Valentine's Day

Minggu, 07 Februari 2016
Posted by ROHIS - SMKN 1 CIBINONG
Valentine's Day
(Buletin El-Marjan [Edisi. 3/Th. II)
Oleh: Berry Hardisakha

Cinta yang tumbuh karena IMAN, AMAL SHALIH dan AKHLAK yang MULIA, akan senantiasa bersemi, tak lekang karena sinar matahari dan tak luntur karena hujan dan tak akan putus meskipun ajal menjemput”

Berbicara tentang Valentine’s Day, siapa yang tidak mengetahui tentang hari Kasih Sayang -katanya- tersebut. Valentine’s Day atau biasa disebut hari kasih sayang yang jatuh pada tanggal 14 Februari. Hari tersebut sangat populer di negara-negara Eropa dan Amerika. Pada hari itu terutama kaum remaja merayakan dengan hura-hura. Mayoritas yang merayakannya adalah orang yang sedang jatuh cinta. Ini pun dianut saat ini dan semakin meluas dikalangan muda-mudi di negeri kita ini. Saat hari tersebut ada yang memberikan coklat kepada kekasihnya atau kado spesial lainnya.

Di Indonesia? Tampaknya tidak jauh berbeda dengan remaja-remaja diluar negeri sana. Mereka yang notabene-nya muslim-muslimah, menjiplak habis-habisan perilaku remaja orang barat. Hal ini, tentu saja sangat memprihatinkan karena kalau dilihat dari latar belakang sejarah perayaan Valentine bukan berasal dari ajaran Islam. Tapi bukan hanya itu masalahnya. Akan tetapi perayaan Valentine selalu dibarengi dengan kegiatan-kegiatan yang mubazir, berbau jahiliyah dan cenderung kepada kemaksiatan.

Secara etimologis Valentine berasal dari kata Valentinus yang artinya adalah suatu kartu ucapan selamat yang dikirimkan kepada orang-orang yang disayangi, baik yang benar-benar disayangi atau pura-pura disayangi. Berdasarkan yang dikutip dari Webster's New 20th Century Dictionary perayaan Valentine berasal dari perayaan Lupercali. Yaitu upacara ritual yang dilakukan oleh orang-orang Romawi kuno setiap tanggal 15 Februari sebagai penghormatan kepada Lupercus dewa padang rumput yang dideskripsikan mempunyai tanduk, kaki, dan telinga seperti kambing. Pada perayaan itu nama-nama wanita dimasukkan kedalam jambangan bunga. Setiap pria yang hadir mengambil secarik kertas. Wanita yang namanya tertera dalam kertas itu menjadi teman kencannya semalam suntuk.

Kemudian pada tahun 469 pihak gereja yakni Paus Celecius merubah menjadi tanggal 14 Februari untuk mengenang kematian seorang pendeta yang bernama Saint Valentine yang tewas sebagai martir pada abad III (martir adalah istilah yang dipakai untuk orang-orang yang mati mem pertahankan prinsip-prinsipnya) dan menetapkan menjadi Saint Valentine's Day. Pastor Valentine ditangkap dan dipenjara karena menentang kebijakan kaisar Romawi (Cladius II) yang melarang pemuda-pemudi untuk menikah. Sang kaisar menginginkan pemuda-pemuda yang lajang untuk menjadi tentara dan pergi berperang. Tetapi sang pastor malah dengan diam-diam menikahkan sepasang muda-mudi. Hal ini diketahui oleh sang kaisar. Bukan main marahnya sang kaisar, akibatnya sang pastor mengakhiri hidupnya dengan tanpa kepala (dipancung) pada tanggal 14 Februari 269.

Ketika pastor Valentine dipenjara, banyak surat-surat simpati dari para pemuda yang sedang kasmaran yang ditujukan kepadanya. Melalui surat itulah mereka mengungkapkan perasaan sayangnya kepada kekasihnya dan berharap mereka bila menikah.

Sebenarnya kalau kita menyadari apa yang sebenaranya terjadi dibalik perayaan Valentine tentulah kita tidak akan berpartisipasi. Allah Subhanahu wa Taala telah berfirman. "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." ( QS. Al-Baqaroh [2]: 120)

Jelas sudah bahwa mereka senantiasa benci kepada kita kecuali kita berpartisipasi pada acara ritual mereka, mode pakaian dan pola pikir yang mereka miliki. Dan perayaan Valentine adalah salah satu sarana mereka untuk memurtadkan kita tanpa kita sadari. Dan media massa seperti koran, tabloid, televisi, radio, majalah dan lain-lain, adalah sarana yang sangat efektif untuk mengkampanye program-program mereka. Jika terlibat didalamnya kita akan dijerumuskan kedalam kemaksiatan tanpa kita sadari.

Dari sini menunjukkan bahwa perayaan Valentine bukan perayaan kaum muslimin, namun termasuk perayaan barat. Perayaan ini pun dimaksudkan untuk mengenang tokoh orang kafir yaitu santo Valentinus. Sehingga kerusakannya yang terlihat jelas adalah tasyabuh (meniru-niru) orang kafir. Nabi 500px-mohamed_peace_be_upon_him-svg secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh). Beliau bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”(HR. Ahmad & Abu Daud).

Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal  perayaan, penampilan dan kebiasaan yang menjadi ciri khas mereka. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).

Perayaan ini adalah acara ritual agama lain. Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta, asalnya adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka. Sehingga dari sisi inilah pemberian hadiah valentine menjadi terlarang.

Dalam pemahaman Islam, kegiatan ritual yang bukan berdasarkan syari’at Islam dan tidak dicontohkan Rasulullah 500px-mohamed_peace_be_upon_him-svg  seperti halnya Natal, Tahun baru Masehi, Imlek dan sebagainya maka harus kita sikapi seperti sikap Rasulullah 500px-mohamed_peace_be_upon_him-svg mensikapi tawaran kaum Quraisy untuk sama-sama melaksanakan ibadah secara Islam dan ibadah jahiliyah secara bergantian. Tawaran tersebut dijawab oleh Allah Subhanahu wa Taala dengan firman-Nya: "Untukmu agamamu dan untukku agamaku". (QS. Al Kaafirun [109]: 6)

Dalam masalah aqidah dan ibadah, Islam mengajarkan kita untuk bersikap tegas. Dengan begitu kemuliaan Islam dan umatnya akan terjaga. Dinul Islam sarat dengan nilai kasih sayang. Bahkan tegaknya Dinul Islam atas dasar kasih sayang.

Coba simak firman Allah Subhanahu wa Taala berikut: "Muhammad itu adalah utusan Allah Subhanahu wa Taala dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah Subhanahu wa Taala dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah Subhanahu wa Taala hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah Subhanahu wa Taala menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Fath [48]:29)

Sejalan dengan itu Rasulullah 500px-mohamed_peace_be_upon_him-svg juga pernah menyampaikan: "Belum sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri"

Kasih sayang dalam Islam bersifat Universal. Ia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, ia juga tidak dibatasi oleh objek dan motif. Kasih sayang diwujudkan dalam bentuk yang nyata seperti silaturahmi, menjenguk yang sakit, meringankan beban tetangga yang sedang ditinpa musibah, mendamaikan orang yang berselisih, mengajak kepada kebenaran (amar ma'ruf) dan mencegah dari perbuatan munkar.
Sudah saatnya pemuda Islam sadar dari keterpurukan dan bangkit menyongsong masa depan yang sudah berada di tangan Islam. Kalau tidak sekarang kapan lagi?, kalau bukan kita?, lalu siapa lagi?.

Masih valentine juga? sebaiknya tidaaaaaaaaak!, say no to valentine.!!

Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com 
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
Pesta Tahun Baru, Pesta Jahiliyah
(Buletin El-Marjan [Edisi. 11/Th. II)
Oleh: O. Solihin [gaulislam.com]

Nuansa perayaan tahun baru sudah mulai terasa seminggu  bahkan dua minggu sebelum tahun baru kemarin. Tradisi tahunan ini selalu menjadi perhatian banyak kalangan, termasuk remaja. Sebenarnya pergantian waktu itu sudah biasa kita alami, tetapi manusia kadang suka menggunakan ukuran waktu tertentu untuk membuatnya menjadi spesial. Baik spesial harinya, maupun spesial dalam merayakannya. Momen pergantian tahun sama saja dengan momen pergantian waktu setiap hari. Adanya hari Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu (ini semua serapan dari kata bahasa Arab) adalah nama-nama hari yang selalu kita lewatkan sepanjang waktu. Jadi sebenarnya tak ada yang begitu spesial dalam urusan ini (dirayakan). Namun dalam pandangan Islam, waktu itu sangat spesial dilihat dari pemanfaatannya dan nilai ibadah. Orang yang tak pandai memanfaatkan waktu, bakalan rugi di kemudian hari karena jatah umurnya kian berkurang. Iya dong. Rugi banget jika selama hidup kita hanya diisi dengan maksiat sampai akhir hayat. Padahal, untuk bekal di akhirat kita membutuhkan amal shalih.

Sobat El Marjan rahimakumullah. Tema untuk mengkritisi tahun baru seperti ini sudah berulang kali dibahas. Insya Allah para pecinta dakwah nggak bakalan bosan ngingetin manusia yang nggak bosan berbuat maksiat. Selama hayat masih dikandung badan, dakwah akan terus digelorakan. Jika bukan karena ingin menggapai ridho Allah Ta’ala untuk menyelamatkan manusia lainnya dari keburukan dan kemungkaran, untuk apa capek-capek ngingetin manusia yang lupa diri dan bangga berbuat maksiat. Jadi, jika EL Marjan kini mengangkat tema ini dan saya yakin banyak kaum muslimin yang paham juga mengangkat tema sejenis akhir-akhir ini—maka itu bagian dari kepedulian dan cinta kepada kamu semua. Jangankan bagi kamu yang masih polos dan suka ikut-ikutan dalam berbuat, bagi mereka yang udah mulai suka ngaji pun kadang kepeleset juga dalam urusan ini. Itu sebabnya, tetap harus hati-hati bin waspada.

Mengapa tak boleh rayakan tahun baru?
Sebagai muslim, kita wajib menjadikan akidah dan syariat Islam sebagai ukuran dan rujukan dalam setiap pendapat dan perbuatan kita sehari-hari. Muslim yang beriman tentunya memiliki perhatian khusus terhadap Islam. Mungkin di antara kamu ada yang bilang, “Kan cuma merayakan biasa aja sama seperti acara lainnya, apanya yang salah?” Ya, alasan itu bisa dijawab begini: “Kan cuma pergantian waktu seperti pada umumnya, kenapa harus dirayakan—bahkan dengan hal-hal yang bernuansa maksiat. Jelas itu kesalahannya.”

Sobat El Marjan, perayaan tahun baru masehi bukanlah warisan ajaran Islam. Selama ini, kaum muslimin generasi terdahulu hingga sekarang yang paham tentang Islam hanya mengetahui dan meyakini bahwa hari raya dalam Islam hanya dua, yakni ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri. Anas bin Malik mengatakan, “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, “Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha” (HR an-Nasa’i No. 1556)

Nah, karena perayaan tahun baru bukanlah ajaran Islam, maka kaum muslimin yang merayakannya dianggap tasyabbuh (menyerupai atau meniru-niru orang kafir) dalam budaya mereka. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan (termasuk budaya dan pendapat-pendapat mereka tentang kehidupan). Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil al-Quran, as-Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).

Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR Muslim, No. 2669)

Nah, di sisi lain, perayaan tahun baru juga bermasalah. Coba aja lihat deh, mereka yang merayakan tahun baru itu rela begadang, menyia-nyiakan waktu, dan bahkan rawan perbuatan maksiat lainnya seperti perzinahan. Orang yang merayakan tahun baru tak sekadar yang turun ke jalan lalu meniup terompet dan menyulut kembang api, tetapi ada juga yang demi merayakan tahun baru malah berzina dengan pacarnya di tempat-tempat tertentu. Seolah, tahun baru menjadi momen spesial bagi mereka. Tetapi sayangnya, yang dianggap spesial itu justru dalam berbuat maksiat.

Manfaatkan waktumu
Ya, waktu ibarat pedang. Setiap detik ia memenggal kesempatan kita, tanpa kenal kompromi. Kejam, kita rasa memang demikian. Tapi alangkah lebih kejamnya lagi apabila kita tidak memanfaatkannya untuk kebaikan. Itu namanya kita menzalimi diri kita sendiri. Sebab, ini persoalan bagaimana kita mengatur waktu yang terbatas yang diberikan oleh Allah Swt. Jangan sampai kita gunakan untuk hal-hal yang nggak ada manfaatnya.

Terbatas? Memang demikian faktanya, kawan. Andai saja usia kita di dunia ini 60 tahun. Maka itulah batas hidup kita di dunia ini. Ukuran panjang dan pendek, adalah hitungan logika kita, tapi tetap pada hakikatnya itu terbatas. Jadi, jangan sia-siakan waktumu.

Sobat El Marjan. Sebagai manusia, kita emang terbatas dan nggak sempurna. Itu sebabnya, kita jangan sampe melupakan siapa kita dan misi keberadaan kita di dunia ini. Ini wajib kita pahami betul, sobat. Kalau nggak? Wah, bisa kacau-beliau tuh. Coba aja perhatiin orang yang nggak sadar siapa dirinya dan misi adanya dia dunia ini, hidupnya suka semau gue. Seakan hidup nggak kenal waktu. Bahkan bagi orang yang kehidupannya diberikan kebahagiaan berlebih oleh Allah, suka lupa dan merasa ia akan hidup selamanya di dunia ini. Apalagi bila kita menjalaninya dengan serba mudah dan indah. Nikmat memang. Namun, sebetulnya kita sedang digiring  ke arah tipu daya yang bakal menyesatkan kita bila kita tak segera menyadarinya. Rasulullah saw bersabda: “Ada dua nikmat, dimana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhari)

Dr Yusuf Qardhawi dalam kitabnya, al-Waktu fii Hayaatil Muslim berwejang, “bila orang melewati satu hari dalam hidupnya tanpa ada suatu hak yang ia tunaikan atau suatu fardhu yang ia lakukan, atau kemuliaan yang ia wariskan, atau pujian yang ia hasilkan, atau kebaikan yang ia tanamkan, atau ilmu yang ia dapatkan, maka sungguh-sungguh ia telah menganiaya dirinya sendiri.”

Belum lagi bahaya yang bakal kita terima saat kita menyia-nyiakan waktu. Paling nggak ada tiga akibat; kekosongan akal, kekosongan hati, dan kekosongan jiwa. Kalo begitu, kita nggak ada bedanya sama “teman-teman” di Ragunan. Ih, amit-amit ya? Jangan sampe deh.

Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.” (QS al-Anfâl [8]: 22)

Begitu pentingnya akal ini, hingga Umar bin Khattab radhiallaahu ‘anhu pernah mengatakan, “Pokok dasar seseorang adalah akalnya, keluhurannya adalah agamanya, dan harga dirinya adalah akhlaknya.” Tuh, catet ya!
Ali bin Abi Thalib ra juga pernah berwasiat kepada putranya, Hasan dan Husein, sesaat sebelum meninggal dunia: “Sesung­guhnya kekayaan yang paling tinggi nilainya adalah akal pikiran. Kemelaratan yang paling parah adalah kebodohan.”

Yang kedua tentang hati. Kata Imam al-Ghazaliy, “hati itu ibarat cermin. Kalo nggak pernah dibersihkan, maka akan berkarat oleh debu. Itu sebabnya, bila kita tidak memanfaatkan waktu untuk mengingat Allah, untuk hadir di majelis-majelis dzikir, hati kita akan kosong. Ujungnya, kita mudah resah, putus asa, frustrasi dan sejenisnya.”

Menyia-nyiakan waktu juga bisa berakibat kosongnya jiwa kita. Sayyid Qutb memberi gambaran: “Itulah jiwa yang kosong, yang tidak pernah mengenal makna serius. Ia bersikap santai meski menghadapi bahaya yang mengintai. Ia bercanda ria di saat membutuhkan keseriusan dan senantiasa meremehkan permasalahan yang suci dan sakral. Jiwa yang kosong dari sikap yang serius dan penuh kesucian, akan meremehkan setiap persoalan yang menyelimutinya, mengalami kegersangan jiwa dan dekadensi moral.”

Tuh, buktinya sekarang. Ketika banyak orang ngasih nasihat agar jangan merayakan tahun baru, ternyata banyak juga yang tak mempedulikannya. Tak lagi dianggap sebagai bentuk peringatan, malah dilecehkan.

Kalo kamu mulai menyia-nyiakan waktumu, maka itu artinya kamu sudah mengarahkan langkah kamu ke dalam jurang kehancuran. Kosong akal, kosong hati, dan kosong jiwa. Kalo udah begitu, alamat kehidupan ini terasa garing dan nggak bermakna. Padahal, kehidupan di dunia ini cuma sesaat dan amat semu. Jadi, mulai sekarang dewasalah Sobat. -Nggak usah ikut-ikutan merayakan tahun baru lagi, nggak ada manfaatnya. Sebaliknya hal itu justru membawa mafsadat (kerusakan) bagi akidah kita, juga kepribadian kita. Hindari dan jauhi pesta jahiliyah tersebut. Ok? Sip!

Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com 
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
mmmmm..... Liburan ^^
(Buletin El-Marjan [Edisi. 10/Th. II)
Oleh: Abid Ramadhan [RDM13]

Libur telah tiba.. horee.. Alhamdulillaah, liburan yang ditunggu tunggu tiba. Siapasih yang gak mau libur atau gak senang kalau musim libur tiba? Masa yang dinanti nanti oleh kita para pelajar dan tentunya oleh para pekerja juga. Bagi kita pelajar, dalam menjalani rutinitas belajar sehari hari disekolah, dari pagi sampai sore, senin sampai jum’at pasti lelaah badan dan pikiran, belum lagi ditambah les or bimbel diluar sekolah. Dan liburan, datang sebagai obat darinya. Haha. Wiih.. liburan sudah seperti sirup dingin penyegar dehh, dikala haus disaat cuaca panas menggiring menuju dehidrasi. Yap, ialah kebutuhan kita untuk menghibur diri atau merefresh diri setelah bergelut dengan rutinitas yang padat keseriusan.

Islam pun sangat menganjurkan kita untuk seimbang dalam hidup. Serius mencari pahala Allah, namun tetap memperhatikan kebutuhan diri. Menuntut ilmu wajib dari masa di gendongan sampai ke liang lahat, namun kita juga butuh refreshing, betul? Yapp, kita memang butuh hiburan atau refreshing tapi yang secukupnya aja, oke!?. Keseriusan yang terus menerus tidak menjadikan diri kita baik, apalagi hiburan atau refreshing yang terus menerus.

Mari kita simak sabda Rasulullah Description: Description: shallahu'alaihi was sallam copy yang memperingatkan kita agar bersikap seimbang dan tidak memberatkan diri: “Sesungguhnya agama ini mudah. Tiada orang yang memberatkan diri dalam urusan agama, kecuali ia akan dikalahkan. Maka mudahkanlah, mendekatlah, bergembiralah, dan gunakan sebaik mungkin waktu pagi, waktu sore dan sebagian waktu malam kalian -untuk memperbanyak kebaikan-.” (HR. Bukhari)

Imam An-Nawawi mengomentari hadits ini seraya berkata: “Orang yang memberatkan diri dalam masalah agama akan dikalahkan oleh agama itu sendiri, ia nantinya akan bosan melaksanakan amalan agama. Gunakan waktu giat kalian untuk taat kepada Allah dengan melaksanakan beragam amal kebaikan. Gunakan saat suasana hati kalian lagi fress untuk meraskan kenikmatan ibadah, sehingga kalian tidak akan merasa bosan, dan kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan.”

Take it easy, Sobat! Bila waktunya serius, maka seriuslah, dan bila tiba waktunya untuk refreshing (ketika mulai jenuh) segeralah refreshkan diri, jangan biarkan kejenuhan bertahan dalam diri kita.
Dengan kejenuhan yang bertahan dalam diri kita, ia dapat melempar kita jauh (menjadi bosan) dari rutinitas kita.

So, sobat yang doyan banget belajar atau kerja, pahami dirimu yaa. Tau kapan hati dan jiwa nya butuh penyegaran, jangan memaksakan diri dalam keseriusan. Keseriusan yang terus menerus tidak menjadikan diri kita baik.
Dan, sobat sobat yang doyan main atau menghibur diri terus, lebih gak baik lagi tuhh. Hiburan, memang kebutuhan kita, tapi bukan alasan untuk menghibur diri terus menerus. Ya masa iyaa sihh, kita jenuh tiap hari? tiap jam? Tiap menit? Kalau setiap hari okelah, namun dengan seimbang yaa, antara tingkat kejenuhannya dengan hiburannya. Dan perlu diingat, bila kita menghibur diri, kemudian belum merasa cukup dan belum belum merasa cukup, hati hati, bisa jadi itu udah terlalu pw dalam menghibur dirinya dan jadi males untuk kembali ke rutinitas. Bahaya tuh, Sobat. Awalnya kebutuhan, kemudian jadi melenakan atau melalaikan.

Ada tiga efek dari liburan atau refreshing. Yang pasti adalah diri kita ter refresh, ya pastilah mas!
Yang pertama, kebutuhan terpenuhi dan bernilai ibadah.
Yang kedua, kebutuhan terpenuhi aja.
Yang ketiga, kebutuhan terpenuhi dan membawa dosa.

Bagaimana bisa dari kebutuhan menjadi pahala? Bisa dong. Suatu kebaikan apabila diiringi dengan do’a dan pengikutan terhadap ajaran Rasulullah Description: Description: shallahu'alaihi was sallam copy akan bernilai ibadah dimata Allah. Yang bagaimana contohnya? Yang pastinya refreshingnya tidak melebihi kebutuhan. Kemudian yang tidak menyalahi syariat Islam.
Kalau kebutuhan terpenuhi saja, seperti kata Imam An-Nawawi : “Rehatkan jiwa kalian dari rutinitas ibadah, dengan melakukan hal yang dibolehkan, yang tidak ada dosa tapi juga tidak berpahala.”

Yang penting tidak membawa keburukan dibalik alasan kebutuhan. Sekedar mengerjakan yang mubah(boleh) saja untuk merefreshkan diri.

Dan kebutuhan terpenuhi dan membawa dosa ini yang buruk, yang harus diwaspadai dihindari!  Waktu liburan kita panjang kan? Satu tahun lho.. dari 2013 sampai 2014, yea ga? Itu berarti kita punya waktu luang banyaak. Bukankah waktu luang ini adalah nikmat dari Allah Description: Description: subhanahu wa ta'ala copy ? Nikmat yang Allah berikan janganlah kita sia-sia kan, apalagi malah menjadikannya pembawa dosa untuk diri kita sendiri.
Rasulullah Description: Description: shallahu'alaihi was sallam copy pernah bersabda berkaitan dengan nikmat yang satu ini : “Ada dua nikmat yang kebanyakan orang tertipu darinya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, no. 6412)

Ya, kebanyakan orang tertipu dan malah bukan makin membaik dengan adanya kesempatan pada waktu luang (liburan). Apalagi kita remaja. “Remaja + waktu luang = permulaan maksiat. Oleh karena itu rencanakan waktu luang anda denganaktifitas yang bermanfaat. Karena syaithan juga merencanakan sesuatu terhadap anda.” Ini saya kutip dari saudara kita sesama agen dakwah. Ya memang benar, karena remaja, sifat umum nya kebanyakan yang masih suka terbawa dan sangat rentan terhasut bisikan bisikan syaithan.
Banyak orangtua mengeluh, ketika liburan anaknya malah malas malasan dirumah. Ada yang sekolah libur, bantu orang tua libur juga. Ada yang hari libur, minta ongkosnya lebih banyak daripada hari sekolah.  Atau malah main gak jelas diluar rumah tanpa sepengetahuan orangtua dan pulang pulang membawa masalah. Dan berbagai macam kasusnya. Naudzubillaah...

Masa liburan, daripada menyusahkan orangtua, mending birrul walidain aja deh dapat pahala. Kita bantu bantu orang tua kita dirumah, atau ajak orangtua berlibur bersama. Karena di saat kita aktif sekolah kita sedikit waktu untuk bersama orangtua. Mumpung libur, waktu luangnya banyaak, mengapa tidak? Katanya I love mom and dad ?
“Seorang hamba pada hari kiamat tiada melangkahkan kedua kakinya sehingga ditanyakan kepadanya empat perkara, yaitu tentang umurnya dohabiskan untuk apa, tentang ilmunya diamalkan untuk apa, tentang hartanya dari manadiperolehnya dan untuk kepentingan apa dihabiskan, serta masa muda dihabiskan untuk apa.” (HR. At Tirmidzi)

Ingat sobat, semua yang kita kerjakan akan dimintai pertanggung jawabnya di depan Sang Pencipta. Dan tiada lagi daya upaya kita untuk berdalih/ngeless seperti saat didunia kepada penagih hutang. Bila amalan kita baik, InsyaAllah masuk syurgaNYA deh.. Aamiin.. Namun, bila amalan kita buruk.. gedebug~ jatuhlah kita ke neraka yang siksanya amat pedih. Hiii.... gak mau kan? Saya juga gak mau.
 “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Qs. Al ‘Ashr[103]:1-3)

Apakah kita termasuk golongan yang merugi? Atau golongan yang beruntung?
Pada masa liburan ini, alangkah baiknya kita menghindarkan diri dari kegiatan yang sia sia. Apalagi yang sudah kelas xii, mempersiapkan untuk UN dan perpindahan masa (masa sekolah menuju kuliah atau kerja). Dan yang kelas x dan xi mempersiapkan diri untuk prakerin dan meningkatkan nilai danatau prestasi untuk kelak mendaftar kuliah atau melamar kerja.

Penyesalan itu selalu datangnya terakhir, sobat! Kata pak Mario: “Ya Iyalah.., kalau lebih awal, namanya pendafatraan”

Sobat! Sebelum kita mendapati diri kita menyesal, sebelum nasi menjadi bubur, sebelum matahari terbit dari barat. Kerjakan yang bermanfaat sebelum itu itu semua, dan pikirkanlah dalam perencanaannya.

Dan dalam acara liburan, patut kita pikirkan supaya tiada penyesalan diakhirnya..
apakah sudah menyiapkan kegiatan kegiatan yang akan dilakukan?
Sudah kah menentukan kegiatan kegiatan yang bermanfaat?
Sudahkah merencanakan kegiatan kegiatan yang menghindarkan diri kita dari perbuatan sia-sia lagi membawa dosa?

Ingaat! Sobat! Refreshing boleh boleh saja, asalkan tidak melebihi kebutuhan, dan tidak membawa keburukan atau dosa, apalagi sampai menyalahi syariat Islam.
So? Ayo kita cek lagi kegiatan kegiatan liburan kita, termasuk yang manakah liburan kita? Yang membawa pahala? Yang biasa biasa saja? Atau malah menambah dosa?
Wallaahu a'lam bisshowab...

Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com 
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
Welcome to RDM's Blog

sahabat rdm

@RohisDM_cbn

COPYRIGHT © 2014 ROHIS - DAARUL MU'ALLIMIN

DESIGNED BY : DEPARTEMEN HUMAS