Dokumentasi OPM

Senin, 22 Februari 2016
Posted by ROHIS - SMKN 1 CIBINONG

Move On!

Selasa, 06 Januari 2015
Posted by ROHIS - SMKN 1 CIBINONG
Move On!
(Buletin El-Marjan [Edisi. 07/Th. II)
Oleh: Agung Wibisono [@agungMSVrs]

Sahabat El-Marjan, Alhamdulillah kita masih diberikan kenikmatan Masa Muda yang begitu indah oleh Allah, apalagi bagi kebanyakkan remaja saat ini yang selalu dilanda virus merah jambu (baca: jatuh cinta) saat masa muda. Nah virus ini sangat sering melanda remaja saat ini dan cukup bahaya loh kalo sampai kita terkena virus ini. Bahaya dimananya? Bahaya karna kita bisa masuk dalam zina loh. Wah, kalo gitu gak boleh dong jatuh cinta? Ya, boleh lah kan cinta itu fitrah manusia, manusia diciptakan untuk memiliki rasa cinta. Tapi katanya virus ini bahaya bagi remaja? Bahaya disini jika kita atau orang yang sedang dilanda virus merah jambu ini melakukan berbagai tindakkan yang melanggar perintah yang Maha Memiliki Cinta, salah satunya itu Pacaran. Pacaran sendiri itu gak ada dalam ajaran Islam loh kawan, yang ada dalam ajaran islam jika kita cinta pada seseorang itu ta’aruf lalu menikah, hehe. Kita kan masih sekolah masa mau menikah? Mendingan pacaran aja nikmati masa muda. Nah, kalau kalian mengerti apa itu rasa cinta pasti kalian tidak akan pacaran karna rugi BGT kalo pacaran, bakalan sia-sia dah kalo pacaran. Pasti kalo udah pacaran terus putus pasti galauunyaa gak kesampaian (berlebihan), bisa-bisa keluarga, teman-teman kita kena imbasnya. Karna cinta itulah yang membuat kita jatuh pada jurang kegalauan yang tingkatnya berada dipuncak gunung (tinggi). Sebenarnya cinta itu menguatkan, bukan melemahkan. Jadi kalo ada yang mengatakan bahwa kita galau karna cinta itu salah besar!. Lantas seperti apa cinta itu? Disini gak akan membahas apa itu cinta tapi bagaimana caranya jika kita galau karna diputusin pacar? Atau kita suka/kagum sama seseorang tapi kita sulit melupakannya malah terbayang-bayang terus atau ceritanya cinta tak memiliki sampai-sampai bahasa kerennya saat ini susah untuk Move On? hehe. Karna itu buletin El-Marjan akan membahasnya sesuai dengan kenyataan (sesuai dengan kisah hidup penulis, hehe) yang Alhamdulillah cara ini berhasil membuat penulis bisa Move On atau meskipun gak Move On bisa melupakan bayang-bayangnya dalam fikiran. Nah cara Move On yang simple itu jangan liat-liat, jangan bayang-bayangin, jangan denger-denger, jangan baca-baca tentangnya, jangan ngobrol-ngobrol, jangan merhatiin dia terus apalagi sampe kepo abis tentang dia!. Ini masih cara yang simple dan kalo bisa ngelakuinnya acungin jempol deh (soalnya penulis masih belum bisa, hehe) dan pasti bisa Move On dengan sukses. Selain cara yang tadi masih ada cara yang lainnya yang bisa dilakukan dan dengan cara untuk meminimalisir kegalauan tentang dia (bisa melupakannya sejenak).

Pertama, Mengingat Allah. Karena dengan mengingat Allah akan membuat kita lebih tenang dan melupakannya loh. Mengingat Allah berarti mengetahui bahwa Allah selalu bersama kita kapan-pun dan melihat apa-pun yang kita perbuat, Ingat loh Allah selalu memberi kita Kasih-Nya yang tidak terbatas. Ingatlah Allah saat kita melakukan apapun pasti akan membuat hati kita tenang. Mengingat Allah  bisa dengan cara berdzikir, tilawah al-Qur’an atau secara amal seperti puasa. Dengan mengingat Allah, Allah pasti akan mengingat kita, karena yang memberikan ketenangan pada hati setiap manusia itu hanya Dia Allah Sang Penguasa Hati. “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan kedalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah...” (QS. Al-Fath[48]:4)

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati akan menjadi tentram” (QS. Al-Ra’d[13]:28).

Kedua, Ikuti majelis ilmu Agama. Mulailah dengan memahami islam dan berjuang untuk memahami tentang islam pasti akan bisa melupakan tentang si dia. Karena kita akan terfokus untuk mempelajari tentang Islam itu. Bisa dengan mengikuti Mentoring (sama seperti ngaji (cuma ini lebih keren, asyik, seru, so harus ikut mentoring biar pengetahuan tentang  islam bertambah, #AyoMentoring). “Barang siapa menempuh berjalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.”  (HR. Muslim).

Ketiga, Ikut Organisasi. Dengan ikut organisasi waktu kita, fikiran kita hanya akan memikirkan tentang organisasi (gak melupakan tentang pelajaran kok), disini kita akan lebih banyak mengenal banyak orang yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Tapi lebih dianjurkan ikut organisasi yang berjuang untuk Islam (kalo di sekolah itu Rohis namanya –sedikit promosi-, hehe) karena dengan ikut organisasi Islam disekolah, kita akan disibukkan memikirkan tentang dirinya sendiri, teman-teman, lingkungannya sehingga tak ada waktu untuk memikirkan si dia, karena akan fokus dan bersemangat dengan organisasinya dalam memperjuangkan Islam (organisasinya) -soalnya penulis dulu dengan aktif berorganisasi (terutama di Rohis) jadi lebih sering disibukkan untuk memperjuangkan organisasi (Rohis) memikirkan kepentingan orang lain, jadi Alhamdulillah bisa meminimalisir fikiran tentang si dia, bahkan sampai sekarang pun masih aktif organisasi sama seperti organisasi Rohis cuma ini dilingkungan kampus, yaitu Lembaga Dakwah Kampus, sebenarnya bukan hanya memperjuangkan organisasi itu tetapi memperjuangkan Islam, memikirkan orang lain-. Karena jika bergabung dengan organisasi Islami (Rohis) akan banyak keuntungan dan dalam Rohis itu sendiri sangat percaya dengan sebuah ayat al-Qur’an yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong dan meneguhkan kedudukanmu” (QS. Muhammad[47]:7). Nah dengan ikut Rohis bisa dapat keuntungan dunia dan akhirat loh, coba aja pahami ayat tersebut, siapa sih yang gak mau ditolong dan diteguhkan kedudukkannya sama Allah? Pasti pada mau dong, so ikut Rohis atau organisasi lainnya. Yang pasti organisasi yang memberikan manfaat dan kebaikkan untuk diri kita dan orang lain. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Ahmad).

Keempat, membaca buku yang memotivasi. Membaca buku disini bisa membaca buku yang bisa membuat diri kita termotivasi untuk bangkit dari kegalauan, jangan malah baca buku yang melow, romatis itu malah membuat kita makin susah Move On atau bisa juga dengan membaca buku pelajaran, dengan membaca buku pelajaran akan membuat kita bisa menjadi orang yang berprestasi dalam bidang akademik. Jadi, remaja itu harus berprestasi akademik (baca: buletin El-Marjan edisi ke-6 tentang Remaja, Ukir Prestasimu!)

Kelima, temukan kegiatan (hobby) yang positive. Temukan sesuatu yang bisa kita banggakan di masa depan dan bisa kita jadikan amal shaleh –karna yang positif itu bisa bernilai pahala jika kita Niatkan hanya untuk Allah. Jangan sampai menyia-yiakan waktu karena waktu itu sangat berharga, so setiap ada waktu lakukan sesuatu yang positif.

Tadi itu merupakan berbagai cara untuk bisa Move On atau meminimalisirnya, cara tadi Alhamdulillah sudah dilakukan penulis dan Alhamdulillah hasilnya pun sangat berpengaruh dengan kehidupan penulis yang bisa Move On dari seseorang atau melupakan si dia, hehe.

Cara yang tadi penulis sampaikan itu selain dari kisah nyata (pengalaman) yang penulis alami juga diambil beberapa buku yang pernah penulis baca, serta dari berbagai mentor-mentor penulis serta artikel-artikel di internet. Sebelum mengakhiri tulisan ini penulis ingin menuliskan beberapa kalimat yang memotivasi dari sebuah buku karangan Ust. Felix Y Siauw yaitu Udah Putusin Aja, buku ini sangat bermanfaat bagi remaja saat ini yang sedang dilanda virus merah jambu dan masih banyak buku-buku yang lainnya.


“Belajar melupakan itu sama seperti belajar mencintai, Sama-sama membutuhkan waktu, dan sama-sama membutuhkan kesabaran”

“Bila kita harus galau, maka galaulah akan sesuatu yang lebih panjang dari sekedar dunia, yaitu tentang akhirat dan keadaan kita, tentang Allah Tuhan kita dan Muhammad  Nabi kita”

“Bila air mata harus mengalir deras, pastikan itu bukan karena makhluk-Nya, melainkan hanya untuk Ia yang Maha Memiliki Cinta di Sajadah malam karena takut takut akan Siksa-Nya”


Pantaskan Diri untuk memdapatkan yang Terbaik, Ingatlah Rencana dan Ketetapan Allah itu Maha Indah dan Terbaik untuk kita.
Wallahu'alam.

Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout & Editor: Agung Wibisono
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com 
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
Remaja, Yuk Ukir Prestasimu!
(Buletin El-Marjan [Edisi. 06/Th. II)
Oleh: Wita Dahlia [gaulislam.com]

Wah, kayaknya enak ya kalau kita jadi remaja berprestasi. Bisa ketemu orang-orang penting, bisa jalan-jalan dan sekolah gratis, disayang ortu, disanjung teman dan tetangga. Wah, pokoke enak deh. Tuh, seperti yang dialami teman-teman kita. Baru-baru ini, ada Gayatri Wailissa, anak seorang pengrajin kaligrafi yang di usia belia telah menjadi Duta ASEAN karena kemampuannya menguasai 11 bahasa. Remaja berusia 16 tahun ini belajar bahasa secara otodidak dan sudah mengantongi sekitar 15 prestasi di segala bidang.

Ada Ibrahim Handoko yang saat itu masih berusia 15 tahun berhasil memformulasikan persamaan untuk menyelesaikan perhitungan angka piramida dengan jumlah tidak terbatas. Ia terpilih sebagai matematikawan terbaik dan berhak mewakili distriknya dalam olimpiade matematika di tingkat negara bagian. Demikian juga pada Olimpiade Matematika (2004), ada Fathia Prinastiti Sunarto yang mampu menyabet medali emas yang saat itu masih duduk di bangku kelas VI SD.

Sobat El-Marjan, prestasi memang melahirkan kebanggaan tersendiri, apalagi di usia remaja. Saat yang paling tepat untuk mengukir prestasi. Kenapa? Karena usia remaja adalah usia produktif. Pada usia ini, kita memiliki fisik yang prima. Itu sebabnya, remaja cenderung menyukai tantangan dan  mencoba hal-hal baru. Coba deh perhatikan, perubahan di dunia ini hampir selalu digerakkan oleh para remaja atau pemuda. Hmm…. Iya kan? Prestasi itu penting

Kawan rahimakumullah, Tahu nggak arti dari prestasi? Yup, prestasi memiliki makna menjadi lebih. So, kalau kita masih sama aja sama dengan orang lain, berarti itu belum dikatakan berprestasi. Sebagai seorang muslim maka berprestasi itu adalah hal yang penting. Karena bagi seorang muslim, menjadi lebih atau melakukan perbuatan yang terbaik adalah hal yang penting. Karena bagi seorang muslim, menjadi lebih atau melakukan perbuatan yang terbaik adalah kewajiban. Ini sesuai sabda Rasululllah: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan perbuatan ihsan (kebaikan yang maksimal) pada segala sesuatu.” (HR Muslim).
Rasulullah. sendiri, telah menjadi suri tauladan yang baik dalam hal ini. Beliau adalah orang yang sangat menyukai dan mencintai prestasi. Bagaimana tidak,  hampir setiap perbuatan yang dilakukan Rasulullah. selalu terjaga kualitasnya. Amal-amal beliau merupakan amal-amal yang terpelihara mutunya. Demikian juga keberaniannya, tafakurnya, dan aneka kiprah hidup keseharian lainnya. Seluruhnya senantiasa didedikasikan untuk suatu mutu yang tertinggi. Menjadi hamba yang terbaik, suami yang terbaik, ayah yang terbaik, kakek yang terbaik, tetangga yang terbaik, bahkan menjadi pemimpin negara yang terbaik. Keren dan bikin kita bangga.
Sobat El-Marjan, setidaknya ada 4 faktor yang harus kita miliki untuk menjadi remaja prestatif:

Pertama, niat yang kuat. Niat merupakan hal yang utama bila seseorang akan melakukan suatu kegiatan. Begitu juga dalam usaha untuk mencapai prestasi. Meskipun sama-sama punya niatan dan tujuan yang bakal diraih, tapi niatan karena Allah adalah niatan yang tak terkalahkan. Sebab dengan niat ini, kita tetap akan mendapatkan balasan meski harapan kita nggak teraih. Selain itu, niat yang lurus akan membuat tentram hati kita dalam menjalani setiap aktivitas.

Lain halnya jika niat kita cuman buat jadi nomor satu en ngalahin temen. Saat gagal, kita nggak akan dapat apa-apa, bahkan meski tercapai, kita tetap nggak mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala. Rugi banget kan?!

So, niatkan bahwa kita melakukannya semata-mata untuk meraih ridho Allah. Sucikan niat kita dalam menuntut ilmu apapun demi Allah. karena menuntut ilmu pun merupakan ibadah. Allah Ta’ala berfirman:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”. (QS al-Mujaadilah [58]: 11)


Nah, niat yang lurus dan ikhlas, akan menghadirkan motivasi yang kuat. Jika niatnya semata-mata karena Allah Ta’ala, maka motivasinya pasti dong juga demi Allah.


Kedua, kesungguhan dan semangat belajar yang tinggi. Jika kita tanyakan pada orang-orang yang berprestasi, apa kunci mereka bisa sukses di bidangnya, maka hampir bisa dipastikan jawabannya karena semangat belajar yang tinggi pada mereka. Orang yang berprestasi adalah orang-orang yang serius dan telaten dalam menekuni suatu kegiatan.

Setiap prestasi itu butuh kesungguhan dan kerja keras. Orang yang pengen berprestasi dalam pendidikannya butuh belajar giat, orang yang ingin sukses pekerjaannya juga butuh kerja keras, orang yang pengen jadi orang yang faqih dalam agama juga butuh usaha keras. So, jika kita pengen seluruh aktivitas dan peran kita berprestasi, usahanya tentu harus lebih keras. Nabi. bersabda: Berkemauan keraslah kepada apa-apa yang bermanfaat bagimu, dan minta tolonglah kepada Allâh Ta’ala dan janganlah bersikap lemah. (HR Muslim)


Ketiga, lingkungan yang mendukung. Biar udah punya motivasi yang kuat dan semangat belajar yang tinggi, tetap aja kita butuh lingkungan yang mendukung. Lingkungan inilah yang akan turut menjaga keistiqomahan kita dan terus  mengobarkan semangat kita. Nah, lingkungan seperti ini haruslah lingkungan yang sejalan dengan kita. Lingkungan yang bertolak belakang justru akan menurunkan energi semangat kita, bahkan menghancurkan motivasi yang kita bangun sebelumnya. Inilah nasihat Rasulullah. untuk memilih lingkungan yang baik: “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari & Muslim).

So, pilihlah teman yang berjualan minyak wangi, ya. Ups! Maksudnya pilihlah teman-teman yang diibaratkan sebagai penjual wangi, yaitu teman-teman yang sholih dan membawa kita pada ketaatan.

Keempat, aturan dan dukungan negara. Aturan di masyarakat dan dukungan negara tentu sangat mendukung prestasi generasinya. Ini berkaitan dengan sistem yang diterapkan oleh negara. Ketika dahulu syariat Islam diterapkan oleh negara, pemerintah menjamin semua warganya agar mendapatkan pendidikan. Penguasa saat itu menyediakan pendidikan gratis baik bagi warga yang miskin maupun yang kaya, muslim maupun non-muslim. Negara juga menyediakan berbagai fasilitas agar para pelajar bisa belajar dengan nyaman serta menyediakan sarana-prasarana demi mendukung kemajuan belajar siswa seperti perpustakaan, laboratorium dan sebagainya. Semua itu diperoleh tanpa membayar alias gratis! Bandingkan dengan kondisi sekarang! Banyak sekolah yang nyaris ambruk dan presidennya justru curhat bin galau melulu. Miris ya? Ini dia, remaja prestatif!

Remaja Islam pernah mengukir sejarah dengan gemilang. Sebut saja Ali bin Abu Thalib ra. yang berjuang sejak belia menegakkan Islam saat kali pertama Rasululah mulai berdakwah di Makkah. Sosoknya jenius sampai-sampai Rasulullah memuji Ali dengan sabdanya, “Aku adalah gudangnya ilmu, dan Ali adalah kuncinya.”

Ada pula Muhammad al-Fatih yang mampu menaklukkan Konstantinopel pada usia 23 tahun. Ada Al-Haytsam si penemu optik. Al-Kwarizmi sang pakar matematika dan memperkenalkan Aljabar untuk pertama kali. Ibnu Sina, muslim yang ahli kedokteran dan masih banyak lagi sederet pemuda muslim berprestasi lainnya. Mereka tidak hanya dikenal berprestasi, namun juga terkenal kesholihannya.

Sobat El-Marjan, Emha Ainun Najib pernah mengistilahkan manusia dalam lima jenis (catet: hanya istilah, lho). Yaitu jenis manusia wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Manusia wajib ditandai jikalau keberadannya sangat dirindukan, sangat bermanfaat, perilakunya membuat hati orang di sekitarnya tercuri. Orang yang sunah, keberadaannya bermanfaat, tetapi kalau pun tidak ada tidak tercuri hati orang lain. Artinya, tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan. Orang yang mubah, ada tidak adanya tidak berpengaruh. Adapun orang yang makruh, keberadannya justru membawa mudharat. Lain lagi dengan orang bertipe haram, keberadaannya malah dianggap menjadi musibah, sedangkan ketiadaannya justru disyukuri. Hehehe.. Emha Ainun Nadjib memang pandai membuat istilah yang unik dan menarik.

Kawan El-Marjan, kira-kira kita jenis manu sia yang mana nih? Untuk menjadi remaja berprestasi, tentu dong minimal jadi manusia ‘jenis sunah’. Ya, nggak? Sesuai sabda Rasulullah. “Khairunnas anfa’uhum linnas”, “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR Bukhari dan Muslim) Nah, cara yang paling tepat untuk menjadi manusia yang paling bermanfaat adalah dengan meningkatkan kepedulian terhadap orang lain. Berusaha sekuat tenaga untuk melakukan perubahan ke arah Islam. Islam yang dijadikan sebagai pandangan atau jalan hidup (ideologi).

Firman Allah Ta’ala: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah…” (QS Ali Imran [3]: 110)


Ayo sobat, bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang pribadi muslim yang berprestasi!. #YukHijrah menjadi Berprestasi!!

Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout & Editor: Agung Wibisono
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com 
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
Welcome to RDM's Blog

sahabat rdm

@RohisDM_cbn

COPYRIGHT © 2014 ROHIS - DAARUL MU'ALLIMIN

DESIGNED BY : DEPARTEMEN HUMAS