didapat, Itulah beberapa kerugian dari
mencontek yang dijelaskan di atas.
Mari Kita
bersihkan diri
Kawan,
yang pernah mencontek walapun sedikit atau pernah senang mencontek atau bahkan
masih senang dan masih dilakoni hingga kini. Mari, kita bersihkan diri kita
dari kegiatan yang tak lain hanya membawa kemudharatan. Mari bersihkan diri
kita, sucikan nilai kita, menjauhi segala laranganNYA.
Menghentikan diri
dari kebiasaan mencontek
Untuk
menghindar dan berhenti dari kebiasaan
nyontek yang pertama dan utama adalah niat dan komitmen untuk berhenti nyontek
apapun yang terjadi. Setelah itu ikuti langkah-langkah berikut:
- Menyadari bahwa hidup yang bermartabat, terhormat dan membahagiakan dalam jangka panjang itu adalah hidup yang penuh kejujuran. Betapapun beratnya kejujuran itu.
- Menyadari bahwa hasil dari mencontek adalah kepalsuan. Bagaimanapun tingginya prestasi yang dicapai darinya.
- Menyadari bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kerja keras dan saat memetik hasil dari jerih payah sendiri. Betapapun hasil yang dicapai di bawah harapan kita.
Berteman
dengan orang-orang jujur dan pekerja keras dan menjauh dari lingkungan
teman-teman yang suka menyontek.
Wal akhiru kalam.
Semoga Kita dapat
menjadi pribadi yang jujur dan amanah.
Semoga bermanfaat.Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
Move On!
(Buletin
El-Marjan [Edisi. 07/Th. II)
Oleh:
Agung Wibisono [@agungMSVrs]
Sahabat
El-Marjan, Alhamdulillah kita masih diberikan kenikmatan Masa Muda yang begitu
indah oleh Allah, apalagi bagi kebanyakkan remaja saat ini yang selalu dilanda
virus merah jambu (baca: jatuh cinta) saat masa muda. Nah virus ini sangat
sering melanda remaja saat ini dan cukup bahaya loh kalo sampai kita terkena
virus ini. Bahaya dimananya? Bahaya karna kita bisa masuk dalam zina loh. Wah,
kalo gitu gak boleh dong jatuh cinta? Ya, boleh lah kan cinta itu fitrah
manusia, manusia diciptakan untuk memiliki rasa cinta. Tapi katanya virus ini
bahaya bagi remaja? Bahaya disini jika kita atau orang yang sedang dilanda
virus merah jambu ini melakukan berbagai tindakkan yang melanggar perintah yang
Maha Memiliki Cinta, salah satunya itu Pacaran. Pacaran sendiri itu gak ada
dalam ajaran Islam loh kawan, yang ada dalam ajaran islam jika kita cinta pada
seseorang itu ta’aruf lalu menikah, hehe. Kita kan masih sekolah masa mau
menikah? Mendingan pacaran aja nikmati masa muda. Nah, kalau kalian mengerti
apa itu rasa cinta pasti kalian tidak akan pacaran karna rugi BGT kalo pacaran,
bakalan sia-sia dah kalo pacaran. Pasti kalo udah pacaran terus putus pasti
galauunyaa gak kesampaian (berlebihan), bisa-bisa keluarga, teman-teman kita
kena imbasnya. Karna cinta itulah yang membuat kita jatuh pada jurang kegalauan
yang tingkatnya berada dipuncak gunung (tinggi). Sebenarnya cinta itu
menguatkan, bukan melemahkan. Jadi kalo ada yang mengatakan bahwa kita galau
karna cinta itu salah besar!. Lantas seperti apa cinta itu? Disini gak akan
membahas apa itu cinta tapi bagaimana caranya jika kita galau karna diputusin
pacar? Atau kita suka/kagum sama seseorang tapi kita sulit melupakannya malah
terbayang-bayang terus atau ceritanya cinta tak memiliki sampai-sampai bahasa
kerennya saat ini susah untuk Move On? hehe. Karna itu buletin El-Marjan akan
membahasnya sesuai dengan kenyataan (sesuai dengan kisah hidup penulis, hehe)
yang Alhamdulillah cara ini berhasil membuat penulis bisa Move On atau meskipun
gak Move On bisa melupakan bayang-bayangnya dalam fikiran. Nah cara Move On
yang simple itu jangan liat-liat, jangan bayang-bayangin, jangan denger-denger,
jangan baca-baca tentangnya, jangan ngobrol-ngobrol, jangan merhatiin dia terus
apalagi sampe kepo abis tentang dia!. Ini masih cara yang simple dan kalo bisa
ngelakuinnya acungin jempol deh (soalnya penulis masih belum bisa, hehe) dan
pasti bisa Move On dengan sukses. Selain cara yang tadi masih ada cara yang
lainnya yang bisa dilakukan dan dengan cara untuk meminimalisir kegalauan
tentang dia (bisa melupakannya sejenak).
Pertama,
Mengingat Allah. Karena dengan mengingat Allah akan membuat kita lebih tenang dan
melupakannya loh. Mengingat Allah berarti
mengetahui bahwa Allah selalu bersama kita kapan-pun dan melihat apa-pun yang
kita perbuat, Ingat loh Allah selalu memberi kita Kasih-Nya yang tidak
terbatas. Ingatlah Allah saat kita melakukan apapun pasti akan membuat hati
kita tenang. Mengingat Allah bisa
dengan cara berdzikir, tilawah al-Qur’an atau secara amal seperti puasa. Dengan
mengingat Allah, Allah pasti akan mengingat kita, karena yang memberikan
ketenangan pada hati setiap manusia itu hanya Dia Allah Sang Penguasa Hati. “Dia-lah yang telah menurunkan
ketenangan kedalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah...” (QS. Al-Fath[48]:4)
“Orang-orang
yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah-lah hati akan menjadi tentram” (QS. Al-Ra’d[13]:28).
Kedua,
Ikuti majelis ilmu Agama. Mulailah dengan memahami islam dan berjuang untuk
memahami tentang islam pasti akan bisa melupakan tentang si dia. Karena kita
akan terfokus untuk mempelajari tentang Islam itu. Bisa dengan mengikuti
Mentoring (sama seperti ngaji (cuma ini lebih keren, asyik, seru, so harus ikut
mentoring biar pengetahuan tentang islam bertambah, #AyoMentoring). “Barang siapa menempuh berjalan
untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Muslim).
Ketiga,
Ikut Organisasi. Dengan ikut organisasi waktu kita, fikiran kita hanya akan
memikirkan tentang organisasi (gak melupakan tentang pelajaran kok), disini
kita akan lebih banyak mengenal banyak orang yang memiliki kemampuan yang
berbeda-beda. Tapi lebih dianjurkan ikut organisasi yang berjuang untuk Islam
(kalo di sekolah itu Rohis namanya –sedikit promosi-, hehe) karena dengan ikut
organisasi Islam disekolah, kita akan disibukkan memikirkan tentang dirinya
sendiri, teman-teman, lingkungannya sehingga tak ada waktu untuk memikirkan si
dia, karena akan fokus dan bersemangat dengan organisasinya dalam
memperjuangkan Islam (organisasinya) -soalnya penulis dulu dengan aktif
berorganisasi (terutama di Rohis) jadi lebih sering disibukkan untuk
memperjuangkan organisasi (Rohis) memikirkan kepentingan orang lain, jadi
Alhamdulillah bisa meminimalisir fikiran tentang si dia, bahkan sampai sekarang
pun masih aktif organisasi sama seperti organisasi Rohis cuma ini dilingkungan
kampus, yaitu Lembaga Dakwah Kampus, sebenarnya bukan hanya memperjuangkan
organisasi itu tetapi memperjuangkan Islam, memikirkan orang lain-. Karena jika
bergabung dengan organisasi Islami (Rohis) akan banyak keuntungan dan dalam
Rohis itu sendiri sangat percaya dengan sebuah ayat al-Qur’an yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, jika
kamu menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong dan meneguhkan
kedudukanmu” (QS.
Muhammad[47]:7). Nah dengan
ikut Rohis bisa dapat keuntungan dunia dan akhirat loh, coba aja pahami ayat
tersebut, siapa sih yang gak mau ditolong dan diteguhkan kedudukkannya sama
Allah? Pasti pada mau dong, so ikut Rohis atau organisasi lainnya. Yang pasti
organisasi yang memberikan manfaat dan kebaikkan untuk diri kita dan orang
lain. “Sebaik-baik manusia
adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Ahmad).
Keempat,
membaca buku yang memotivasi. Membaca buku disini bisa membaca buku yang bisa
membuat diri kita termotivasi untuk bangkit dari kegalauan, jangan malah baca
buku yang melow, romatis itu malah membuat kita makin susah Move On atau bisa
juga dengan membaca buku pelajaran, dengan membaca buku pelajaran akan membuat
kita bisa menjadi orang yang berprestasi dalam bidang akademik. Jadi, remaja
itu harus berprestasi akademik (baca: buletin El-Marjan edisi ke-6 tentang
Remaja, Ukir Prestasimu!)
Kelima,
temukan kegiatan (hobby) yang positive. Temukan sesuatu yang bisa kita
banggakan di masa depan dan bisa kita jadikan amal shaleh –karna yang positif
itu bisa bernilai pahala jika kita Niatkan hanya untuk Allah. Jangan sampai
menyia-yiakan waktu karena waktu itu sangat berharga, so setiap ada waktu
lakukan sesuatu yang positif.
Tadi
itu merupakan berbagai cara untuk bisa Move On atau meminimalisirnya, cara tadi
Alhamdulillah sudah dilakukan penulis dan Alhamdulillah hasilnya pun sangat
berpengaruh dengan kehidupan penulis yang bisa Move On dari seseorang atau
melupakan si dia, hehe.
Cara
yang tadi penulis sampaikan itu selain dari kisah nyata (pengalaman) yang
penulis alami juga diambil beberapa buku yang pernah penulis baca, serta dari
berbagai mentor-mentor penulis serta artikel-artikel di internet. Sebelum
mengakhiri tulisan ini penulis ingin menuliskan beberapa kalimat yang
memotivasi dari sebuah buku karangan Ust.
Felix Y Siauw yaitu Udah Putusin Aja, buku ini
sangat bermanfaat bagi remaja saat ini yang sedang dilanda virus merah jambu
dan masih banyak buku-buku yang lainnya.
“Belajar
melupakan itu sama seperti belajar mencintai, Sama-sama membutuhkan waktu, dan
sama-sama membutuhkan kesabaran”
“Bila
kita harus galau, maka galaulah akan sesuatu yang lebih panjang dari sekedar
dunia, yaitu tentang akhirat dan keadaan kita, tentang Allah Tuhan kita dan
Muhammad Nabi
kita”
“Bila
air mata harus mengalir deras, pastikan itu bukan karena makhluk-Nya, melainkan
hanya untuk Ia yang Maha Memiliki Cinta di Sajadah malam karena takut takut
akan Siksa-Nya”
Pantaskan
Diri untuk memdapatkan yang Terbaik, Ingatlah Rencana dan Ketetapan Allah itu
Maha Indah dan Terbaik untuk kita.
Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout & Editor: Agung Wibisono
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
Remaja, Yuk Ukir Prestasimu!
(Buletin
El-Marjan [Edisi. 06/Th. II)
Oleh:
Wita Dahlia [gaulislam.com]
Wah,
kayaknya enak ya kalau kita jadi remaja berprestasi. Bisa ketemu orang-orang
penting, bisa jalan-jalan dan sekolah gratis, disayang ortu, disanjung teman
dan tetangga. Wah, pokoke enak deh. Tuh, seperti yang dialami teman-teman kita.
Baru-baru ini, ada Gayatri Wailissa, anak seorang pengrajin kaligrafi yang di
usia belia telah menjadi Duta ASEAN karena kemampuannya menguasai 11 bahasa.
Remaja berusia 16 tahun ini belajar bahasa secara otodidak dan sudah
mengantongi sekitar 15 prestasi di segala bidang.
Ada
Ibrahim Handoko yang saat itu masih berusia 15 tahun berhasil memformulasikan
persamaan untuk menyelesaikan perhitungan angka piramida dengan jumlah tidak
terbatas. Ia terpilih sebagai matematikawan terbaik dan berhak mewakili
distriknya dalam olimpiade matematika di tingkat negara bagian. Demikian juga pada
Olimpiade Matematika (2004), ada Fathia Prinastiti Sunarto yang mampu menyabet
medali emas yang saat itu masih duduk di bangku kelas VI SD.
Sobat
El-Marjan, prestasi memang melahirkan kebanggaan tersendiri, apalagi di usia
remaja. Saat yang paling tepat untuk mengukir prestasi. Kenapa? Karena usia
remaja adalah usia produktif. Pada usia ini, kita memiliki fisik yang prima.
Itu sebabnya, remaja cenderung menyukai tantangan dan mencoba hal-hal
baru. Coba deh perhatikan, perubahan di dunia ini hampir selalu digerakkan oleh
para remaja atau pemuda. Hmm…. Iya kan? Prestasi itu penting
Kawan
rahimakumullah, Tahu nggak arti dari prestasi? Yup, prestasi memiliki makna
menjadi lebih. So, kalau kita masih sama aja sama dengan orang lain, berarti
itu belum dikatakan berprestasi. Sebagai seorang muslim maka berprestasi itu
adalah hal yang penting. Karena bagi seorang muslim, menjadi lebih atau
melakukan perbuatan yang terbaik adalah hal yang penting. Karena bagi seorang
muslim, menjadi lebih atau melakukan perbuatan yang terbaik adalah kewajiban.
Ini sesuai sabda Rasululllah: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan
perbuatan ihsan (kebaikan yang maksimal) pada segala sesuatu.” (HR
Muslim).
Rasulullah.
sendiri, telah menjadi suri tauladan yang baik dalam hal ini. Beliau adalah
orang yang sangat menyukai dan mencintai prestasi. Bagaimana tidak,
hampir setiap perbuatan yang dilakukan Rasulullah. selalu terjaga kualitasnya.
Amal-amal beliau merupakan amal-amal yang terpelihara mutunya. Demikian juga
keberaniannya, tafakurnya, dan aneka kiprah hidup keseharian lainnya.
Seluruhnya senantiasa didedikasikan untuk suatu mutu yang tertinggi. Menjadi
hamba yang terbaik, suami yang terbaik, ayah yang terbaik, kakek yang terbaik,
tetangga yang terbaik, bahkan menjadi pemimpin negara yang terbaik. Keren dan
bikin kita bangga.
Sobat
El-Marjan, setidaknya ada 4 faktor yang harus kita miliki untuk menjadi remaja
prestatif:
Pertama,
niat yang kuat. Niat merupakan hal yang utama bila seseorang akan melakukan
suatu kegiatan. Begitu juga dalam usaha untuk mencapai prestasi. Meskipun
sama-sama punya niatan dan tujuan yang bakal diraih, tapi niatan karena Allah
adalah niatan yang tak terkalahkan. Sebab dengan niat ini, kita tetap akan
mendapatkan balasan meski harapan kita nggak teraih. Selain itu, niat yang
lurus akan membuat tentram hati kita dalam menjalani setiap aktivitas.
Lain
halnya jika niat kita cuman buat jadi nomor satu en ngalahin temen. Saat gagal,
kita nggak akan dapat apa-apa, bahkan meski tercapai, kita tetap nggak
mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala. Rugi banget kan?!
So,
niatkan bahwa kita melakukannya semata-mata untuk meraih ridho Allah. Sucikan
niat kita dalam menuntut ilmu apapun demi Allah. karena menuntut ilmu pun
merupakan ibadah. Allah Ta’ala berfirman:
“Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan.”. (QS al-Mujaadilah [58]: 11)
Nah,
niat yang lurus dan ikhlas, akan menghadirkan motivasi yang kuat. Jika niatnya
semata-mata karena Allah Ta’ala, maka motivasinya pasti dong juga demi Allah.
Kedua,
kesungguhan dan semangat belajar yang tinggi. Jika kita tanyakan pada
orang-orang yang berprestasi, apa kunci mereka bisa sukses di bidangnya, maka
hampir bisa dipastikan jawabannya karena semangat belajar yang tinggi pada
mereka. Orang yang berprestasi adalah orang-orang yang serius dan telaten dalam
menekuni suatu kegiatan.
Setiap
prestasi itu butuh kesungguhan dan kerja keras. Orang yang pengen
berprestasi dalam pendidikannya butuh belajar giat, orang yang ingin
sukses pekerjaannya juga butuh kerja keras, orang yang pengen jadi orang yang
faqih dalam agama juga butuh usaha keras. So, jika kita pengen seluruh
aktivitas dan peran kita berprestasi, usahanya tentu harus lebih keras. Nabi.
bersabda: Berkemauan keraslah kepada apa-apa yang bermanfaat bagimu,
dan minta tolonglah kepada Allâh Ta’ala dan janganlah bersikap lemah. (HR
Muslim)
Ketiga,
lingkungan yang mendukung. Biar udah punya motivasi yang kuat dan semangat
belajar yang tinggi, tetap aja kita butuh lingkungan yang mendukung. Lingkungan
inilah yang akan turut menjaga keistiqomahan kita dan terus mengobarkan
semangat kita. Nah, lingkungan seperti ini haruslah lingkungan yang sejalan
dengan kita. Lingkungan yang bertolak belakang justru akan menurunkan energi
semangat kita, bahkan menghancurkan motivasi yang kita bangun sebelumnya.
Inilah nasihat Rasulullah. untuk memilih lingkungan yang baik: “Permisalan
teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan
seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi,
atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap
mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan
apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau
asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari & Muslim).
So,
pilihlah teman yang berjualan minyak wangi, ya. Ups! Maksudnya pilihlah
teman-teman yang diibaratkan sebagai penjual wangi, yaitu teman-teman yang
sholih dan membawa kita pada ketaatan.
Keempat,
aturan dan dukungan negara. Aturan di masyarakat dan dukungan negara tentu
sangat mendukung prestasi generasinya. Ini berkaitan dengan sistem yang
diterapkan oleh negara. Ketika dahulu syariat Islam diterapkan oleh negara,
pemerintah menjamin semua warganya agar mendapatkan pendidikan. Penguasa saat
itu menyediakan pendidikan gratis baik bagi warga yang miskin maupun yang kaya,
muslim maupun non-muslim. Negara juga menyediakan berbagai fasilitas agar para
pelajar bisa belajar dengan nyaman serta menyediakan sarana-prasarana demi
mendukung kemajuan belajar siswa seperti perpustakaan, laboratorium dan
sebagainya. Semua itu diperoleh tanpa membayar alias gratis! Bandingkan dengan
kondisi sekarang! Banyak sekolah yang nyaris ambruk dan presidennya justru
curhat bin galau melulu. Miris ya? Ini dia, remaja prestatif!
Remaja
Islam pernah mengukir sejarah dengan gemilang. Sebut saja Ali bin Abu Thalib
ra. yang berjuang sejak belia menegakkan Islam saat kali pertama Rasululah
mulai berdakwah di Makkah. Sosoknya jenius sampai-sampai Rasulullah memuji Ali dengan
sabdanya, “Aku adalah gudangnya ilmu, dan Ali adalah kuncinya.”
Ada pula Muhammad al-Fatih yang mampu
menaklukkan Konstantinopel pada usia 23 tahun. Ada Al-Haytsam si penemu optik.
Al-Kwarizmi sang pakar matematika dan memperkenalkan Aljabar untuk pertama
kali. Ibnu Sina, muslim yang
ahli kedokteran dan masih banyak lagi sederet pemuda muslim berprestasi
lainnya. Mereka tidak hanya dikenal berprestasi, namun juga terkenal
kesholihannya.
Sobat El-Marjan, Emha Ainun Najib pernah mengistilahkan
manusia dalam lima jenis (catet: hanya istilah, lho). Yaitu jenis manusia wajib, sunah, mubah,
makruh, dan haram. Manusia wajib ditandai jikalau keberadannya sangat
dirindukan, sangat bermanfaat, perilakunya membuat hati orang di sekitarnya
tercuri. Orang yang sunah, keberadaannya bermanfaat, tetapi kalau pun tidak ada
tidak tercuri hati orang lain. Artinya, tidak ada rongga kosong akibat rasa
kehilangan. Orang yang mubah, ada tidak adanya tidak berpengaruh. Adapun
orang yang makruh, keberadannya justru membawa mudharat. Lain lagi dengan orang
bertipe haram, keberadaannya malah dianggap menjadi musibah, sedangkan
ketiadaannya justru disyukuri. Hehehe.. Emha Ainun Nadjib memang pandai membuat
istilah yang unik dan menarik.
Kawan
El-Marjan, kira-kira kita jenis manu sia yang mana nih? Untuk
menjadi remaja berprestasi, tentu
dong minimal jadi manusia
‘jenis sunah’. Ya, nggak? Sesuai sabda Rasulullah. “Khairunnas anfa’uhum
linnas”, “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak
manfaatnya bagi orang lain.” (HR Bukhari dan Muslim) Nah,
cara yang paling tepat untuk menjadi manusia yang paling bermanfaat adalah
dengan meningkatkan kepedulian terhadap orang lain. Berusaha sekuat tenaga
untuk melakukan perubahan ke arah Islam. Islam yang dijadikan sebagai pandangan
atau jalan hidup (ideologi).
Firman Allah Ta’ala: “Kamu adalah
umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah
yang munkar dan beriman kepada Allah…” (QS Ali Imran [3]: 110)
Ayo sobat, bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang
pribadi muslim yang berprestasi!. #YukHijrah menjadi Berprestasi!!
Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout & Editor: Agung Wibisono
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn