Persiapan termasuk satu hal penting diantara hal lainnya dalam upaya meraih keberhasilan, apalagi waktu menuju UN tidaklah jauh lagi. Kesuksesan selalu diawali dengan kerja keras (cerdas) dan persiapan yang matang. Dalam sebuah kitab karya Ali Bin Naif as-Syahudi dikatakan:
فَمَنْ كَانَ لَدَيْهِ الْقُدْرَةِ وَالْاِسْتِعْدَادِ لِلْعَمَلِ سَوْفَ يَنْجَحْ
“Barangsiapa yang mempunyai kemampuan dan persiapan matang untuk melakukan sesuatu, maka dia akan berhasil.”
---
“Siapa yang paling berjasa dalam hidup Anda?”
Apa hubungannya pertanyaan tersebut dengan tips menghadapi UN. Jawabannya adalah sangat dekat. Hal ini disebabkan, jawaban yang muncul dari pertanyaan tersebut akan menentukan langkah apa yang harus dilakukan demi sukses UN tersebut.
Tanpa bermaksud menafikan peran dan jasa pihak yang lain dalam kesuksesan, yang paling berjasa dan berperan dalam kehidupan setiap peserta didik adalah Allah, orang tua, dan guru.
Allah adalah Dzat tempat berharap, Dzat tempat memohon, Dzat yang mengatur kehidupan manusia, Dzat yang memberi keberhasilan dan kegagalan, dan Dzat yang mampu merubah nasib manusia. Adapun orang tua merupakan orang yang berjasa besar dalam proses kehidupan kita, sejak dalam kandungan hingga dewasa. Keberadaan mereka sangat tinggi dan mulia dalam pandangan Allah. Karena mempunyai kedudukan yang tinggi tersebut, Allah memerintahkan setiap anak untuk berterima kasih kepada mereka pada urutan kedua setelah Allah. Dan juga keridho-an ataupun kemurkaan Allah kepada setiap anak manusia sangat ditentukan oleh keridho-an dan kemurkaan kedua orang tua.
Sedangkan guru adalah orang yang dengan sabar, telaten, gemati, dan penuh tanggung jawab mendidik dan mentransfer ilmunya kepada kita dalam proses pendidikan yang kita lakukan. Mereka, para guru, mendedikasikan segalanya demi keberhasilan pendidikan dan juga keberhasilan para siswa yang dibimbingnya.
---
Tips Islami Menghadapi Ujian Nasional
Setelah mengetahui pihak yang paling berjasa dan berperan dalam sukses kita, sekarang marilah kita berbicara tentang tips islami dalam meraih keberhasilan UN. Agar setiap peserta didik sukses dalam UN-nya, maka satu hal yang harus dilakukan adalah: perlakukan mereka yang berperan dan berjasa dalam kehidupan dengan semestinya! Tips islami yang saya maksud dalam menghadapi UN adalah bagaimana kita memperlakukan pihak-pihak yang berjasa dan berperan dalam kehidupan kita sebagaimana seharusnya.
Kepada Allah kita harus:
1⃣ Menghamba kepada-Nya dengan beribadah secara sungguh-sungguh. (memperbanyak shalat sunnah, puasa sunnah, dsb)
2⃣ Memuji-Nya dengan ikhlas.
3⃣ Memohon kepada-Nya dengan khusyu’ dan penuh harap.
4⃣ Mencari ridho Allah dengan banyak berbuat kebaikan di dunia, termasuk banyak bershadaqah.
5⃣ Bertawakkal kepada-Nya setelah berusaha dengan sungguh-sungguh.
Dalam berdoa pergunakan waktu-waktu yang baik, misalnya adalah saat selesai shalat dan pada sepertiga malam yang terakhir sehabis menjalankan shalat tahajud. Sepertiga malam yang terakhir adalah waktu yang paling baik untuk berdoa.
Kepada orang tua kita harus:
1⃣ Mencari ridho mereka. Artinya, kita tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan orang tua marah, murka dan mengata-ngatai (mengutuk) kita dengan kata-kata yang buruk. Ingat kata-kata yang terucap dari mulut kedua orang tua kita (terlebih ibu) kepada kita dianggap oleh Allah sebagai sebuah permintaan dan sangat mudah untuk dikabulkan oleh Allah. Maka kita harus selalu melakukan hal-hal positif yang dapat menyebabkan orang tua bangga, bahagia dan ridho kepada kita.
Ridho orang tua dapat diperoleh dengan:
🔹 Berbuat baik kepada keduanya.
🔹 Menghindari kedurhakaan kepada keduanya.
🔹 Segera mohon maaf atas kesalahan kita serta mohon dido’akan.
Kata-kata orang tua (khususnya ibu) untuk anak-anaknya dianggap oleh Allah sebagai doa dan sangat makbul (mudah dikabulkan oleh Allah).
“Ridho Allah tergantung kepada ridho kedua orang tua dan murka Allah juga tergantung kepada murka kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi)
Kepada guru kita harus:
1⃣ Menghormati dan menghargainya.
2⃣ Mengerjakan tugas yang diberikan.
3⃣ Menjadikannya sebagai guru, di dalam maupun di luar sekolah.
4⃣ Segera meminta maaf atas kesalahan yang kita perbuat.
---
Peran diri sendiri
Siswa juga memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan UN. Hal-hal yang dirasa perlu untuk dikerjakan demi sukses dalam ujian nasional (UN) adalah antara lain:
🔹 Kerja keras.
🔹 Sungguh-sungguh.
🔹 Pantang menyerah.
🔹 Menentukan target.
🔹 Tidak mudah mengeluh.
🔹 Menghindari kemalasan.
🔹 Senantiasa berdo’a.
Dalam sebuah pepatah Arab dikatakan :
مَنْ جَدَّ وَجَدَ
“Siapa yang giat, sungguh-sungguh (kerja keras dan cerdas) dia yang dapat.”
Demikian tips Islami bagaimana sukses UN tahun ini, semoga bemanfaat bagi semuanya :)
Sumber: misbahulmunirsetiawan.blogspot.com
Mari sebarkan pesan bermanfaat ini 😊
---
📚 Departemen Tarbiyah Dakwah dan Humas Rohis Daarul Mu'allimin 📚
📷 IG: @rohisdm_cbn
🌎 Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.co.id/
#RDM17 #SahabatBermanfaat #AyoMentoring #AyoIkutRohis
فَمَنْ كَانَ لَدَيْهِ الْقُدْرَةِ وَالْاِسْتِعْدَادِ لِلْعَمَلِ سَوْفَ يَنْجَحْ
“Barangsiapa yang mempunyai kemampuan dan persiapan matang untuk melakukan sesuatu, maka dia akan berhasil.”
---
“Siapa yang paling berjasa dalam hidup Anda?”
Apa hubungannya pertanyaan tersebut dengan tips menghadapi UN. Jawabannya adalah sangat dekat. Hal ini disebabkan, jawaban yang muncul dari pertanyaan tersebut akan menentukan langkah apa yang harus dilakukan demi sukses UN tersebut.
Tanpa bermaksud menafikan peran dan jasa pihak yang lain dalam kesuksesan, yang paling berjasa dan berperan dalam kehidupan setiap peserta didik adalah Allah, orang tua, dan guru.
Allah adalah Dzat tempat berharap, Dzat tempat memohon, Dzat yang mengatur kehidupan manusia, Dzat yang memberi keberhasilan dan kegagalan, dan Dzat yang mampu merubah nasib manusia. Adapun orang tua merupakan orang yang berjasa besar dalam proses kehidupan kita, sejak dalam kandungan hingga dewasa. Keberadaan mereka sangat tinggi dan mulia dalam pandangan Allah. Karena mempunyai kedudukan yang tinggi tersebut, Allah memerintahkan setiap anak untuk berterima kasih kepada mereka pada urutan kedua setelah Allah. Dan juga keridho-an ataupun kemurkaan Allah kepada setiap anak manusia sangat ditentukan oleh keridho-an dan kemurkaan kedua orang tua.
Sedangkan guru adalah orang yang dengan sabar, telaten, gemati, dan penuh tanggung jawab mendidik dan mentransfer ilmunya kepada kita dalam proses pendidikan yang kita lakukan. Mereka, para guru, mendedikasikan segalanya demi keberhasilan pendidikan dan juga keberhasilan para siswa yang dibimbingnya.
---
Tips Islami Menghadapi Ujian Nasional
Setelah mengetahui pihak yang paling berjasa dan berperan dalam sukses kita, sekarang marilah kita berbicara tentang tips islami dalam meraih keberhasilan UN. Agar setiap peserta didik sukses dalam UN-nya, maka satu hal yang harus dilakukan adalah: perlakukan mereka yang berperan dan berjasa dalam kehidupan dengan semestinya! Tips islami yang saya maksud dalam menghadapi UN adalah bagaimana kita memperlakukan pihak-pihak yang berjasa dan berperan dalam kehidupan kita sebagaimana seharusnya.
Kepada Allah kita harus:
1⃣ Menghamba kepada-Nya dengan beribadah secara sungguh-sungguh. (memperbanyak shalat sunnah, puasa sunnah, dsb)
2⃣ Memuji-Nya dengan ikhlas.
3⃣ Memohon kepada-Nya dengan khusyu’ dan penuh harap.
4⃣ Mencari ridho Allah dengan banyak berbuat kebaikan di dunia, termasuk banyak bershadaqah.
5⃣ Bertawakkal kepada-Nya setelah berusaha dengan sungguh-sungguh.
Dalam berdoa pergunakan waktu-waktu yang baik, misalnya adalah saat selesai shalat dan pada sepertiga malam yang terakhir sehabis menjalankan shalat tahajud. Sepertiga malam yang terakhir adalah waktu yang paling baik untuk berdoa.
Kepada orang tua kita harus:
1⃣ Mencari ridho mereka. Artinya, kita tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan orang tua marah, murka dan mengata-ngatai (mengutuk) kita dengan kata-kata yang buruk. Ingat kata-kata yang terucap dari mulut kedua orang tua kita (terlebih ibu) kepada kita dianggap oleh Allah sebagai sebuah permintaan dan sangat mudah untuk dikabulkan oleh Allah. Maka kita harus selalu melakukan hal-hal positif yang dapat menyebabkan orang tua bangga, bahagia dan ridho kepada kita.
Ridho orang tua dapat diperoleh dengan:
🔹 Berbuat baik kepada keduanya.
🔹 Menghindari kedurhakaan kepada keduanya.
🔹 Segera mohon maaf atas kesalahan kita serta mohon dido’akan.
Kata-kata orang tua (khususnya ibu) untuk anak-anaknya dianggap oleh Allah sebagai doa dan sangat makbul (mudah dikabulkan oleh Allah).
“Ridho Allah tergantung kepada ridho kedua orang tua dan murka Allah juga tergantung kepada murka kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi)
Kepada guru kita harus:
1⃣ Menghormati dan menghargainya.
2⃣ Mengerjakan tugas yang diberikan.
3⃣ Menjadikannya sebagai guru, di dalam maupun di luar sekolah.
4⃣ Segera meminta maaf atas kesalahan yang kita perbuat.
---
Peran diri sendiri
Siswa juga memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan UN. Hal-hal yang dirasa perlu untuk dikerjakan demi sukses dalam ujian nasional (UN) adalah antara lain:
🔹 Kerja keras.
🔹 Sungguh-sungguh.
🔹 Pantang menyerah.
🔹 Menentukan target.
🔹 Tidak mudah mengeluh.
🔹 Menghindari kemalasan.
🔹 Senantiasa berdo’a.
Dalam sebuah pepatah Arab dikatakan :
مَنْ جَدَّ وَجَدَ
“Siapa yang giat, sungguh-sungguh (kerja keras dan cerdas) dia yang dapat.”
Demikian tips Islami bagaimana sukses UN tahun ini, semoga bemanfaat bagi semuanya :)
Sumber: misbahulmunirsetiawan.blogspot.com
Mari sebarkan pesan bermanfaat ini 😊
---
📚 Departemen Tarbiyah Dakwah dan Humas Rohis Daarul Mu'allimin 📚
📷 IG: @rohisdm_cbn
🌎 Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.co.id/
#RDM17 #SahabatBermanfaat #AyoMentoring #AyoIkutRohis
Pesta Tahun Baru, Pesta Jahiliyah
Minggu, 07 Februari 2016
Posted by ROHIS - SMKN 1 CIBINONG
Tag :
Artikel,
baru,
Buletin,
Dept. Humas,
Dept. Tarbiyah Dakwah,
El-Marjan,
jahiliyah,
pesta,
tahun
Pesta Tahun Baru, Pesta Jahiliyah
(Buletin El-Marjan [Edisi. 11/Th. II)
Oleh: O. Solihin [gaulislam.com]
Nuansa
perayaan tahun baru sudah mulai terasa seminggu
bahkan dua minggu sebelum tahun baru kemarin. Tradisi tahunan ini selalu
menjadi perhatian banyak kalangan, termasuk remaja. Sebenarnya pergantian waktu
itu sudah biasa kita alami, tetapi manusia kadang suka menggunakan ukuran waktu
tertentu untuk membuatnya menjadi spesial. Baik spesial harinya, maupun spesial
dalam merayakannya. Momen pergantian tahun sama saja dengan momen pergantian
waktu setiap hari. Adanya hari Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan
Sabtu (ini semua serapan dari kata bahasa Arab) adalah nama-nama hari yang
selalu kita lewatkan sepanjang waktu. Jadi sebenarnya tak ada yang begitu
spesial dalam urusan ini (dirayakan). Namun dalam pandangan Islam, waktu itu
sangat spesial dilihat dari pemanfaatannya dan nilai ibadah. Orang yang tak
pandai memanfaatkan waktu, bakalan rugi di kemudian hari karena jatah umurnya
kian berkurang. Iya dong. Rugi banget jika selama hidup kita hanya diisi dengan
maksiat sampai akhir hayat. Padahal, untuk bekal di akhirat kita membutuhkan
amal shalih.
Sobat
El Marjan rahimakumullah. Tema untuk mengkritisi tahun baru seperti ini sudah
berulang kali dibahas. Insya Allah para pecinta dakwah nggak bakalan bosan ngingetin
manusia yang nggak bosan berbuat maksiat. Selama hayat masih dikandung badan,
dakwah akan terus digelorakan. Jika bukan karena ingin menggapai ridho Allah
Ta’ala untuk menyelamatkan manusia lainnya dari keburukan dan kemungkaran,
untuk apa capek-capek ngingetin manusia yang lupa diri dan bangga berbuat
maksiat. Jadi, jika EL Marjan kini mengangkat tema ini dan saya yakin banyak
kaum muslimin yang paham juga mengangkat tema sejenis akhir-akhir ini—maka itu
bagian dari kepedulian dan cinta kepada kamu semua. Jangankan bagi kamu yang
masih polos dan suka ikut-ikutan dalam berbuat, bagi mereka yang udah mulai
suka ngaji pun kadang kepeleset juga dalam urusan ini. Itu sebabnya, tetap
harus hati-hati bin waspada.
Mengapa
tak boleh rayakan tahun baru?
Sebagai muslim, kita
wajib menjadikan akidah dan syariat Islam sebagai ukuran dan rujukan dalam
setiap pendapat dan perbuatan kita sehari-hari. Muslim yang beriman tentunya
memiliki perhatian khusus terhadap Islam. Mungkin di antara kamu ada yang
bilang, “Kan cuma merayakan biasa aja sama seperti acara lainnya, apanya yang
salah?” Ya, alasan itu bisa dijawab begini: “Kan cuma pergantian waktu seperti
pada umumnya, kenapa harus dirayakan—bahkan dengan hal-hal yang bernuansa
maksiat. Jelas itu kesalahannya.”
Sobat El Marjan,
perayaan tahun baru masehi bukanlah warisan ajaran Islam. Selama ini, kaum
muslimin generasi terdahulu hingga sekarang yang paham tentang Islam hanya
mengetahui dan meyakini bahwa hari raya dalam Islam hanya dua, yakni ‘Idul Adha
dan ‘Idul Fithri. Anas bin Malik mengatakan, “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari
(hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika
itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau
mengatakan, “Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya.
Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu
hari Idul Fithri dan Idul Adha” (HR an-Nasa’i No. 1556)
Nah, karena perayaan
tahun baru bukanlah ajaran Islam, maka kaum muslimin yang merayakannya dianggap
tasyabbuh (menyerupai atau meniru-niru orang kafir) dalam budaya mereka.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia
termasuk bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)
Menyerupai orang
kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan
(termasuk budaya dan pendapat-pendapat mereka tentang kehidupan). Tasyabbuh di
sini diharamkan berdasarkan dalil al-Quran, as-Sunnah dan kesepakatan para
ulama (ijma’).
Dari
Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,“Sungguh
kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal
dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke
lubang dhob, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para
sahabat) berkata, “Wahai
Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?”
Beliau menjawab, “Lantas
siapa lagi?” (HR Muslim, No. 2669)
Nah,
di sisi lain, perayaan tahun baru juga bermasalah. Coba aja lihat deh, mereka
yang merayakan tahun baru itu rela begadang, menyia-nyiakan waktu, dan bahkan
rawan perbuatan maksiat lainnya seperti perzinahan. Orang yang merayakan tahun
baru tak sekadar yang turun ke jalan lalu meniup terompet dan menyulut kembang
api, tetapi ada juga yang demi merayakan tahun baru malah berzina dengan
pacarnya di tempat-tempat tertentu. Seolah, tahun baru menjadi momen spesial
bagi mereka. Tetapi sayangnya, yang dianggap spesial itu justru dalam berbuat
maksiat.
Manfaatkan
waktumu
Ya,
waktu ibarat pedang. Setiap detik ia memenggal kesempatan kita, tanpa kenal
kompromi. Kejam, kita rasa memang
demikian. Tapi alangkah lebih kejamnya lagi apabila kita tidak memanfaatkannya
untuk kebaikan. Itu namanya kita menzalimi diri kita sendiri. Sebab, ini
persoalan bagaimana kita mengatur waktu yang terbatas yang diberikan oleh Allah
Swt. Jangan sampai kita gunakan untuk hal-hal yang nggak ada manfaatnya.
Terbatas? Memang
demikian faktanya, kawan. Andai saja usia kita di dunia ini 60 tahun. Maka
itulah batas hidup kita di dunia ini. Ukuran panjang dan pendek, adalah
hitungan logika kita, tapi tetap pada hakikatnya itu terbatas. Jadi, jangan
sia-siakan waktumu.
Sobat El Marjan.
Sebagai manusia, kita emang terbatas dan nggak sempurna. Itu sebabnya, kita
jangan sampe melupakan siapa kita dan misi keberadaan kita di dunia ini. Ini
wajib kita pahami betul, sobat. Kalau nggak? Wah, bisa kacau-beliau tuh. Coba
aja perhatiin orang yang nggak sadar siapa dirinya dan misi adanya dia dunia
ini, hidupnya suka semau gue. Seakan hidup nggak kenal waktu. Bahkan bagi orang
yang kehidupannya diberikan kebahagiaan berlebih oleh Allah, suka lupa dan
merasa ia akan hidup selamanya di dunia ini. Apalagi bila kita menjalaninya
dengan serba mudah dan indah. Nikmat memang. Namun, sebetulnya kita sedang
digiring ke arah tipu daya yang bakal menyesatkan kita bila kita tak
segera menyadarinya. Rasulullah saw bersabda: “Ada dua nikmat, dimana
manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” (HR
Bukhari)
Dr Yusuf Qardhawi
dalam kitabnya, al-Waktu fii Hayaatil Muslim berwejang, “bila orang melewati satu hari dalam hidupnya
tanpa ada suatu hak yang ia tunaikan atau suatu fardhu yang ia lakukan, atau
kemuliaan yang ia wariskan, atau pujian yang ia hasilkan, atau kebaikan yang ia
tanamkan, atau ilmu yang ia dapatkan, maka sungguh-sungguh ia telah menganiaya
dirinya sendiri.”
Belum lagi bahaya
yang bakal kita terima saat kita menyia-nyiakan waktu. Paling nggak ada tiga
akibat; kekosongan akal, kekosongan hati, dan kekosongan jiwa. Kalo begitu,
kita nggak ada bedanya sama “teman-teman” di Ragunan. Ih, amit-amit ya? Jangan
sampe deh.
Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya
binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang
pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.” (QS al-Anfâl [8]: 22)
Begitu pentingnya
akal ini, hingga Umar bin Khattab radhiallaahu ‘anhu pernah mengatakan, “Pokok dasar seseorang adalah akalnya,
keluhurannya adalah agamanya, dan harga dirinya adalah akhlaknya.” Tuh,
catet ya!
Ali bin Abi Thalib ra
juga pernah berwasiat kepada putranya, Hasan dan Husein, sesaat sebelum
meninggal dunia: “Sesungguhnya kekayaan
yang paling tinggi nilainya adalah akal pikiran. Kemelaratan yang paling parah
adalah kebodohan.”
Yang kedua tentang
hati. Kata Imam al-Ghazaliy, “hati itu
ibarat cermin. Kalo nggak pernah dibersihkan, maka akan berkarat oleh debu. Itu
sebabnya, bila kita tidak memanfaatkan waktu untuk mengingat Allah, untuk hadir
di majelis-majelis dzikir, hati kita akan kosong. Ujungnya, kita mudah resah,
putus asa, frustrasi dan sejenisnya.”
Menyia-nyiakan waktu
juga bisa berakibat kosongnya jiwa kita. Sayyid Qutb memberi gambaran: “Itulah jiwa yang kosong, yang tidak pernah
mengenal makna serius. Ia bersikap santai meski menghadapi bahaya yang
mengintai. Ia bercanda ria di saat membutuhkan keseriusan dan senantiasa
meremehkan permasalahan yang suci dan sakral. Jiwa yang kosong dari sikap yang
serius dan penuh kesucian, akan meremehkan setiap persoalan yang menyelimutinya,
mengalami kegersangan jiwa dan dekadensi moral.”
Tuh, buktinya
sekarang. Ketika banyak orang ngasih nasihat agar jangan merayakan tahun baru,
ternyata banyak juga yang tak mempedulikannya. Tak lagi dianggap sebagai bentuk
peringatan, malah dilecehkan.
Kalo kamu mulai menyia-nyiakan waktumu, maka itu artinya kamu sudah mengarahkan langkah kamu ke dalam jurang kehancuran. Kosong akal, kosong hati, dan kosong jiwa. Kalo udah begitu, alamat kehidupan ini terasa garing dan nggak bermakna. Padahal, kehidupan di dunia ini cuma sesaat dan amat semu. Jadi, mulai sekarang dewasalah Sobat. -Nggak usah ikut-ikutan merayakan tahun baru lagi, nggak ada manfaatnya. Sebaliknya hal itu justru membawa mafsadat (kerusakan) bagi akidah kita, juga kepribadian kita. Hindari dan jauhi pesta jahiliyah tersebut. Ok? Sip!
Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn
Temanku Membawaku ke Syurga
(Buletin El-Marjan [Edisi. 09/Th. II)
Oleh: Abid Ramadhan [RDM13]
Alhamdulillaah.. Buletin El Marjan terbit lagi.
Minggu kemarin buletin El Marjan membahas tentang ‘Move On’, bagaimana bangkit
dari kegalauan yang mengoncang diri -wow- yang cara caranya disebutkan :
Mengingat Allah
, Mengikuti Majelis Ilmu , Ikut Organisasi ,
Membaca buku yang memotivasi dan menemukan hobby yang positif. Wihh dah hebat
deh tuh cara cara nya, caranya yaa yang hebat. Hehe. Kita? Ya tinggal Take
Action nya aja dari cara cara yang hebat ntu, ya masa cuma dibaca sihh. Kalau
hanya dibaca mah yaa nempel di kepala paling juga gak lama ya gak? Tapi kalau
dah Take Action, InshaAllah amalnya tercatat dalam catatan amal baik oleh
Malaikat pencatat, yang catatannya permanen hingga hari Akhir. Semoga catatan
Amal kebaikan Kita lebih banyak dari catatan keburukan kita ya sobat. Aamiin..
Judul buletin edisi 9 ini, “Teman membawaku ke syurga” . Yap, pembahasan dalam buletin El
Marjan kali ini bertema “Teman”. Penulis ambil tema ini karena prihatin dengan
kondisi pemuda pemudi sekarang yang makin lama makin bikin pemanasan global
makin menjadi. Lho? Bagaimana bisa?. Ya, bisa, dengan keburukan keburukan yang
dibagikan atau diajarkan merata ke generasi generasi penerus sudah seperti
pembagian sembako, pada ngantri tuh generasi generasi baru karena ter iming
imingi oleh kesenangan. Sobat pasti juga merasakan. Ya, karena ini terjadi
tidak jauh dari kita, ini terjadi dekaat dengan kita, ini terjadi dilingkungan
kita hidup dilingkungan kita melakukan aktivitas aktivitas sehari hari.
Keburukan keburukan yang terjadi akibat hasutan teman ajakan teman
terkontaminasi oleh teman ikut ikutan dengan teman dsb yang berawal dari teman
dan menambah dosa yang sama saja menambah dunia jadi panas, yea gak?. Sobat,
Baginda Rasulullah memberikan perumpamaan, “Sesungguhnya perumpamaan teman
yang baik (shalih/shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak
wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan
mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau membeli darinya atau engkau hanya
akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan
membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap”. (Riwayat
Bukhari, kitab Buyuu’, Fathul Bari 4/323 dan Muslim kitab Albir 4/2026)
Mari
kita memilah & memilih dalam berteman (bukan pilih-pilih). Seperti apakah
teman yang baik?
Sebelumnya,
apasih yang sobat pikirkan mengenai teman? Apasih teman itu? Apasih perananya
dikehidupan kita? Sekedar seorang yang bisa menghabiskan waktu bersamakah?
Menghabiskan waktu bersama untuk bersenang senang? Ayoo Kita pikirkan lagi.
Peranan teman sebenarnya lebih dari sekedar berbagai sudut pandang yang
dangkal. Tahukah? Teman dapat membawa kita ke syurga? Ya, teman dapat membawa
kita ke Syurga, apabila teman Kita bukanlah teman yang sekedar seorang yang
menghabiskan waktu bersama, bukan sekedar yang dapat bermain bersama, tetapi
teman yang dapat menjadikan Kita bersemangat dan atau membantu kita melakoni
amalan amalan yang dapat memicu syurgaNYA.
“Seseorang
tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah
teman dekatnya.”
(HR. Ahmad)
Makna
hadist di atas adalah seseorang akan berbicara dan berperilaku seperti
kebiasaan temannya. Karena itu Rasulullah
mengingatkan agar kita cermat dalam memilih
teman. Kita harus kenali tabiatnya, akhlaknya. Bila ia Shalih, ya jadikanlah ia
teman kita.
Nah
dari situ, kira kira seperti apa ya kriteria teman yang baik itu? Ada tuh
disitu jawabannya.. “Yang shalih!” Yapp betul.. Dengan berteman dengan orang
yang shalih, kita akan kecripatan keshalihannya juga, InshaAllah. Bukalah pintu
hati kita, supaya sifat
sifat baik dapat kita terima dan menjadi sifat kita.
Orang
yang shalih senantiasa senang mendapatkan teman. Orang shalih senang bila temannya
bertambah karena merasa menambah pula orang yang akan mengingati nya apabila ia
berbuat salah. Dan juga sebagai pengamalan Surat Al ‘Ashr yang berbunyi “Demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saling menasihati untuk
kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Qs. Al ‘Ashr[103]:1-3)
Orang yang shalih akan mencintaimu
karena Allah, Ia tidak akan mengharapkan keuntungan dari mu. Karena, hanya
ridho Allah lah yang ia inginkan. Ia senantiasa akan membawa mu ke Syurga
karena-NYA. Dengan pancaran cahaya kebaikan kebaikan yang ia kerjakan yang akan
menerangi kita hingga kita pun akan terbawa untuk ikut menjadi terang seperti
dirinya. Laksana pembawa minyak wangi, ia mencipratkan minyak wanginya kepada
kita, hingga wangi pula lah diri kita sepertinya. Dan tahukah? Orang yang
saling mencintai karena Allah, akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari
dimana tidak ada naungan kecuali naungan-NYA.
Rasulullah
bersabda :
“Sesungguhnya pada hari kiamat Allah berseru,
“Dimana orang-orang yang saling mencintai karena keagunganKU? Hari ini Aku
berikan baginya naungan di hari tidak ada lagi naungan selain naungan-KU”” (HR. Muslim)
Orang
shalih senantiasa akan menyebabkan hati kita nyaman, tenang, tentram apabila
kita di dekatnya. Apakah ia menyebarkan kesejukan yang menghilangkan gerah
seperti air conditioner? Ohh, bukan begitu. Tapi begini,. Ia senantiasa
mengingatkan kita kepada Allah dengan ucapan ucapan baik yang keluar dari
mulutnya atau dengan perilakunya atau bahkan hanya dengan bersamanya dengan
melihat wajahnya yang seolah olah memancarkan cahaya ilahi dan merasuk kedalam
qolbu kita dan mengingatkan kita kepada Allah selalu. Yang mana, hanya dengan
mengingat Allah lah hati kita akan nyaman tenang tentram.
“Orang-orang
beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya
dengan mengingat Allah-lah hati akan menjadi tentram” (Qs.Al Ra’d[13]:28)
Syafa’at dari teman yang shalih. Diriwayatkan, bahwa
Apabila penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan
Sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di Dunia, mereka
bertanya tentang Sahabat Mereka kepada Allah.
“Yaa
Rabb.. Kami tidak melihat Sahabat-sahabat kami yang sewaktu di Dunia Shalat
bersama kami, Puasa bersama kami dan berjuang bersama kami,”
Maka Allah
berfirman: “Pergilah ke neraka, lalu
keluarkan Sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar dzarrah.” (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab “Az-Zuhd”)
Imam besar Al-Hasan
Al-Bashri berkata, “Perbanyaklah Sahabat-sahabat
Mu’min-mu, karena Mereka memiliki Syafa’at pada hari kiamat.”
Sobat,
mari kita perbanyak teman kita. Namun, bukan teman sembarang teman. Bukan
seberapa banyak teman kita yang penting. Yang paling penting dalam berteman
ialah, seperti apa kualitas teman yang kita
miliki? seberapa banyak teman kita yang shalih? apakah perubahan diri kita
setelah memiliki teman.?
Ulangi
sedikit. Bila ingin perubahan baik, maka bertemanlah dengan orang yang baik (shalih)
yang membawa kita ke Syurga-NYA, dan janganlah berteman dengan teman yang buruk
yang malah akan menjatuhkan kita ke Neraka.
Teman yang buruk, ialah teman yang bukan
mendekatkan kita kepada Allah, tetapi malah menjauhkan kita dari Allah. Yang
membutakan kita dari tujuan hidup kita sebenarnya dengan menghabiskan waktu
dalam kesenangan yang sia sia. Yang seperti inilah yang akan menjatuhkan kita
ke Neraka. Sobat, mari kita renungkan pertemanan kita.
“Teman seperti
apakah yang buruk?”
Imam Ali
menjawab:
“Orang yang menampilkan maksiat dengan penampilan yang indah.” Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqih, jil. 4, hal.
381.
Teman yang buruk akan melalaikanmu dengan kesenangan,
membuat menghabiskan waktu untuk hal yang sia sia, menyepelekan hal hal kecil,
menghasutmu untuk melakukan perbuatan perbuatan keji kecil bahkan yang besar
dengan menjanjikan kesenangan kesenangan yang fana. Sungguh teman yang seperti
itu hanya akan menjadikan diri kita merugi, dan lebih baik bila kita memiliki
musuh namun menjadikan diri kita dekat kepada Allah.
“Jika ada musuh yang mendekatkanmu kepada Allah, maka hal itu lebih baik
dari pada teman akrab yang menjauhkanmu dari Allah.” (Abul
Hasan as-Sadzili)
Sobat, Berhati-hati lah dalam memilih teman. Jangan
sampai kita terhasut oleh teman kita sendiri untuk melakukan keburukan
keburukan dan Allah menghukum kita dengan menjadikan diri kita lupa diri kita
sendiri.
Seperti ucapan
seorang Syaikh Al Qur’an terkenal asal Mesir :
“Hukuman paling berat atas
seseorang adalah bila Allah
menjadikan ia lupa pada dirinya sendiri. Sebab
bila seseorang lupa pada dirinya sendiri, maka ia akan terjerumus pada
kenistaan, tapi ia merasa telah melakukan kebaikan.” (Muhammad Ar Rawi)
Baarakallah.
Semoga
Bermanfaat.Buletin Dakwah EL-MARJAN
Penerbit: Rohis Daarul Mu’allimin - SMK Negeri 1 Cibinong
Redaksi: Departement Tarbiyah Dakwah & Humas
Layout: Agung Wibisono
Editor: Abid Ramadhan
Distributor: Departement Humas & DKM
Kritik & Saran: 085710389886
Blog: rohis-smkn1cibinong.blogspot.com
Email:rohissmknsatucib@gmail.com
Twitter: @RohisDM_cbn