Move On!
(Buletin
El-Marjan [Edisi. 07/Th. II)
Oleh:
Agung Wibisono [@agungMSVrs]
Sahabat
El-Marjan, Alhamdulillah kita masih diberikan kenikmatan Masa Muda yang begitu
indah oleh Allah, apalagi bagi kebanyakkan remaja saat ini yang selalu dilanda
virus merah jambu (baca: jatuh cinta) saat masa muda. Nah virus ini sangat
sering melanda remaja saat ini dan cukup bahaya loh kalo sampai kita terkena
virus ini. Bahaya dimananya? Bahaya karna kita bisa masuk dalam zina loh. Wah,
kalo gitu gak boleh dong jatuh cinta? Ya, boleh lah kan cinta itu fitrah
manusia, manusia diciptakan untuk memiliki rasa cinta. Tapi katanya virus ini
bahaya bagi remaja? Bahaya disini jika kita atau orang yang sedang dilanda
virus merah jambu ini melakukan berbagai tindakkan yang melanggar perintah yang
Maha Memiliki Cinta, salah satunya itu Pacaran. Pacaran sendiri itu gak ada
dalam ajaran Islam loh kawan, yang ada dalam ajaran islam jika kita cinta pada
seseorang itu ta’aruf lalu menikah, hehe. Kita kan masih sekolah masa mau
menikah? Mendingan pacaran aja nikmati masa muda. Nah, kalau kalian mengerti
apa itu rasa cinta pasti kalian tidak akan pacaran karna rugi BGT kalo pacaran,
bakalan sia-sia dah kalo pacaran. Pasti kalo udah pacaran terus putus pasti
galauunyaa gak kesampaian (berlebihan), bisa-bisa keluarga, teman-teman kita
kena imbasnya. Karna cinta itulah yang membuat kita jatuh pada jurang kegalauan
yang tingkatnya berada dipuncak gunung (tinggi). Sebenarnya cinta itu
menguatkan, bukan melemahkan. Jadi kalo ada yang mengatakan bahwa kita galau
karna cinta itu salah besar!. Lantas seperti apa cinta itu? Disini gak akan
membahas apa itu cinta tapi bagaimana caranya jika kita galau karna diputusin
pacar? Atau kita suka/kagum sama seseorang tapi kita sulit melupakannya malah
terbayang-bayang terus atau ceritanya cinta tak memiliki sampai-sampai bahasa
kerennya saat ini susah untuk Move On? hehe. Karna itu buletin El-Marjan akan
membahasnya sesuai dengan kenyataan (sesuai dengan kisah hidup penulis, hehe)
yang Alhamdulillah cara ini berhasil membuat penulis bisa Move On atau meskipun
gak Move On bisa melupakan bayang-bayangnya dalam fikiran. Nah cara Move On
yang simple itu jangan liat-liat, jangan bayang-bayangin, jangan denger-denger,
jangan baca-baca tentangnya, jangan ngobrol-ngobrol, jangan merhatiin dia terus
apalagi sampe kepo abis tentang dia!. Ini masih cara yang simple dan kalo bisa
ngelakuinnya acungin jempol deh (soalnya penulis masih belum bisa, hehe) dan
pasti bisa Move On dengan sukses. Selain cara yang tadi masih ada cara yang
lainnya yang bisa dilakukan dan dengan cara untuk meminimalisir kegalauan
tentang dia (bisa melupakannya sejenak).
Pertama,
Mengingat Allah. Karena dengan mengingat Allah akan membuat kita lebih tenang dan
melupakannya loh. Mengingat Allah berarti
mengetahui bahwa Allah selalu bersama kita kapan-pun dan melihat apa-pun yang
kita perbuat, Ingat loh Allah selalu memberi kita Kasih-Nya yang tidak
terbatas. Ingatlah Allah saat kita melakukan apapun pasti akan membuat hati
kita tenang. Mengingat Allah bisa
dengan cara berdzikir, tilawah al-Qur’an atau secara amal seperti puasa. Dengan
mengingat Allah, Allah pasti akan mengingat kita, karena yang memberikan
ketenangan pada hati setiap manusia itu hanya Dia Allah Sang Penguasa Hati. “Dia-lah yang telah menurunkan
ketenangan kedalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah...” (QS. Al-Fath[48]:4)
“Orang-orang
yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah-lah hati akan menjadi tentram” (QS. Al-Ra’d[13]:28).
Kedua,
Ikuti majelis ilmu Agama. Mulailah dengan memahami islam dan berjuang untuk
memahami tentang islam pasti akan bisa melupakan tentang si dia. Karena kita
akan terfokus untuk mempelajari tentang Islam itu. Bisa dengan mengikuti
Mentoring (sama seperti ngaji (cuma ini lebih keren, asyik, seru, so harus ikut
mentoring biar pengetahuan tentang islam bertambah, #AyoMentoring). “Barang siapa menempuh berjalan
untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Muslim).
Ketiga,
Ikut Organisasi. Dengan ikut organisasi waktu kita, fikiran kita hanya akan
memikirkan tentang organisasi (gak melupakan tentang pelajaran kok), disini
kita akan lebih banyak mengenal banyak orang yang memiliki kemampuan yang
berbeda-beda. Tapi lebih dianjurkan ikut organisasi yang berjuang untuk Islam
(kalo di sekolah itu Rohis namanya –sedikit promosi-, hehe) karena dengan ikut
organisasi Islam disekolah, kita akan disibukkan memikirkan tentang dirinya
sendiri, teman-teman, lingkungannya sehingga tak ada waktu untuk memikirkan si
dia, karena akan fokus dan bersemangat dengan organisasinya dalam
memperjuangkan Islam (organisasinya) -soalnya penulis dulu dengan aktif
berorganisasi (terutama di Rohis) jadi lebih sering disibukkan untuk
memperjuangkan organisasi (Rohis) memikirkan kepentingan orang lain, jadi
Alhamdulillah bisa meminimalisir fikiran tentang si dia, bahkan sampai sekarang
pun masih aktif organisasi sama seperti organisasi Rohis cuma ini dilingkungan
kampus, yaitu Lembaga Dakwah Kampus, sebenarnya bukan hanya memperjuangkan
organisasi itu tetapi memperjuangkan Islam, memikirkan orang lain-. Karena jika
bergabung dengan organisasi Islami (Rohis) akan banyak keuntungan dan dalam
Rohis itu sendiri sangat percaya dengan sebuah ayat al-Qur’an yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, jika
kamu menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong dan meneguhkan
kedudukanmu” (QS.
Muhammad[47]:7). Nah dengan
ikut Rohis bisa dapat keuntungan dunia dan akhirat loh, coba aja pahami ayat
tersebut, siapa sih yang gak mau ditolong dan diteguhkan kedudukkannya sama
Allah? Pasti pada mau dong, so ikut Rohis atau organisasi lainnya. Yang pasti
organisasi yang memberikan manfaat dan kebaikkan untuk diri kita dan orang
lain. “Sebaik-baik manusia
adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Ahmad).
Keempat,
membaca buku yang memotivasi. Membaca buku disini bisa membaca buku yang bisa
membuat diri kita termotivasi untuk bangkit dari kegalauan, jangan malah baca
buku yang melow, romatis itu malah membuat kita makin susah Move On atau bisa
juga dengan membaca buku pelajaran, dengan membaca buku pelajaran akan membuat
kita bisa menjadi orang yang berprestasi dalam bidang akademik. Jadi, remaja
itu harus berprestasi akademik (baca: buletin El-Marjan edisi ke-6 tentang
Remaja, Ukir Prestasimu!)
Kelima,
temukan kegiatan (hobby) yang positive. Temukan sesuatu yang bisa kita
banggakan di masa depan dan bisa kita jadikan amal shaleh –karna yang positif
itu bisa bernilai pahala jika kita Niatkan hanya untuk Allah. Jangan sampai
menyia-yiakan waktu karena waktu itu sangat berharga, so setiap ada waktu
lakukan sesuatu yang positif.
Tadi
itu merupakan berbagai cara untuk bisa Move On atau meminimalisirnya, cara tadi
Alhamdulillah sudah dilakukan penulis dan Alhamdulillah hasilnya pun sangat
berpengaruh dengan kehidupan penulis yang bisa Move On dari seseorang atau
melupakan si dia, hehe.
Cara
yang tadi penulis sampaikan itu selain dari kisah nyata (pengalaman) yang
penulis alami juga diambil beberapa buku yang pernah penulis baca, serta dari
berbagai mentor-mentor penulis serta artikel-artikel di internet. Sebelum
mengakhiri tulisan ini penulis ingin menuliskan beberapa kalimat yang
memotivasi dari sebuah buku karangan Ust.
Felix Y Siauw yaitu Udah Putusin Aja, buku ini
sangat bermanfaat bagi remaja saat ini yang sedang dilanda virus merah jambu
dan masih banyak buku-buku yang lainnya.
“Belajar
melupakan itu sama seperti belajar mencintai, Sama-sama membutuhkan waktu, dan
sama-sama membutuhkan kesabaran”
“Bila
kita harus galau, maka galaulah akan sesuatu yang lebih panjang dari sekedar
dunia, yaitu tentang akhirat dan keadaan kita, tentang Allah Tuhan kita dan
Muhammad Nabi
kita”
“Bila
air mata harus mengalir deras, pastikan itu bukan karena makhluk-Nya, melainkan
hanya untuk Ia yang Maha Memiliki Cinta di Sajadah malam karena takut takut
akan Siksa-Nya”
Pantaskan
Diri untuk memdapatkan yang Terbaik, Ingatlah Rencana dan Ketetapan Allah itu
Maha Indah dan Terbaik untuk kita.
Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout & Editor: Agung Wibisono
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
Remaja, Yuk Ukir Prestasimu!
(Buletin
El-Marjan [Edisi. 06/Th. II)
Oleh:
Wita Dahlia [gaulislam.com]
Wah,
kayaknya enak ya kalau kita jadi remaja berprestasi. Bisa ketemu orang-orang
penting, bisa jalan-jalan dan sekolah gratis, disayang ortu, disanjung teman
dan tetangga. Wah, pokoke enak deh. Tuh, seperti yang dialami teman-teman kita.
Baru-baru ini, ada Gayatri Wailissa, anak seorang pengrajin kaligrafi yang di
usia belia telah menjadi Duta ASEAN karena kemampuannya menguasai 11 bahasa.
Remaja berusia 16 tahun ini belajar bahasa secara otodidak dan sudah
mengantongi sekitar 15 prestasi di segala bidang.
Ada
Ibrahim Handoko yang saat itu masih berusia 15 tahun berhasil memformulasikan
persamaan untuk menyelesaikan perhitungan angka piramida dengan jumlah tidak
terbatas. Ia terpilih sebagai matematikawan terbaik dan berhak mewakili
distriknya dalam olimpiade matematika di tingkat negara bagian. Demikian juga pada
Olimpiade Matematika (2004), ada Fathia Prinastiti Sunarto yang mampu menyabet
medali emas yang saat itu masih duduk di bangku kelas VI SD.
Sobat
El-Marjan, prestasi memang melahirkan kebanggaan tersendiri, apalagi di usia
remaja. Saat yang paling tepat untuk mengukir prestasi. Kenapa? Karena usia
remaja adalah usia produktif. Pada usia ini, kita memiliki fisik yang prima.
Itu sebabnya, remaja cenderung menyukai tantangan dan mencoba hal-hal
baru. Coba deh perhatikan, perubahan di dunia ini hampir selalu digerakkan oleh
para remaja atau pemuda. Hmm…. Iya kan? Prestasi itu penting
Kawan
rahimakumullah, Tahu nggak arti dari prestasi? Yup, prestasi memiliki makna
menjadi lebih. So, kalau kita masih sama aja sama dengan orang lain, berarti
itu belum dikatakan berprestasi. Sebagai seorang muslim maka berprestasi itu
adalah hal yang penting. Karena bagi seorang muslim, menjadi lebih atau
melakukan perbuatan yang terbaik adalah hal yang penting. Karena bagi seorang
muslim, menjadi lebih atau melakukan perbuatan yang terbaik adalah kewajiban.
Ini sesuai sabda Rasululllah: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan
perbuatan ihsan (kebaikan yang maksimal) pada segala sesuatu.” (HR
Muslim).
Rasulullah.
sendiri, telah menjadi suri tauladan yang baik dalam hal ini. Beliau adalah
orang yang sangat menyukai dan mencintai prestasi. Bagaimana tidak,
hampir setiap perbuatan yang dilakukan Rasulullah. selalu terjaga kualitasnya.
Amal-amal beliau merupakan amal-amal yang terpelihara mutunya. Demikian juga
keberaniannya, tafakurnya, dan aneka kiprah hidup keseharian lainnya.
Seluruhnya senantiasa didedikasikan untuk suatu mutu yang tertinggi. Menjadi
hamba yang terbaik, suami yang terbaik, ayah yang terbaik, kakek yang terbaik,
tetangga yang terbaik, bahkan menjadi pemimpin negara yang terbaik. Keren dan
bikin kita bangga.
Sobat
El-Marjan, setidaknya ada 4 faktor yang harus kita miliki untuk menjadi remaja
prestatif:
Pertama,
niat yang kuat. Niat merupakan hal yang utama bila seseorang akan melakukan
suatu kegiatan. Begitu juga dalam usaha untuk mencapai prestasi. Meskipun
sama-sama punya niatan dan tujuan yang bakal diraih, tapi niatan karena Allah
adalah niatan yang tak terkalahkan. Sebab dengan niat ini, kita tetap akan
mendapatkan balasan meski harapan kita nggak teraih. Selain itu, niat yang
lurus akan membuat tentram hati kita dalam menjalani setiap aktivitas.
Lain
halnya jika niat kita cuman buat jadi nomor satu en ngalahin temen. Saat gagal,
kita nggak akan dapat apa-apa, bahkan meski tercapai, kita tetap nggak
mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala. Rugi banget kan?!
So,
niatkan bahwa kita melakukannya semata-mata untuk meraih ridho Allah. Sucikan
niat kita dalam menuntut ilmu apapun demi Allah. karena menuntut ilmu pun
merupakan ibadah. Allah Ta’ala berfirman:
“Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan.”. (QS al-Mujaadilah [58]: 11)
Nah,
niat yang lurus dan ikhlas, akan menghadirkan motivasi yang kuat. Jika niatnya
semata-mata karena Allah Ta’ala, maka motivasinya pasti dong juga demi Allah.
Kedua,
kesungguhan dan semangat belajar yang tinggi. Jika kita tanyakan pada
orang-orang yang berprestasi, apa kunci mereka bisa sukses di bidangnya, maka
hampir bisa dipastikan jawabannya karena semangat belajar yang tinggi pada
mereka. Orang yang berprestasi adalah orang-orang yang serius dan telaten dalam
menekuni suatu kegiatan.
Setiap
prestasi itu butuh kesungguhan dan kerja keras. Orang yang pengen
berprestasi dalam pendidikannya butuh belajar giat, orang yang ingin
sukses pekerjaannya juga butuh kerja keras, orang yang pengen jadi orang yang
faqih dalam agama juga butuh usaha keras. So, jika kita pengen seluruh
aktivitas dan peran kita berprestasi, usahanya tentu harus lebih keras. Nabi.
bersabda: Berkemauan keraslah kepada apa-apa yang bermanfaat bagimu,
dan minta tolonglah kepada Allâh Ta’ala dan janganlah bersikap lemah. (HR
Muslim)
Ketiga,
lingkungan yang mendukung. Biar udah punya motivasi yang kuat dan semangat
belajar yang tinggi, tetap aja kita butuh lingkungan yang mendukung. Lingkungan
inilah yang akan turut menjaga keistiqomahan kita dan terus mengobarkan
semangat kita. Nah, lingkungan seperti ini haruslah lingkungan yang sejalan
dengan kita. Lingkungan yang bertolak belakang justru akan menurunkan energi
semangat kita, bahkan menghancurkan motivasi yang kita bangun sebelumnya.
Inilah nasihat Rasulullah. untuk memilih lingkungan yang baik: “Permisalan
teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan
seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi,
atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap
mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan
apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau
asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari & Muslim).
So,
pilihlah teman yang berjualan minyak wangi, ya. Ups! Maksudnya pilihlah
teman-teman yang diibaratkan sebagai penjual wangi, yaitu teman-teman yang
sholih dan membawa kita pada ketaatan.
Keempat,
aturan dan dukungan negara. Aturan di masyarakat dan dukungan negara tentu
sangat mendukung prestasi generasinya. Ini berkaitan dengan sistem yang
diterapkan oleh negara. Ketika dahulu syariat Islam diterapkan oleh negara,
pemerintah menjamin semua warganya agar mendapatkan pendidikan. Penguasa saat
itu menyediakan pendidikan gratis baik bagi warga yang miskin maupun yang kaya,
muslim maupun non-muslim. Negara juga menyediakan berbagai fasilitas agar para
pelajar bisa belajar dengan nyaman serta menyediakan sarana-prasarana demi
mendukung kemajuan belajar siswa seperti perpustakaan, laboratorium dan
sebagainya. Semua itu diperoleh tanpa membayar alias gratis! Bandingkan dengan
kondisi sekarang! Banyak sekolah yang nyaris ambruk dan presidennya justru
curhat bin galau melulu. Miris ya? Ini dia, remaja prestatif!
Remaja
Islam pernah mengukir sejarah dengan gemilang. Sebut saja Ali bin Abu Thalib
ra. yang berjuang sejak belia menegakkan Islam saat kali pertama Rasululah
mulai berdakwah di Makkah. Sosoknya jenius sampai-sampai Rasulullah memuji Ali dengan
sabdanya, “Aku adalah gudangnya ilmu, dan Ali adalah kuncinya.”
Ada pula Muhammad al-Fatih yang mampu
menaklukkan Konstantinopel pada usia 23 tahun. Ada Al-Haytsam si penemu optik.
Al-Kwarizmi sang pakar matematika dan memperkenalkan Aljabar untuk pertama
kali. Ibnu Sina, muslim yang
ahli kedokteran dan masih banyak lagi sederet pemuda muslim berprestasi
lainnya. Mereka tidak hanya dikenal berprestasi, namun juga terkenal
kesholihannya.
Sobat El-Marjan, Emha Ainun Najib pernah mengistilahkan
manusia dalam lima jenis (catet: hanya istilah, lho). Yaitu jenis manusia wajib, sunah, mubah,
makruh, dan haram. Manusia wajib ditandai jikalau keberadannya sangat
dirindukan, sangat bermanfaat, perilakunya membuat hati orang di sekitarnya
tercuri. Orang yang sunah, keberadaannya bermanfaat, tetapi kalau pun tidak ada
tidak tercuri hati orang lain. Artinya, tidak ada rongga kosong akibat rasa
kehilangan. Orang yang mubah, ada tidak adanya tidak berpengaruh. Adapun
orang yang makruh, keberadannya justru membawa mudharat. Lain lagi dengan orang
bertipe haram, keberadaannya malah dianggap menjadi musibah, sedangkan
ketiadaannya justru disyukuri. Hehehe.. Emha Ainun Nadjib memang pandai membuat
istilah yang unik dan menarik.
Kawan
El-Marjan, kira-kira kita jenis manu sia yang mana nih? Untuk
menjadi remaja berprestasi, tentu
dong minimal jadi manusia
‘jenis sunah’. Ya, nggak? Sesuai sabda Rasulullah. “Khairunnas anfa’uhum
linnas”, “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak
manfaatnya bagi orang lain.” (HR Bukhari dan Muslim) Nah,
cara yang paling tepat untuk menjadi manusia yang paling bermanfaat adalah
dengan meningkatkan kepedulian terhadap orang lain. Berusaha sekuat tenaga
untuk melakukan perubahan ke arah Islam. Islam yang dijadikan sebagai pandangan
atau jalan hidup (ideologi).
Firman Allah Ta’ala: “Kamu adalah
umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah
yang munkar dan beriman kepada Allah…” (QS Ali Imran [3]: 110)
Ayo sobat, bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang
pribadi muslim yang berprestasi!. #YukHijrah menjadi Berprestasi!!
Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout & Editor: Agung Wibisono
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
