Valentine's Day
(Buletin El-Marjan [Edisi. 3/Th. II)
Oleh: Berry Hardisakha
“Cinta yang tumbuh karena
IMAN, AMAL SHALIH dan AKHLAK yang MULIA, akan senantiasa bersemi, tak lekang
karena sinar matahari dan tak luntur karena hujan dan tak akan putus meskipun
ajal menjemput”
Berbicara tentang Valentine’s Day, siapa yang tidak mengetahui tentang hari Kasih Sayang -katanya- tersebut. Valentine’s Day atau
biasa disebut hari kasih sayang yang jatuh
pada tanggal 14 Februari.
Hari tersebut sangat populer di negara-negara Eropa dan Amerika. Pada hari itu
terutama kaum remaja merayakan dengan hura-hura. Mayoritas yang merayakannya
adalah orang yang sedang jatuh cinta. Ini pun dianut saat ini dan semakin meluas
dikalangan muda-mudi di negeri kita ini. Saat hari tersebut ada yang
memberikan coklat kepada kekasihnya atau kado spesial lainnya.
Di Indonesia? Tampaknya tidak jauh
berbeda dengan remaja-remaja diluar negeri sana. Mereka yang notabene-nya
muslim-muslimah, menjiplak habis-habisan perilaku remaja orang barat. Hal ini,
tentu saja sangat memprihatinkan karena kalau dilihat dari latar belakang
sejarah perayaan Valentine bukan berasal dari ajaran Islam. Tapi bukan hanya
itu masalahnya. Akan tetapi perayaan Valentine selalu dibarengi dengan
kegiatan-kegiatan yang mubazir, berbau jahiliyah dan cenderung kepada
kemaksiatan.
Secara
etimologis Valentine berasal dari kata Valentinus yang artinya adalah suatu
kartu ucapan selamat yang dikirimkan kepada orang-orang yang disayangi, baik
yang benar-benar disayangi atau pura-pura disayangi. Berdasarkan yang dikutip dari Webster's New 20th
Century Dictionary perayaan Valentine berasal dari perayaan Lupercali. Yaitu
upacara ritual yang dilakukan oleh orang-orang Romawi kuno setiap tanggal 15
Februari sebagai penghormatan kepada Lupercus dewa padang rumput yang
dideskripsikan mempunyai tanduk, kaki, dan telinga seperti kambing. Pada
perayaan itu nama-nama wanita dimasukkan kedalam jambangan bunga. Setiap pria
yang hadir mengambil secarik kertas. Wanita yang namanya tertera dalam kertas
itu menjadi teman kencannya semalam suntuk.
Kemudian pada tahun 469 pihak gereja yakni
Paus Celecius merubah menjadi tanggal 14 Februari untuk mengenang kematian
seorang pendeta yang bernama Saint Valentine yang tewas sebagai martir pada
abad III (martir adalah istilah yang dipakai untuk orang-orang yang mati mem pertahankan prinsip-prinsipnya) dan menetapkan menjadi
Saint Valentine's Day. Pastor Valentine ditangkap dan dipenjara karena
menentang kebijakan kaisar Romawi (Cladius II) yang melarang pemuda-pemudi
untuk menikah. Sang kaisar menginginkan pemuda-pemuda yang lajang untuk menjadi
tentara dan pergi berperang. Tetapi sang pastor malah dengan diam-diam
menikahkan sepasang muda-mudi. Hal ini diketahui oleh sang kaisar. Bukan main
marahnya sang kaisar, akibatnya sang pastor mengakhiri hidupnya dengan tanpa
kepala (dipancung) pada tanggal 14 Februari 269.
Ketika pastor
Valentine dipenjara, banyak surat-surat simpati dari para pemuda yang sedang
kasmaran yang ditujukan kepadanya. Melalui surat itulah mereka mengungkapkan
perasaan sayangnya kepada kekasihnya dan berharap mereka bila menikah.
Sebenarnya kalau kita
menyadari apa yang sebenaranya terjadi dibalik perayaan Valentine tentulah kita
tidak akan berpartisipasi. Allah
telah berfirman. "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu
hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk
Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti
kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi
menjadi pelindung dan penolong bagimu." ( QS. Al-Baqaroh [2]: 120)
Jelas sudah bahwa mereka
senantiasa benci kepada kita kecuali kita berpartisipasi pada acara ritual
mereka, mode pakaian dan pola pikir yang mereka miliki. Dan perayaan Valentine
adalah salah satu sarana mereka untuk memurtadkan kita tanpa kita sadari. Dan
media massa seperti koran, tabloid, televisi, radio, majalah dan lain-lain,
adalah sarana yang sangat efektif untuk mengkampanye program-program mereka.
Jika terlibat didalamnya kita akan dijerumuskan kedalam kemaksiatan tanpa kita
sadari.
Dari sini menunjukkan bahwa perayaan Valentine
bukan perayaan kaum muslimin, namun termasuk perayaan barat. Perayaan ini pun
dimaksudkan untuk mengenang tokoh orang kafir yaitu santo Valentinus. Sehingga
kerusakannya yang terlihat jelas adalah tasyabuh (meniru-niru) orang kafir. Nabi
secara tegas telah melarang
kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh). Beliau bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum,
maka dia termasuk bagian dari mereka”(HR. Ahmad & Abu Daud).
Menyerupai orang kafir
(tasyabbuh) ini terjadi dalam hal
perayaan, penampilan dan kebiasaan yang menjadi ciri khas mereka.
Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan
kesepakatan para ulama (ijma’).
Perayaan ini adalah acara ritual agama lain. Hadiah yang diberikan
sebagai ungkapan cinta, asalnya adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan
dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan
seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka. Sehingga dari sisi
inilah pemberian hadiah valentine menjadi terlarang.
Dalam pemahaman Islam,
kegiatan ritual yang bukan berdasarkan syari’at Islam dan tidak dicontohkan
Rasulullah
seperti halnya Natal, Tahun baru Masehi, Imlek
dan sebagainya maka harus kita sikapi seperti sikap Rasulullah
mensikapi tawaran kaum Quraisy untuk
sama-sama melaksanakan ibadah secara Islam dan ibadah jahiliyah secara
bergantian. Tawaran tersebut dijawab oleh Allah
dengan firman-Nya: "Untukmu agamamu dan untukku agamaku". (QS. Al Kaafirun [109]:
6)
Dalam masalah aqidah
dan ibadah, Islam mengajarkan kita untuk bersikap tegas. Dengan begitu
kemuliaan Islam dan umatnya akan terjaga. Dinul Islam sarat dengan nilai kasih
sayang. Bahkan tegaknya Dinul Islam atas dasar kasih sayang.
Coba simak firman
Allah
berikut: "Muhammad
itu adalah utusan Allah
dan orang-orang yang bersama
dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang
sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah
dan keridhaan-Nya, tanda-tanda
mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka
dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang
mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi
besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya karena Allah
hendak menjengkelkan hati
orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah
menjanjikan kepada orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang
besar." (QS. Al-Fath [48]:29)
Sejalan dengan itu
Rasulullah
juga pernah menyampaikan: "Belum sempurna iman seseorang hingga
ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri"
Kasih sayang dalam
Islam bersifat Universal. Ia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, ia juga tidak
dibatasi oleh objek dan motif. Kasih sayang diwujudkan dalam bentuk yang nyata
seperti silaturahmi, menjenguk yang sakit, meringankan beban tetangga yang
sedang ditinpa musibah, mendamaikan orang yang berselisih, mengajak kepada
kebenaran (amar ma'ruf) dan mencegah dari perbuatan munkar.
Sudah saatnya pemuda
Islam sadar dari keterpurukan dan bangkit menyongsong masa depan yang sudah
berada di tangan Islam. Kalau tidak sekarang kapan lagi?, kalau bukan kita?,
lalu siapa lagi?.
Masih valentine juga?
sebaiknya tidaaaaaaaaak!, say no to valentine.!!
Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
Pesta Tahun Baru, Pesta Jahiliyah
Posted by ROHIS - SMKN 1 CIBINONG
Tag :
Artikel,
baru,
Buletin,
Dept. Humas,
Dept. Tarbiyah Dakwah,
El-Marjan,
jahiliyah,
pesta,
tahun
Pesta Tahun Baru, Pesta Jahiliyah
(Buletin El-Marjan [Edisi. 11/Th. II)
Oleh: O. Solihin [gaulislam.com]
Nuansa
perayaan tahun baru sudah mulai terasa seminggu
bahkan dua minggu sebelum tahun baru kemarin. Tradisi tahunan ini selalu
menjadi perhatian banyak kalangan, termasuk remaja. Sebenarnya pergantian waktu
itu sudah biasa kita alami, tetapi manusia kadang suka menggunakan ukuran waktu
tertentu untuk membuatnya menjadi spesial. Baik spesial harinya, maupun spesial
dalam merayakannya. Momen pergantian tahun sama saja dengan momen pergantian
waktu setiap hari. Adanya hari Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan
Sabtu (ini semua serapan dari kata bahasa Arab) adalah nama-nama hari yang
selalu kita lewatkan sepanjang waktu. Jadi sebenarnya tak ada yang begitu
spesial dalam urusan ini (dirayakan). Namun dalam pandangan Islam, waktu itu
sangat spesial dilihat dari pemanfaatannya dan nilai ibadah. Orang yang tak
pandai memanfaatkan waktu, bakalan rugi di kemudian hari karena jatah umurnya
kian berkurang. Iya dong. Rugi banget jika selama hidup kita hanya diisi dengan
maksiat sampai akhir hayat. Padahal, untuk bekal di akhirat kita membutuhkan
amal shalih.
Sobat
El Marjan rahimakumullah. Tema untuk mengkritisi tahun baru seperti ini sudah
berulang kali dibahas. Insya Allah para pecinta dakwah nggak bakalan bosan ngingetin
manusia yang nggak bosan berbuat maksiat. Selama hayat masih dikandung badan,
dakwah akan terus digelorakan. Jika bukan karena ingin menggapai ridho Allah
Ta’ala untuk menyelamatkan manusia lainnya dari keburukan dan kemungkaran,
untuk apa capek-capek ngingetin manusia yang lupa diri dan bangga berbuat
maksiat. Jadi, jika EL Marjan kini mengangkat tema ini dan saya yakin banyak
kaum muslimin yang paham juga mengangkat tema sejenis akhir-akhir ini—maka itu
bagian dari kepedulian dan cinta kepada kamu semua. Jangankan bagi kamu yang
masih polos dan suka ikut-ikutan dalam berbuat, bagi mereka yang udah mulai
suka ngaji pun kadang kepeleset juga dalam urusan ini. Itu sebabnya, tetap
harus hati-hati bin waspada.
Mengapa
tak boleh rayakan tahun baru?
Sebagai muslim, kita
wajib menjadikan akidah dan syariat Islam sebagai ukuran dan rujukan dalam
setiap pendapat dan perbuatan kita sehari-hari. Muslim yang beriman tentunya
memiliki perhatian khusus terhadap Islam. Mungkin di antara kamu ada yang
bilang, “Kan cuma merayakan biasa aja sama seperti acara lainnya, apanya yang
salah?” Ya, alasan itu bisa dijawab begini: “Kan cuma pergantian waktu seperti
pada umumnya, kenapa harus dirayakan—bahkan dengan hal-hal yang bernuansa
maksiat. Jelas itu kesalahannya.”
Sobat El Marjan,
perayaan tahun baru masehi bukanlah warisan ajaran Islam. Selama ini, kaum
muslimin generasi terdahulu hingga sekarang yang paham tentang Islam hanya
mengetahui dan meyakini bahwa hari raya dalam Islam hanya dua, yakni ‘Idul Adha
dan ‘Idul Fithri. Anas bin Malik mengatakan, “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari
(hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika
itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau
mengatakan, “Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya.
Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu
hari Idul Fithri dan Idul Adha” (HR an-Nasa’i No. 1556)
Nah, karena perayaan
tahun baru bukanlah ajaran Islam, maka kaum muslimin yang merayakannya dianggap
tasyabbuh (menyerupai atau meniru-niru orang kafir) dalam budaya mereka.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia
termasuk bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)
Menyerupai orang
kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan
(termasuk budaya dan pendapat-pendapat mereka tentang kehidupan). Tasyabbuh di
sini diharamkan berdasarkan dalil al-Quran, as-Sunnah dan kesepakatan para
ulama (ijma’).
Dari
Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,“Sungguh
kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal
dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke
lubang dhob, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para
sahabat) berkata, “Wahai
Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?”
Beliau menjawab, “Lantas
siapa lagi?” (HR Muslim, No. 2669)
Nah,
di sisi lain, perayaan tahun baru juga bermasalah. Coba aja lihat deh, mereka
yang merayakan tahun baru itu rela begadang, menyia-nyiakan waktu, dan bahkan
rawan perbuatan maksiat lainnya seperti perzinahan. Orang yang merayakan tahun
baru tak sekadar yang turun ke jalan lalu meniup terompet dan menyulut kembang
api, tetapi ada juga yang demi merayakan tahun baru malah berzina dengan
pacarnya di tempat-tempat tertentu. Seolah, tahun baru menjadi momen spesial
bagi mereka. Tetapi sayangnya, yang dianggap spesial itu justru dalam berbuat
maksiat.
Manfaatkan
waktumu
Ya,
waktu ibarat pedang. Setiap detik ia memenggal kesempatan kita, tanpa kenal
kompromi. Kejam, kita rasa memang
demikian. Tapi alangkah lebih kejamnya lagi apabila kita tidak memanfaatkannya
untuk kebaikan. Itu namanya kita menzalimi diri kita sendiri. Sebab, ini
persoalan bagaimana kita mengatur waktu yang terbatas yang diberikan oleh Allah
Swt. Jangan sampai kita gunakan untuk hal-hal yang nggak ada manfaatnya.
Terbatas? Memang
demikian faktanya, kawan. Andai saja usia kita di dunia ini 60 tahun. Maka
itulah batas hidup kita di dunia ini. Ukuran panjang dan pendek, adalah
hitungan logika kita, tapi tetap pada hakikatnya itu terbatas. Jadi, jangan
sia-siakan waktumu.
Sobat El Marjan.
Sebagai manusia, kita emang terbatas dan nggak sempurna. Itu sebabnya, kita
jangan sampe melupakan siapa kita dan misi keberadaan kita di dunia ini. Ini
wajib kita pahami betul, sobat. Kalau nggak? Wah, bisa kacau-beliau tuh. Coba
aja perhatiin orang yang nggak sadar siapa dirinya dan misi adanya dia dunia
ini, hidupnya suka semau gue. Seakan hidup nggak kenal waktu. Bahkan bagi orang
yang kehidupannya diberikan kebahagiaan berlebih oleh Allah, suka lupa dan
merasa ia akan hidup selamanya di dunia ini. Apalagi bila kita menjalaninya
dengan serba mudah dan indah. Nikmat memang. Namun, sebetulnya kita sedang
digiring ke arah tipu daya yang bakal menyesatkan kita bila kita tak
segera menyadarinya. Rasulullah saw bersabda: “Ada dua nikmat, dimana
manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” (HR
Bukhari)
Dr Yusuf Qardhawi
dalam kitabnya, al-Waktu fii Hayaatil Muslim berwejang, “bila orang melewati satu hari dalam hidupnya
tanpa ada suatu hak yang ia tunaikan atau suatu fardhu yang ia lakukan, atau
kemuliaan yang ia wariskan, atau pujian yang ia hasilkan, atau kebaikan yang ia
tanamkan, atau ilmu yang ia dapatkan, maka sungguh-sungguh ia telah menganiaya
dirinya sendiri.”
Belum lagi bahaya
yang bakal kita terima saat kita menyia-nyiakan waktu. Paling nggak ada tiga
akibat; kekosongan akal, kekosongan hati, dan kekosongan jiwa. Kalo begitu,
kita nggak ada bedanya sama “teman-teman” di Ragunan. Ih, amit-amit ya? Jangan
sampe deh.
Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya
binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang
pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.” (QS al-Anfâl [8]: 22)
Begitu pentingnya
akal ini, hingga Umar bin Khattab radhiallaahu ‘anhu pernah mengatakan, “Pokok dasar seseorang adalah akalnya,
keluhurannya adalah agamanya, dan harga dirinya adalah akhlaknya.” Tuh,
catet ya!
Ali bin Abi Thalib ra
juga pernah berwasiat kepada putranya, Hasan dan Husein, sesaat sebelum
meninggal dunia: “Sesungguhnya kekayaan
yang paling tinggi nilainya adalah akal pikiran. Kemelaratan yang paling parah
adalah kebodohan.”
Yang kedua tentang
hati. Kata Imam al-Ghazaliy, “hati itu
ibarat cermin. Kalo nggak pernah dibersihkan, maka akan berkarat oleh debu. Itu
sebabnya, bila kita tidak memanfaatkan waktu untuk mengingat Allah, untuk hadir
di majelis-majelis dzikir, hati kita akan kosong. Ujungnya, kita mudah resah,
putus asa, frustrasi dan sejenisnya.”
Menyia-nyiakan waktu
juga bisa berakibat kosongnya jiwa kita. Sayyid Qutb memberi gambaran: “Itulah jiwa yang kosong, yang tidak pernah
mengenal makna serius. Ia bersikap santai meski menghadapi bahaya yang
mengintai. Ia bercanda ria di saat membutuhkan keseriusan dan senantiasa
meremehkan permasalahan yang suci dan sakral. Jiwa yang kosong dari sikap yang
serius dan penuh kesucian, akan meremehkan setiap persoalan yang menyelimutinya,
mengalami kegersangan jiwa dan dekadensi moral.”
Tuh, buktinya
sekarang. Ketika banyak orang ngasih nasihat agar jangan merayakan tahun baru,
ternyata banyak juga yang tak mempedulikannya. Tak lagi dianggap sebagai bentuk
peringatan, malah dilecehkan.
Kalo kamu mulai menyia-nyiakan waktumu, maka itu artinya kamu sudah mengarahkan langkah kamu ke dalam jurang kehancuran. Kosong akal, kosong hati, dan kosong jiwa. Kalo udah begitu, alamat kehidupan ini terasa garing dan nggak bermakna. Padahal, kehidupan di dunia ini cuma sesaat dan amat semu. Jadi, mulai sekarang dewasalah Sobat. -Nggak usah ikut-ikutan merayakan tahun baru lagi, nggak ada manfaatnya. Sebaliknya hal itu justru membawa mafsadat (kerusakan) bagi akidah kita, juga kepribadian kita. Hindari dan jauhi pesta jahiliyah tersebut. Ok? Sip!
Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
mmmmm..... Liburan ^^
(Buletin El-Marjan [Edisi. 10/Th. II)
Oleh: Abid Ramadhan [RDM13]
Libur telah
tiba.. horee..
Alhamdulillaah, liburan yang ditunggu tunggu tiba. Siapasih yang gak mau libur
atau gak senang kalau musim libur tiba? Masa yang dinanti nanti oleh kita para
pelajar dan tentunya oleh para pekerja juga. Bagi kita pelajar, dalam menjalani
rutinitas belajar sehari hari disekolah, dari pagi sampai sore, senin sampai
jum’at pasti lelaah badan dan pikiran, belum lagi ditambah les or bimbel diluar
sekolah. Dan liburan, datang sebagai obat darinya. Haha. Wiih.. liburan sudah
seperti sirup dingin penyegar dehh, dikala haus disaat cuaca panas menggiring
menuju dehidrasi. Yap, ialah kebutuhan kita untuk menghibur diri atau merefresh
diri setelah bergelut dengan rutinitas yang padat keseriusan.
Islam pun sangat menganjurkan kita untuk seimbang
dalam hidup. Serius mencari pahala Allah, namun tetap memperhatikan kebutuhan
diri. Menuntut ilmu wajib dari masa
di gendongan sampai ke liang lahat, namun kita juga butuh refreshing, betul?
Yapp, kita memang butuh hiburan atau refreshing tapi yang secukupnya aja, oke!?.
Keseriusan yang terus menerus tidak menjadikan diri kita baik, apalagi hiburan
atau refreshing yang terus menerus.
Mari
kita simak sabda Rasulullah
yang memperingatkan kita agar bersikap
seimbang dan tidak memberatkan diri: “Sesungguhnya
agama ini mudah. Tiada orang yang memberatkan diri dalam urusan agama, kecuali
ia akan dikalahkan. Maka mudahkanlah, mendekatlah, bergembiralah, dan gunakan
sebaik mungkin waktu pagi, waktu sore dan sebagian waktu malam kalian -untuk
memperbanyak kebaikan-.” (HR.
Bukhari)
Imam
An-Nawawi mengomentari hadits ini seraya berkata: “Orang yang memberatkan diri dalam masalah agama
akan dikalahkan oleh agama itu sendiri, ia nantinya akan bosan melaksanakan
amalan agama. Gunakan waktu giat kalian untuk taat kepada Allah dengan
melaksanakan beragam amal kebaikan. Gunakan saat suasana hati kalian lagi fress
untuk meraskan kenikmatan ibadah, sehingga kalian tidak akan merasa bosan, dan
kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan.”
Take
it easy, Sobat! Bila waktunya serius, maka seriuslah, dan bila
tiba waktunya untuk refreshing (ketika mulai jenuh) segeralah refreshkan
diri, jangan biarkan kejenuhan bertahan dalam diri kita.
Dengan
kejenuhan yang bertahan dalam diri kita, ia dapat melempar kita jauh (menjadi
bosan) dari rutinitas kita.
So,
sobat yang doyan banget belajar atau kerja, pahami dirimu yaa. Tau kapan hati
dan jiwa nya butuh penyegaran, jangan memaksakan diri dalam keseriusan. Keseriusan yang terus menerus tidak menjadikan
diri kita baik.
Dan,
sobat sobat yang doyan main atau menghibur diri terus, lebih gak baik lagi
tuhh. Hiburan, memang kebutuhan kita, tapi bukan alasan untuk menghibur diri
terus menerus. Ya masa iyaa sihh, kita jenuh tiap hari? tiap jam? Tiap menit?
Kalau setiap hari okelah, namun dengan seimbang yaa, antara tingkat
kejenuhannya dengan hiburannya. Dan perlu diingat, bila kita menghibur diri,
kemudian belum merasa cukup dan belum belum merasa cukup, hati hati, bisa jadi
itu udah terlalu pw dalam menghibur
dirinya dan jadi males untuk kembali ke rutinitas. Bahaya tuh, Sobat. Awalnya
kebutuhan, kemudian jadi melenakan atau melalaikan.
Ada
tiga efek dari liburan atau refreshing. Yang pasti adalah diri kita ter refresh, ya pastilah mas!
Yang pertama, kebutuhan terpenuhi dan
bernilai ibadah.
Yang kedua, kebutuhan terpenuhi aja.
Yang ketiga, kebutuhan terpenuhi dan
membawa dosa.
Bagaimana bisa dari kebutuhan menjadi
pahala? Bisa dong. Suatu kebaikan apabila diiringi dengan do’a dan pengikutan
terhadap ajaran Rasulullah
akan bernilai ibadah dimata Allah. Yang
bagaimana contohnya? Yang pastinya refreshingnya tidak melebihi kebutuhan.
Kemudian yang tidak menyalahi syariat Islam.
Kalau kebutuhan terpenuhi saja,
seperti kata Imam An-Nawawi : “Rehatkan
jiwa kalian dari rutinitas ibadah, dengan melakukan hal yang dibolehkan, yang
tidak ada dosa tapi juga tidak berpahala.”
Yang penting tidak membawa keburukan dibalik alasan kebutuhan. Sekedar
mengerjakan yang mubah(boleh)
saja untuk merefreshkan diri.
Dan kebutuhan terpenuhi dan membawa dosa ini yang buruk, yang harus
diwaspadai dihindari! Waktu liburan kita
panjang kan? Satu tahun lho.. dari 2013 sampai 2014, yea ga? Itu berarti kita
punya waktu luang banyaak. Bukankah waktu luang ini adalah nikmat dari Allah
? Nikmat yang Allah berikan
janganlah kita sia-sia kan, apalagi malah menjadikannya pembawa dosa untuk diri
kita sendiri.
Rasulullah
pernah bersabda berkaitan dengan
nikmat yang satu ini : “Ada
dua nikmat yang kebanyakan orang tertipu darinya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, no. 6412)
Ya, kebanyakan
orang tertipu dan malah bukan makin membaik dengan adanya kesempatan pada waktu
luang (liburan). Apalagi kita remaja. “Remaja
+ waktu luang = permulaan maksiat. Oleh karena itu rencanakan waktu luang anda
denganaktifitas yang bermanfaat. Karena syaithan juga merencanakan sesuatu
terhadap anda.” Ini saya kutip dari saudara kita sesama agen dakwah. Ya
memang benar, karena remaja, sifat umum nya kebanyakan yang masih suka terbawa
dan sangat rentan terhasut bisikan bisikan syaithan.
Banyak
orangtua mengeluh, ketika liburan anaknya malah malas malasan dirumah. Ada yang
sekolah libur, bantu orang tua libur juga. Ada yang hari libur, minta ongkosnya
lebih banyak daripada hari sekolah. Atau
malah main gak jelas diluar rumah tanpa sepengetahuan orangtua dan pulang
pulang membawa masalah. Dan berbagai macam kasusnya. Naudzubillaah...
Masa
liburan, daripada menyusahkan orangtua, mending birrul walidain aja deh
dapat pahala. Kita bantu bantu orang tua kita dirumah, atau ajak orangtua
berlibur bersama. Karena di saat kita aktif sekolah kita sedikit waktu untuk
bersama orangtua. Mumpung libur, waktu luangnya banyaak, mengapa tidak? Katanya
I love mom and dad ?
“Seorang hamba pada hari kiamat
tiada melangkahkan kedua kakinya sehingga ditanyakan kepadanya empat perkara,
yaitu tentang umurnya dohabiskan untuk apa, tentang ilmunya diamalkan untuk
apa, tentang hartanya dari manadiperolehnya dan untuk kepentingan apa
dihabiskan, serta masa muda dihabiskan untuk apa.” (HR. At Tirmidzi)
Ingat
sobat, semua yang kita kerjakan akan dimintai pertanggung jawabnya di depan
Sang Pencipta. Dan tiada lagi daya upaya kita untuk berdalih/ngeless
seperti saat didunia kepada penagih hutang. Bila amalan kita baik, InsyaAllah
masuk syurgaNYA deh.. Aamiin.. Namun, bila amalan kita buruk.. gedebug~
jatuhlah kita ke neraka yang siksanya amat pedih. Hiii.... gak mau kan? Saya
juga gak mau.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu
benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal shaleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk
kesabaran.” (Qs. Al ‘Ashr[103]:1-3)
Apakah
kita termasuk golongan yang merugi? Atau golongan yang beruntung?
Pada
masa liburan ini, alangkah baiknya kita menghindarkan diri dari kegiatan yang
sia sia. Apalagi yang sudah kelas xii, mempersiapkan untuk UN dan perpindahan
masa (masa sekolah menuju kuliah atau kerja). Dan yang kelas x dan xi
mempersiapkan diri untuk prakerin dan meningkatkan nilai danatau prestasi untuk
kelak mendaftar kuliah atau melamar kerja.
Penyesalan itu
selalu datangnya terakhir, sobat! Kata pak Mario: “Ya Iyalah.., kalau lebih
awal, namanya pendafatraan”
Sobat! Sebelum
kita mendapati diri kita menyesal, sebelum nasi menjadi bubur, sebelum matahari
terbit dari barat. Kerjakan yang bermanfaat sebelum itu itu semua, dan pikirkanlah
dalam perencanaannya.
Dan
dalam acara liburan, patut kita pikirkan supaya tiada penyesalan diakhirnya..
apakah sudah menyiapkan kegiatan kegiatan yang akan
dilakukan?
Sudah kah menentukan kegiatan kegiatan yang bermanfaat?
Sudahkah
merencanakan kegiatan kegiatan yang menghindarkan diri kita dari perbuatan
sia-sia lagi membawa dosa?
Ingaat!
Sobat! Refreshing boleh boleh saja, asalkan tidak melebihi kebutuhan, dan tidak
membawa keburukan atau dosa, apalagi sampai menyalahi syariat Islam.
So?
Ayo kita cek lagi kegiatan kegiatan liburan kita, termasuk yang manakah liburan
kita? Yang membawa pahala? Yang biasa biasa saja? Atau malah menambah dosa?
Wallaahu a'lam bisshowab...Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn